Monday, October 6, 2008

Mereka Yang Berjasa I



TERIMA KASIH

Cibinong, Ramadhan 28/09/2008

Kalau saat ini saya diminta untuk mengucapkan kata terima kasih, selain kepada orang tua tentunya, saya akan mengucapkan kata terima kasih kepada orang-orang yang sangat berjasa telah mendidik sejak SD hingga saat ini. Kata terima kasih untuk guru-guru yang telah mendidik saya sejak SD hingga SMEA. Bagi saya guru adalah orang yang sangat berjasa hingga saya menjadi seperti sekarang ini. Mereka selain sebagai pendidik, juga menjadi sumber inspirasi dan motivator buat saya.
Kalau saya akan uraikan mereka adalah; Ibu Sri Budiyarti (Guru SDN Pejaten 23 Pagi), Bapak M. Nuh (Wali Kelas III Ak 1/Guru Akuntansi di SMEA Negeri 4 Pejaten), Bapak Gunawan (Guru Bahasa Indonesia di SMEA Negeri 4 Pejaten), Ibu Khairita (Guru Matematika di SMEA Negeri 4 Pejaten), Ustadz Ali Muhammad (Guru Agama di SMEA Negeri 4 Pejaten). Sekarang SMEA 4 berubah namanya menjadi SMK Negeri 8 Jakarta.

Ibu Sri Budiyarti (Guru SDN Pejaten 23 Pagi)
Waktu SD dahulu semangat belajar saya sangat tinggi. Saingan saya satu-satunya adalah teman saya Gatot Himawan yang selalu bertengger di rangking I. Saya, Wahyu Budi Hartono, dan Fitriah, terpaksa harus gantian di posisi II dan III. Waktu itu belum umum Bimbingan Belajar (Bimbel). Untuk menghadapi ujian biasanya kami harus membentuk kelompok belajar. Tempatnya bergantian, kadang di rumah saya, Gatot, Wahyu atau Asep Septiadi. Pindah ke SDN 23 Pagi Pejaten, dimulai sejak kelas III. Sebelumnya kami sekolah di SDN Pejaten 01 Pagi. Karena ada program SD Inpres, dibukalah sekolah baru. Makanya sekolah kami sering disebut dengan nama SD Inpres. Letaknya di pinggir kali Ciliwung, bersebelahan dengan kompleks Rumah Masa Depan (Kober). Sekolah baru, guru-guru juga baru. Ibu Sri, menjadi wali kelas kami di kelas IV sampai kelas VI (maaf kalau salah). Waktu itu saingan sekolah kami adalah SDN Pejaten 01 Pagi, mereka sudah mapan dan merupakan salah satu sekolah tertua di Pasar Minggu. Untuk menyaingi mereka, kami belajar sangat giat agar nilai EBTANAS nanti menjadi yang tertinggi. Ibu Sri, yang waktu itu masih gadis, memberikan les tambahan di rumahnya di kompleks POMAD Kalibata. Setahu saya les tambahan ini gratis, dan kami kadang mendapat fasilitas minuman, sirup. Mulai dari matematika, bahasa Indonesia, IPA, IPS dan mata pelajaran lainnya di ajarkan di rumahnya, oleh Ibu Sri. Saya membandingkannya dengan anak saya sekarang, untuk memperoleh les tambahan, seiap mata pelajaran dikenakan tarif tertentu.
Waktu itu saya sangat kagum dengan Ibu Guru saya ini. Masih gadis, hitam manis, dan cantik pula. Kami senang sekali. Bayangkan, setiap mau les di rumahnya, kami harus berjalan kaki pulang pergi dari rumah kami ke Kalibata. Siang hari dan panas, Puhhhh.. tapi sih senang-senang saja.
Waktu itu kami tidak menyadari pengorbanan yang diberikan oleh guru kami itu. Luar biasa, tanpa imbalan apapun, asalkan kami bisa melewati ujian dengan nilai bagus. Inilah profil guru dan motivator kami. Terima kasih ya Bu, saya dan teman-teman mungkin belum sempat mengucapkannya waktu itu.
Saya mendapat kabar teman-teman les saya sudah berhasil, Asep bekerja di Bank Mandiri sebagai programmer. Belum lama, saya bertemu dengan Gatot bersama istrinya yang tengah hamil, ketika sama-sama parkir mobil di Kalibata Mal.

Bapak M. Nuh (Wali Kelas III Ak 1/Guru Akuntansi di SMEA Negeri 4 Pejaten)
Masa-masa SMA adalah masa yang indah. Selain belajar, saat itu saya sudah mengenal pacaran. Tapi sekolah tetap nomor satu. Pacaran oke tapi belajar juga tekun. Waktu sekolah di SMEA Negeri 4 Pejaten, saya diajar oleh seorang guru, masih muda, kurus tinggi, dan jagoan Volly. Namanya Muhammad Nuh, katanya sih orang Betawi asli. Pak Nuh, kami memanggillnya demikian, mengajar mata pelajaran Akuntansi.
Pernah suatu hari beliau mengucapkan sebuah kalimat yang menjadi inspirasi bagi saya.
“Kalian dan saya, itu sama saja masalah Akuntansi [dalam pelajaran Akuntansi], sama-sama baru belajar”
“Bedanya, saya sudah baca [materi yang akan diajarkan] tadi malam, sedangkan kalian belum”
“Jadi, beda saya dengan kalian itu [dalam mata pelajaran Akuntansi] hanya semalam”.
Kalimat yang diucapkan inilah yang menjadi sumber inspirasi buat saya untuk terus belajar. Sangat luar biasa. Entah bagi teman-teman yang lain saya kurang tahu.
Pernah suatu ketika, saya dan teman-teman nongkrong di bawah pohon Mangga di depan sekolah. Beliau ikut pula nimbrung mengobrol. Mungkin karena masih muda, waktu itu, dan masih senang nongkrong. Beliau semabil bercanda bilang “Sepuluh tahun lagi, kalian semua bakal jadi orang sukses, sudah naik mobil dan berdasi. Sementara saya, akan sama saja seperti sekarang ini” katanya. Kami semua hanya tertawa-tawa saja mendengarnya, ah, Bapak bercanda, gurau kami saat itu.
Kalimat itu terucap tahun 1992 ketika kami masih duduk di kelas III SMEA. Pada tahun 2002, saya mengantarkan istri saya untuk ujian tertulis pegawai negeri di Departemen Kelautan dan Perikanan, yang di adakan di Kompleks AUP, Pasarminggu. Entah bagaimana, sambil menunggu istri yang sedang ujian, saya mengajak sopir untuk melihat sekolah SMEA 4. Setelah berputar-putar di luar, iseng-iseng saya masuk ke lingkungan sekolah. Saya turun untuk melihat-lihat. Ternyata sekolah saya sudah berubah namanya menjadi SMK Negeri 8, dan tambah asri. Ketika masuk ke lobby sekolah, saya menanyakan apakah guru-guru saya masih mengajar. Akhirnya, satu per satu mereka mengenali saya dan mulailah kami ngobrol. Rupanya masih banyak yang masih mengajar. Akhirnya saya bertemu juga dengan Pak Nuh, bukan main senangnya beliau melihat kedatangan saya. Setelah saya rasa sudah lama meninggalkan istri, akhirnya saya pamit. Untuk menjaga silaturahmi saya menanyakan nomor telepon seluler kepada Pak Nuh. Dengan malu-malu dijawabnya bahwa beliau tidak memiliki Handphone. Aduh, maaf Pak, saya malu jadinya. Masya Allah, setelah saya ingat lagi, rupanya ini waktu sepuluh tahun sejak Pak Nuh mengucapkan kata-katanya di bawah pohon Mangga dahulu. Luar biasa, seorang Pak Nuh, sangat bersahaja dan sederhana. Terima kasih Pak, andalah sumber inspirasi buat saya. Salam hormat dari saya untuk Bapak dan keluarga.

1 comment:

akhwat fillah said...

Sedih baca kisanya sama Pak Nuh >,<

National Geographic POD