Thursday, December 3, 2009

Danau Dora

Cibinong, Desember 2009

Sudah beberapa hari diakhir pekan kami bermain di danau yang berlokasi di Bogor Ecologycal Park. Lokasinya di lingkungan LIPI Cibinong. Danaunya tidak terlalu besar namun saat ini sudah mulai tertata rapih. Pengunjung yang datang masih terbatas dari warga Cibinong dan sekitarnya. Maklum lokasinya belum masuk dalam daerah potensi wisata pemda Kabupaten Bogor. Menurut petugas keamanan di sana, nantinya lokasi ini menjadi bagian dari Kebun Raya Bogor yang difungsikan sebagai lokasi konservasi dan suaka alam. Begitulah pesan yang dapat saya tangkap dari keterangan petugas keamanan di sana.

Awalnya datang kesana hanya ingin jalan-jalan bersama anak-anak sambil menikmati udara pagi. Setelah di sana ternyata cukup menarik juga buat saya. Karena danaunya masih dibiarkan alami hanya saja kurang pohon peneduh sehingga terasa panas. Mudah-mudahan ke depannya akan dikelola lebih baik lagi.

Dalam beberapa kunjungan ke danau tersebut saya selalu membawa berbagai jenis ikan untuk dilepas. Sebelumnya saya penasaran dengan jenis ikan tertentu. Ketika kami kecil, ikan tersebut sering kami juluki 'ikan kepala timah'. Nama tersebut karena di kepala ikan tersebut ada warna silver yang membedakannya dari ikan lainnya. Saya penasaran untuk membiakkan ikan tersebut di kolam kami. Sayangnya ikan yang kami tangkapi selalu mati dalam perjalanan. Jenis ikan lain yang membuat saya sedikit suprise adalah 'ikan cupang sawah' (Betta Splendens). Ternyata spesies ikan ini cukup banyak di danau tersebut. Karenanya dalam suatu kunjungan sengaja saya membeli ikan cupang jenis cupang siam yang memiliki sirip yang indah. Mudah-mudahan akan terjadi perkawinan secara alami dengan ikan cupang lokal tersebut.

Rencananya akhir pekan depan saya akan melepas beberapa ikan jenis gurami (ikan sepat) dari berbagai jenis. Sehingga variasi ikan di danau tersebut akan semakin banyak. Ikan yang sudah dilepas di danau tersebut diantaranya, sepasang lele albino, ikan mas, ikan koi, ikan cupang, dan ikan guppy sirip berwarna. Mudah-mudahan ikan-ikan tersebut dapat berkembang biak dan semakin banyak.

Wednesday, December 2, 2009

Kisruh ....

Jakarta, 03 Desember 2009

Berita akhir-akhir ini adalah tentang pelaksanaan rekomendasi dari tim delapan dan usulan hak angket oleh DPR. Setiap hari semua media massa mengupas masalah ini, ada yang pro dan ada yang kontra. Inilah alam demokrasi dimana semua bebas mengeluarkan pendapat. Pihak yang pro status quo demikian gencar mempertahankan diri merasa sudah benar. Sedangkan Pihak lain yang kontra dengan gigih memperjuangkan pendapatnya, yang katanya atas nama rakyat. Ratusan orang mulai dari mahasiswa hingga rakyat miskin turun (diturunkan) ke jalan untuk demonstrasi. Seolah-olah semua rakyat sepakat dengan pendapatnya dan dengan lantang berkata bahwa 'suara rakyat adalah suara tuhan'.

Awalnya kasus ini sangat menarik, seorang direktur dibunuh oleh segerombolan preman. Setelah dilakukan penyelidikan akhirnya terungkap kasus Antasari Ashar. Terlepas dari rekayasa atau tidak yang paling penting bagi saya adalah yang bersalah harus dihukum. Siapa yang bersalah ? Jawabannya adalah tunggu saja proses pengadilan selesai.

Tambah kemari kasusnya semakin membesar dan menyeret nama-nama lain. Bahkan kasus awalnya sudah hampir dilupakan. Ujung-ujungnya jadi pertarungan politik. Nggak jelas tokoh-tokoh kita ini. Setiap celah untuk menjatuhkan lawan politik langsung ditangkap dan dijadikan komoditas. Tinggal rakyatnya jadi ikut-ikutan ribut dan bikin keruh masalahnya.

Kasihan pemerintahan kita sekarang. Waktunya untuk bekerja seakan-akan 'direcoki' oleh hal-hal dan orang-orang yang mencari kesempatan dan popularitas. Terus terang lama kelamaan jadi malas juga ngikutin beritanya. Semua orang ikut bicara. Orang yang nggak penting aja diajak bicara. Tokoh-tokoh oportunis bermunculan.

Semoga SBY mampu mengatasi ini semua dan kembali ngurusin rakyatnya.

Sunday, November 29, 2009

Barcelona VS Real Madrid




Senin, 30 November 2009

Tumben-tumbenan (bahasa Betawi yang artinya jarang sekali) saya begadang untuk menonton pertandingan sepakbola. Padahal esoknya hari Senin, hari yang lalu lintasnya bikin mules. Akibat termakan iklan dan pemberitaan tentang bagaimana hebatnya pertandingan nanti malam, akhirnya dibela-belain ikut nonton juga.

Saya tidak termasuk dalam katagori orang yang senang sepakbola. Moment yang saya senangi hanya piala dunia dan Liga Champion. Selebihnya dengar saja dari teman-teman. Oleh karena itu tidak ada kapasitas saya untuk ikut-ikutan menilai sebuah pertandingan sepakbola. Apalagi sekelas El Real dan Barca ! Nggak berani ah....

Tapi setelah menonton sekitar tiga perempat pertandingan semalam (sepertiganya saya tertidur), saya jadi kecewa dengan nama besar Real Madrid. Melihat pertandingan semalam, tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap nama besar Real Madrid, Christiano Ronaldo, dan Kaka, komentar saya hanya satu; Menyedihkan !!!

Bagaimana bisa dua orang pemain sepak bola (sekalipun yang paling jago dan paling mahal) bermain melawan sebelas pemain lawan !

Sebaliknya, salut untuk Barcelona yang menyajika permainan bagus. Inilah yang harus dilihat oleh pemilik klub Real Madrid. Mungkin si Pelatih Real Madrid belom tahu kalau permainan bola adalah permainan sebuah tim yang pemainnya berjumlah 11 orang.

27 November 2009

Cibinong, 27 November 2009

Hari ini tepat ulang tahun istriku yang ke-36, bersamaan dengan hari raya Idul Adha. Rencana awalnya kami akan merayakannya di rumah nenek di Jakarta. Namun acara mendadak berubah karena satu dan lain hal. Tiba-tiba saja Teteh di Curug ingin datang ke rumah kami. Kakak-kakak saya juga ingin datang berkunjung. Akhirnya diputuskan mendadak untuk menjamu mereka di ruma saja.

Kabar gembira datang ketika nenek Bandung telepon akan datang hari itu ke rumah kami, begitu juga nenek dan kakek Jakarta. Istriku senang sekali, saat istimewanya dihadiri semua orang-orang tercintanya. jadilah kemarin rumah kami penuh dengan semua anggota keluarga. Aki Kemal dan Ninda juga ikut datang. Wuih... rame deh. Rumah kami penuh, untungnya ada taman belakang yang dapat difungsikan sebagai tempat berkumpul.

Selamat ulang tahun ya Ma...
Semua doa dan harapan yang terbaik untukmu...

Inilah bahagianya menjadi orang yang dicintai,
Inilah indahnya mencintai dan dicintai...

We love You

Kebahagiaan di Hari Raya

Cibinong, Jumat 27 November 2009

Allahu Akbar....
Allahu Akbar....
Allahu Akbar....

Suara takbir bergema bersahut-sahutan. Hari ini merupakan hari bahagia buat kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Hari di mana sebagian umat yang mampu diuji keimanannya dengan menyerahkan simbol berupa hewan kurban. Semuanya bergembira, terutama kaum dhuafa yang menerima jatah daging kurban. Masjid-masjid penuh sesak, orang berdesakan mengantri pembagian jatah dari panitia. Ada yang kesal karena kepanasan, ada yang senang sambil merencanakan membuat sate nanti malam, dan ada yang pasrah saja karena belum kebagian kupon. Demikian potret umat Islam di Indonesia.

Ada teman yang mengkritik fenomena ini dengan mengatakan keserakahan kaum miskin untuk berlomba-lomba mengumpulkan jatah daging hewan kurban. Para calo daging diberitakan sedang menawar jatah daging kurban dari seorang anak yang terlihat menenteng kantong keresek. Sementara ada puluhan tukang becak yang memuati becaknya dengan kantong daging dari beberapa masjid. Macam-macam kejadian yang membuat kita terharu sedih, tertawa, marah, dan mungkin sedikit kesal dengan adegan tersebut.

Bagaimanapun mereka adalah saudara kita sesama muslim. Kemiskinan membuat mereka menjadi seperti itu. Antri di terik panas matahari dan berteriak-teriak. Jangan dimarahi, jangan dihina, dan jangan diacuhkan. Seharusnya kita yang mampu berkewajiban memuliakan mereka. Kalau tidak bisa setiap hari, yah... paling tidak satu hari ini saja.

Yang terbaik seharusnya mengantar jatah daging ke rumah-rumah mereka. Menyapa mereka di balik pintu rumahnya dengan senyum. Wah, mana sempat seperti itu mas ! kata temanku. Ini saja sudah repot !. Setahun sekali saja kenapa tidak. Toh hari ini kita semua libur bekerja. Kalau mau mendengarkan Gus Dur, Gitu aja kok Repot !

Mas Thukul telepon saya, ketika saya tanyakan apakah ditempatnya ada yang kurban. Dia bilang tidak ada sama sekali. Korban perasaan katanya sedih. Nggak enak juga mendengarnya. Sementara di Jakarta semua mendapat jatah daging kurban. Saking berlebihnya, orang mampu juga kebagian bahkan panitia tampak sibuk dengan kantong-kantong daging pilihannya. Aduh... nasibmu Khulll...!

Bagaimanapun juga, melihat kebahagiaan mereka membuat saya ikut bahagia. Tahun lalu saya dan istri memiliki kesempatan langka, sholat Idul Adha di Masjidil Haram. Inilah yang membuat kami sangat terharu. Semoga Allah SWT selalu mencurahkan rahmat Nya kepada semua umat muslim di muka bumi ini. Amin.

Sunday, November 1, 2009

Thukul

Yang satu ini bukannya Thukul Arwana atau Reynaldi yang di acara talkshow Bukan Empat Mata. Bukan juga Wiji Thukul yang seniman. Thukul yang ini adalah seorang petani yang tinggalnya di gunung. Jauh dari hiruk pikuk dunia selebritis dan gemerlapnya Jakarta. Hanya seorang petani.

Entah bagaimana ceritanya dipanggil Thukul kita semua juga tidak tahu. Nama sebenarnya sangat bagus, Khoiri. Khoir dalam bahasa Arab artinya baik. Mudah-mudahan seperti harapan kedua orangtuanya, selalu berbuat baik.

Masa kecilnya dilaluinya di sebuah desa di Jawa Tengah. Walaupun namanya berarti baik ternyata Thukul alias Khoiri pernah menjadi momok bagi anak-anak di desanya karena kenakalannya. Nakalnya memang hanya sebatas nakalnya anak desa yang sering berkelahi. Namun kenakalannya disebabkan karena hidupnya yang pas-pasan. Menurutnya, hanya untuk dapat jajan. Tetapi itupun tidak dengan mencuri. Biasanya ia meminta uang dari teman-temannya yang berlebihan uang jajan. Jika tidak diberi maka akan terjadi perkelahian.
Kenakalannya inipun hanya terjadi di luar rumahnya. Jika berada di rumah, Thukul adalah anak yang patuh dan rajin membantu kedua orangtuanya. Setiap hari selalu membantu kedua orangtuanya bertani. Bapaknya adalah seorang petani yang bekerja keras demi keluarganya. Temperamen bapaknya yang keras membuatnya menjadi orang yang tangguh dalam bekerja. Hingga pada suatu hari kenakalan Thukul di luar terdengar ke telinga bapaknya. Akibatnya dalam usia yang masih muda Thukul diusir oleh Bapaknya. Sementara ibunya tidak dapat berbuat apa-apa. Akhirnya Thukul remaja pergi meninggalkan keluarganya.

Pengembaraan Thukul meninggalkan keluarganya ketika usianya masih 12 tahun. Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya ia bekerja menjadi buruh di sebuah pabrik kerupuk di kotanya. Awalnya hanya membantu pekerjaan ringan. Setelah beberapa bulan bekerja akhirnya ia mulai ditugaskan menggoreng kerupuk. Pekerjaan yang berat dan penuh resiko untuk anak seusianya. Namun baginya tidak ada pilihan lain demi sesuap nasi. Tanpa terasa sudah dua tahun Thukul pergi meninggalkan keluarganya. Kepergiannya menjalani hidup menjadi buruh pabrik kerupuk tanpa sepengetahuan keluarganya. Kakak-kakaknya sudah menikah dan tinggal di Jakarta. Ketika mereka pulang kampung dan tidak mendapatkan adiknya mereka sibuk mencari keberadaanya. Sementara Bapaknya tetap keras pada pendiriannya.

Akhir petualangan Thukul muda berakhir dengan pertemuan tidak sengaja dengan salah seorang tetangga kampungnya. Informasi keberadaan Thukul akhirnya diketahui pihak keluarga. Atas permintaan ibunda tercinta akhirnya Thukul luluh dan mau kembali pulang.

Kepulangan Thukul ke rumah tidak bertahan lama. Mungkin karena sudah terbiasa mandiri akhirnya Thukul kembali pergi meninggalkan rumah. Bedanya kali ini kepergiannya atas izin kedua orangtua. Ia pergi bersama kakaknya bertransmigrasi ke Sumatra. Sebagai seorang transmigran mereka mendapatkan rumah dan lahan untuk dikelola. Kehidupan sebagai transmigran menurutnya sangat menyedihkan. Apalagi untuk pemula seperti ia dan kakaknya. Pekerjaan awalnya adalah membuka lahan seluas 3 hektar miliknya. Komoditas yang ditanampun sudah ditentukan yaitu kelapa sawit. Untuk dapat menikmati hasil panennya mereka harus menunggu selama kurang lebih lima tahun. Sementara untuk menutupi kebutuhan sehari-hari mereka harus berkebun sayuran. Kebutuhan hidup hanya pas untuk makan saja. Selebihnya mereka harus berusaha keluar masuk hutan untuk mencari sesuatu yang dapat dijualnya. Mencari rotan dan mencari pohon sagu salah satunya. Jika sudah mencari rotan mereka harus pergi ke dalam hutan selama sebulan. Selama mencari rotan keluar masuk hutan mereka hanya berbekal garam dan sekarung beras. Untuk lauknya mereka mengandalkannya dengan cara berburu binatang hutan. Menjerat binatang seperti kelinci dan burung adalah cara yang paling mudah. Bahkan mereka pernah beruntung menemukan kijang sisa buruan harimau. Untungnya masih segar dan layak dimakan. Banyak pengalaman menarik yang dijumpainya selama pergi ke hutan mencari rotan. Bertemu harimau sumatra, dikejar beruang, atau dikeroyok sekawanan beruk. Untungnya selama ini mereka selamat dan tak pernah terluka. Karena menurut cerita penduduk setempat, serangan harimau gajah beruang bahkan lebah hutan bisa sangat membahayakan.

Kehidupan yang keras di hutan membuatnya tegar. Kegiatannya bertani membuat pengetahuannya bertambah. Menanam kelapa sawit, kopi, dan sayur-sayuran pernah dijalaninya. Cara menjerat rusa, babi hutan, burung juga pernah dilakukannya. Cara menghadapi serangan beruk, beruang, dan hewan buas ia tahu. Benar-benar menarik jika dia bercerita pengalamanny selama menjadi transmigran.

Karena suatu hal Thukul kembali ke Jawa. Atas ajakan saudaranya akhirnya ia bisa masuk bekerja di kantor. Pekerjaanya adalah menjadi cleaning service merangkap office boy. Sebagai karyawan kantoran di Jakarta sempat membuatnya nyaman. Uang mudah diperolehnya tanpa resiko diterkam harimau.

Namun rasa nyaman dengan penghasilan yang lumayan tidak membuatnya betah. Mungkin karena biaya hidup yang tinggi dan lika-liku kehidupan Jakarta yang keras membuatnya berubah fikiran. Ternyata hutan Sumatra masih lebih menarik daripada belantara Jakarta.

Ketika kami menawarinya untuk mengelola lahan milik bersama serta merta dia langsung menyanggupinya. Padahal penghasilannya jauh lebih rendah. Di lokasi lahan kami juga masih sepi. Tetangga terdekatnya berjarak 3 km. Rumahnya pun hanya dari kayu dan bambu tanpa listrik. Namun jiwa petualangan dan jiwa petani yang bebas membuatnya menerima tawaran kami. Akhirnya jadilah Thukul sekarang tinggal bersama keluarganya di atas sebuah di Jonggol.

Kemarin dia berkunjung ke kantor karena suatu urusan. Badannya hitam legam terbakar matahari. Lebih sehat dari kami semuanya. Tampak sangat menikmati perannya kembali menjadi petani. Sederhana namun memiliki kebebasan.

Wednesday, October 28, 2009

Aki Pindah Rumah


Pesan kalau almarhum Aki Rois minta dipindahkan lokasi makamnya diperoleh melalui proses kerasukan adik saya. Waktu itu Amel, adik bungsu, mengeluh tidak enak badan dan minta dikerokin oleh Ibu. Ketika Ibu mulai proses mengerok tiba-tiba Amel mulai meracau dalam bahasa sunda. Padahal kami sekeluarga tahu kalau Amel tidak bisa berbahasa sunda. Ibuku dipanggilnya dengan sebutan ‘Neng’. Dalam keadaan tidak sadar tersebut Amel yang katanya kemasukan Aki, almarhum orang tua Ibu, minta kepada Ibuku sebagai anaknya untuk meminta agar rumahnya dipindahkan. Katanya rumahnya sudah mau rubuh. Aki juga mengatakan, melalui perantaraan Amel kalau anak-anaknya yang di kampung sudah diberitahu. Bahkan Aki mengabari bahwa salah seorang kakak Ibuku sedang sakit. Setelah memberitahukan pesannya akhirnya Aki pergi meninggalkan tubuh Amel.


Berikutnya sekitar bulan Juni saya dapat kabar mengenai pesan dari Aki tersebut. Kebetulan minggu berikutnya kami ada acara ke kampung untuk menghadiri pesta pernikahan seorang keponakan. Ibu memberitahukan kepada saudara-saudaranya kandungnya mengenai pesan Aki yang disampaikan lewat Amel. Ternyata pesan ini juga telah sampai melalui mimpi anaknya yang lain dan melalui komunikasi dengan sepupu saya. Akhirnya mereka semua sepakat untuk memindahkan makam Aki ke lokasi Tempat Pemakaman Umum (TPU).


Lokasi makam Aki sebelumnya hanya sendirian di tanah yang sebelumnya merupakan pekarangan rumah. Aki meninggal pada tahun 1944, jadi sudah hampir 65 tahun yang lalu. Ketika Aki meninggal dunia Ibuku yang merupakan anak bungsunya baru berusia 40 hari. Aki meninggal pada malam hari dan kondisi waktu itu hujan lebat. Karena waktu itu jaman susah dan penduduk kampung juga masih sedikit akhirnya Aki di makamkan di pekarangan rumahnya. Begitulah bagaimana suasana ketika Aki meninggal dulu. Bahkan Ibuku tidak bisa mengingat kejadian dan wajah orang tuanya,


Hari Sabtu kemarin, 03 Oktober 2009, kami berangkat kembali ke kampung di daerah Cidahu, Kabupaten Sukabumi. Kebetulan momennya pas dengan perayaan Idul Fitri jadi sekalian bersilaturahmi dengan saudara yang ada di sana. Proses pemindahan sempat terhambat karena ada salah seorang ustadz di sana yang tidak berani memimpin prosesi pemindahan makam. Mereka masih percaya dan takut akan ‘mati akal’ apabila membantu memindahkan kuburan. Ada-ada saja kepercayaan orang di kampung. Saya sempat mengatakan jika tidak ada yang mau memindahkan, biar kami saja cucunya yang memindahkannya. Alhamdulillah, akhirnya dari 5 orang ustadz yang awalnya diminta membantu ada 3 orang yang bersedia.


Lokasi makam terletak di sebuah kebun yang tanahnya agak tinggi dari tanah disekitarnya. Bahkan di bagian belakang terdapat tebing yang curam yang berbatasan dengan sungai kecil. Wajar saja Aki mengatakan kalau rumahnya sudah mau rubuh, mungkin maksudnya makam tersebut rawan sekali longsor karena musim hujan. Di depan kebun tempat Aki dimakamkan terbentang petak-petak sawah yang sedang ditanami padi dan kebun palawija. Sungguh tempat yang sangat menarik ketika rumah di atasnya masih berdiri. Sekarang di lokasi tersebut rumah Aki sudah tidak ada lagi.


Proses penggalian makam terbilang lancar karena tanahnya gembur walaupun di lokasi tersebut banyak mengandung cadas. Sebelumnya kami khawatir tidak akan menemukan tulang belulangnya karena usia makam tersebut juga sudah dangat lama. Namun setelah menggali sedalam 1,5 meter akhirnya kami menemukan tengkorak kepala dan beberapa bagian tulang yang masih utuh. Penggalian dan pengangkatan tulang-belulang semuanya dilakukan oleh cucu beliau termasuk saya dan adik-adik.


Setelah semuanya terkumpul dan dinyatakan lengkap oleh sesepuh di sana maka selesailah proses penggalian makam. Proses berikut adalah kami mengkafani dan melakukan sholat jenazah kemudian memakamkan kembali di tempat yang baru. Sekitar jam 11.00 siang barulah semuanya selesai dan kami menjadi lega.


Banyak pelajaran yang dapat kami ambil dari proses tersebut. Diantaranya adalah dengan mengingat kematian. Dengan mengingat mati maka segala amal perbuatan kita di dunia akan menjadi lebih berarti. Pelajaran berikutnya adalah bagaimana kita menunjukkan bagaimana rasa hormat dan bakti kita kepada orang tua, baik yang masih hidup ataupun yang sudah tiada. Kemudian pelajaran mengenai adab kita terhadap orang yang sudah meninggal. Mudah-mudahan semua ini ada hikmahnya dan menjadi pelajaran bagi kami anak cucunya. Semoga amal ibadah kedua orang tua kami diterima oleh Allah SWT. Amin.

Tuesday, October 27, 2009

Universalitas Musik

Sambil santai dengan segelas teh manis hangat, saya terbuai dengan lagu Jawa berjudul Terminal Tirtonadi ciptaan Didi Kempot versi Bossanova. Entah siapa yang menyanyikannya, namun mampu menghanyutkan perasaan ini. Inilah dahsyatnya sebuah lagu seharusnya. Saya yang tidak paham bahasa Jawa sekalipun mampu dibuat terbuai oleh sebuah lagu. Tanpa terasa sudah berulang kali lagu ini saya putar.

Karena lagu yang bagus menurut saya adalah lagu yang mampu mengguggah perasaan setiap pendengarnya. Kekuatan syair dan paduan musik yang tepat dapat mengajak setiap pendengarnya untuk mengingat sebuah drama. Meskipun drama itu belum pernah dialaminya atau hanya ada dalam khayalannya. Syair yang tersusun dalam kalimat sederhana akan menguatkan perasaan akan drama tersebut.

Saya mencoba mendengarkan lagu ini dalam versi aslinya campursari dan memang hasilnya sama saja. Memikat. Inilah hebatnya sebuah karya seni. Setiap orang yang mendengarnya akan dibuat terpesona dengan keindahannya. Ia akan berbicara dengan siapa saja tanpa memandang status sosial, latar belakang budaya, agama, usia bahkan zaman. Saya akan menyebut ini universalitas sebuah musik. Bravo musik Indonesia.

Berikut syair lagu tersebut :

Terminal Tirtonadi
oleh: Didi Kempot

Nalikane ing tirtonadi
Ngenteni tekane bis wayah wengi
Tanganmu tak kanthi
Kowe ngucap janji
Lungo mesti bali

Rasane ngitung nganti lali
Wis pirang taun anggonku ngenteni
Ngenteni sliramu
Neng kene tak tunggu
Nganti saelingmu

Moso rendeng wis ganti ketigo
Opo kowe ra kroso
Nek kowe esih eling lan tresno
Kudune kowe kroso

Nalikane ing tirtonadi
Ngenteni tekane bis wayah wengi
Tanganmu tak kanthi
Kowe ngucap janji
Lungo mesti bali

Wis suwe3x
Kangen sing tak rasakke
Rasane3x
Rasane koyo ngene
Neng kene3x
Aku ngenteni kowe
Aku kangen
Kangenku mung kanggo kowe

Rasane ngitung nganti lali
Wis pirang taun anggonku ngenteni
Ngenteni sliramu
Neng kene tak tunggu
Nganti saelingmu

Wis suwe3x
Kangen sing tak rasakke
Rasane3x
Rasane koyo ngene
Neng kene3x
Aku ngenteni kowe
Aku kangen
Kangenku mung kanggo kowe

Sunday, October 25, 2009

Sakit Maag

Jakarta, 26 Oktober 2009

Awalnya mau coba-coba produk herbal (jamu) yang katanya dapat mengatasi asam urat dan pegal linu. Namun ternyata malah jadi sakit yang lain. Setelah cari informasi di internet baru tahun kalau mengkonsumsi jamu pegel linu atau asam urat akan menyebabkan sakit maag.

Sebenarnya pemicunya bukan hanya soal jamu tadi. Merokok dan mengkonsumsi kopi secara berlebihan juga menjadi salah satu penyebabnya. Padahal saya belum pernah kena penyakit maag.

Gejala awalnya sama seperti masuk angin. Cegukan selama beberapa hari, kemudian sesak dan nyeri di ulu hati. Punggung bagian belakang pegal-pegal. Membungkuk juga terasa linu. Menurut keterangan dokter gejalanya hampir mirip serangan jantung koroner (angina). Tadinya saya berfikir juga seperti itu, kena angin duduk. Setelah konsultasi dengan dokter ternyata dokter mendiagnosa saya kena maag.

Jadi hati-hatilah mengkonsumsi jamu sembarangan. Karena tidak semua produk jamu yang bererdar di pasaran adalah jamu herbal. Perbanyaklah minum air putih setelah mengkonsumsi jamu untuk menghindari efek sampingnya.

Semoga bermanfaat !

Tuesday, October 20, 2009

Informasi Kesehatan

TANDA-TANDA DAN GEJALA SESEORANG MENDERITA SAKIT JANTUNG KORONER


TANDA-TANDA DAN GEJALA SESEORANG MENDERITA SAKIT JANTUNG KORONER

1. Rasa tidak nyaman, Berat(seperti tertindih barang berat) atau sakit pada daerah dada.
2. Rasa sakit di dada dapat menyebar kearah punggung, lengan kiri.
3. Rasa Panas atau rasa berat didada atau ulu hati
4. Rasa Jantung berdebar-debar dapat teratur, tidak teratur atau seperti melompat.
5. Nafas terasa pendek, keringat dingain, mual, muntah, rasa pusing bisa dalam keadaan tidak m elakukan aktivitas apapun atau saat sedang dalam melakukan aktivitas.
6. Kekuatan Fisik yang menurun.


KETAHUILAH FAKTOR RESIKO ANDA
1. Laki-laki umur lebih dari 30 tahun
2. Wanita yang Menopause
3. Riwayat keluarga ada yang menderita sakit jantung.
4. Peningkatan keluarga ada yang menderita sakit jantung
5. Peningkatan Kolesterol LDL, Trigliserida
6. Penurunan Kolesterol HDL
7. Peningkatan Tekanan Darah
8. Diabetes Melitus
9. Merokok
10. Kegemukan
11. Hidup dengan penuh tekanan/stress
12. Kekentalan Darah
13. Darah mudah membeku
14. Kurang Olahraga

Semakin banyak anda menemui faktor resiko, semakin besar anda akan manderita penyakit Jantung.



IMPOTEN BISA JADI TANDA SAKIT JANTUNG


KapanLagi.com - Pria yang menderita impoten mesti menjalani pemeriksaan mengenai penyakit jantung, karena itu bisa menjadi tanda awal penyakit tersebut, kata beberapa peneliti Italia, Rabu (19/07). Mereka percaya disfungsi ereksi (ED: erectile dysfunction) dapat menjadi pertanda gangguan jantung, sehingga memungkinkan dokter mendeteksi penyakit jantung sebelum gejalanya muncul.

"Sebuah program pengawasan medis secara ketat mesti menjadi kewajiban bagi penderita ED, faktor banyak resiko dan tak ada penyaksi arteri klinis," kata Dr. Piero Montorsi dari Fakultas Kardiologi, Universitas Milan.

Dalam studi terhadap sekitar 300 pria yang menderita impoten dan penyumbatan arteri, 93 persen melaporkan gejala ED antara satu sampai tiga tahun sebelum mengalami angina (rasa tidak nyaman dan sakit pada dada).

"Banyaknya pasien ED memiliki resiko lebih besar untuk mengalami gangguan jantung cepat atau lambat," kata Montorsi.

Ia dan timnya menyatakan penyumbatan arteri juga memiliki dampak pada peredaran darah ke penis. ED mungkin terjadi lebih awal dibandingkan dengan penyakit jantung, karena arteri penis memiliki diameter yang lebih kecil dibandingkan dengan arteri jantung.

"Ini barangkali alasan utama mengapa ED terjadi sebelum penyakit arteri koroner," kata Montorsi, yang temuannya dilaporkan dalam situs Internet European Heart Journal.

Para peneliti tersebut juga mendapati jumlah kasus disfungsi ereksi lebih rendah di kalangan pria yang terkena sakit jantung yang melibatkan penyumbatan pembuluh darah dan lebih besar pada pasien yang mengalami banyak penyumbatan darah atau sindrom koroner kronis (CSC).

"Usia, keterlibatan pembuluh koroner, dan CCS merupakan pertanda terpisah ED," kata Montorsi.

Penyakit jantung koroner, pembunuh utama di negara industri, dan ini terjadi karena penimbunan gangguan yang menghambat arteri dan membatasi aliran darah.

Tekanan darah tinggi, peningkatan kadar kolesterol, merokok, kurang berolah-raga dan diabetes adalah faktor yang resiko tersebut.

Beberapa kasus ED meningkat sejalan dengan bertambahnya usia, sebanyak 5 persen pria yang berusia 40 tahun dan sampai 25 persen yang berusia 65 tahun mengalami ED. Kondisi tersebut dapat disebabkan oleh penyakit atau cedera yang berdampak pada urat syaraf dan aliran darah atau dampak samping obat.

"Semua pria yang mengalami ED namun tanpa gejala sakit jantung memerlukan pengukuran tekanan darah dan pemeriksaan jantung secara teliti, puasa atau menghindari lipid (senyawa organis yang mengandung minyak serta tak larut dalam air) dan glukosa, memperbaiki gaya hidup berkenaan dengan berat tubuh dan olahraga," jelas Dr. Graham Jackson, ahli kardiologi di "Yayasan Derma NHS, Guy's and St.Thomas" di London. (cnn/rit)

Monday, October 19, 2009

Obrolan di CGA



Foto-foto Dulu !


Ketika sedang ngobrol dengan para tetangga, Pak Heri izin pulang duluan karena masuk angin (penyakit langganannya). “Ane pulang duluan nih, badan lagi nggak enak” katanya siap-siap pergi.
“Ehh, tunggu dulu pak… kan belom foto-foto !“ cegah Pak Boy.
[Cieee... emang lagi reuni !]


Karet ?

Sedang ngumpul di rumah Pak Boy, kemudian Pak Acep datang „Ada yang punya tali rafia nggak ? atau karet buat ngiket nih ?“ katanya. „Sebentar Pak, saya cari di rumah dulu“ jawab saya mencoba mencari apakah di rumah ada tali rafia atau karet. Saya kembali dengan sebuah karet gelang. „Nggak ada tali rafia, kalau karet mau nggak?“ tanya saya. „Wah, malah bagusan pake karet „ jawabnya senang. Segera saya berikan sebuah karet gelang kecil kepadanya. „Haahh... Dasaarr !!“ teriaknya sewot.
[Pak Acep mikirnya karet ban, yang cukup kuat untuk mengikat, tapi dikasih karet gelang]


Rafi dan Ori

Rafi sedang makan, sementara si Ori kucing kami terus mengganggunya. „Oriii ! sanaa... Api lagi makan nih!“ teriaknya mencoba mengusir si Ori. „Maaah... Ori nih nakal !“ teriak Rafi. Sementara si Ori terus mengganggunya dan terus mengejar-ngejarnya. „Sana pergi ! sana pergi Oriii !“ teriak Rafi kesal. „Oriii … sana pergi ! Nih api kasih uang !” teriak Rafi sambil melemparkan uang 2000 rupiah kepada si Ori.
[Hahaha… jangan segitu Fi… si Ori maunya sepuluh ribu !]


Umbul-Umbul

Setelah perayaan HUT RI, umbul-umbul harus di copot. Pak RT Zaenal memerintahkan Kiki untuk mencopot semua umbul-umbul. “Ki, tolong umbul-umbul di copotin semua. Nanti taruh di rumah Pak Haji” perintah Pak RT Zaenal. Kiki yang rajin segera mencopot semua umbul-umbul dengan bambunya. Sesuai perintah Pak RT Zaenal, umbul-umbul sekalian dengan bambunya semua di masukan ke dalam rumah saya, di ruang tamu !.
[Saya yang sedang tidur dibangunkan istri, Pah… tuh sedekah sama Kiki. Sementara terdengar suara gedubrak-gedubrak di ruang tamu kami]


Undangan Rapat

Ketika masih menjabat RT di kompleks saya mau menyebarkan undangan rapat untuk warga. Setelah selesai di print dan siap dibagikan saya minta bantuan Kiki untuk menyebarkan undangan ke seluruh warga. Beberapa jam kemudian, “Assalamu’alaikum… assalamualaikum …” terdengar suara Kiki di luar rumah teriak-teriak memberikan salam. Istriku segera keluar untuk menemuinya. “Ada apa Ki ?” tanyanya. “Ini Bu RT ada undangan !” katanya sambil menyerahkan undangan yang tadi saya buat.
[Istriku membacanya sambil komentar “Kayaknya yang tanda tangan kenal deh”… gubrakkk!]


Tata Tertib Berkunjung

Ketika asyik menikmati kopi di depan rumah sambil menikmati indahnya malam hari [sekitar pukul 22.30 WIB]. Pak Heri, tetangga depan rumah, kelihatan kaget melihat sesuatu. “Pak Haji… ! itu di rumah Pak Eko ada apa ???” katanya khawatir. Setelah saya melihatnya, rupanya ada sebuah mobil ambulan yang sedang diparkir di depan rumahnya. Nah lu ! pikiran saya nggak enak nih. Jangan-jangan ada musibah. Terlihat empat orang berpakaian unit rescue turun dari ambulan. Segera saya hampiri ingin mencari tahu dan mencoba membantu jika ada masalah. Terlihat Pak Eko sedang menyambut tamunya. Saya hampiri mereka, “Ada apaan Pak Eko ?” tanya saya khawatir. “Ah, nggak ada apa-apa “ jawabnya kalem. “Lah, ini ada mobil ambulan segala ?” tanya saya heran. “Ooh, ini teman-teman saya sedang main” katanya sambil tertawa. “Oooohhh…. Ya udah ” jawab saya sambil pergi.
Besoknya saya usulkan ke pengurus RW agar diatur tata cara berkunjung untuk tamu di perumahan kami. Minimal dilarang untuk orang yang bekerja di Dinas Pemadam Kebakaran [sopir blangwir], Dinas Kebersihan [sopir mobil tinja dan mobil pengangkut sampah], atau di Yayasan Bunga Kamboja [sopir mobill jenazah], untuk tidak menggunakan fasilitas mobil dinas dari kantornya jika mengunjungi teman atau saudaranya.


Baca Doa

Ketika rapat warga di RT kami hampir selesai, pembawa acara mempersilahkan Pak Dedi [kebetulan yang tertua diantara kami dan memakai kopiah] untuk membacakan doa.
“Acara terakhir adalah pembacaan doa yang akan di bawakan oleh Pak Dedi. Kepada Pak Dedi, waktu dan tempat kami persilahkan”
“Aduhh… kumaha ieuh… Urang teu tiasa atuh !“ Pak Dedi terlihat panik sambil buru-buruh melepaskan kopiah dan memasukannya ke kantong celananya.
„Ayo Pak ! Bapak kan yang paling tua „ kata teman-teman yang lain sambil mesem-mesem.
„Iya, katanya kan dulu pernah dinas di Departeman Agama ?“ celetuk yang lain.
Sementara Pak Dedi sudah salah tingkah, „ Aduuhh... kang… atuh saya emang pernah dinas di Depag. Cuma saya ini kan lulusan STM ...“ katanya dalam logat Tasiknya mencoba membela diri.
[Esoknya setiap ada rapat warga Pak Dedi tidak pernah memakai kopiah lagi, duduknya pun dibagian belakang]


Pemilihan RT/RW

Jika di pemerintahan banyak orang mengincar jabatan, tidak demikian untuk menjadi seorang pejabat publik dalam kasta dan urutan terendah, yaitu menjadi RT dan RW. Bukan berarti menjadi RT dan RW pekerjaan yang hina, justru sebaliknya. Menjadi RT/RW penuh pengabdian penuh dan jiwa sosial yang tinggi. Bapak saya menjadi RT dari tahun 1975 sampai tahun 2001. Bayangkan 26 tahun menjadi RT dengan segala suka dukanya.
Nah, cerita jadi RT di CGA lain lagi. Ketika saya ditunjuk oleh warga untuk menjadi RT, dengan berat hati akhirnya saya terima. Namun tidak demikian dengan istri saya. Setibanya di rumah dari acara pemilihan RT istri saya langsung protes. “Pokoknya saya nggak mau jadi Ibu RT !” katanya semangat. [Hehe…]. “Biar yang jadi Ibu RT-nya yang lain saja !” katanya kemudian. [Wah… kesempatan nih ! bisa cari lagi buat jadi Ibu RT]. Malamnya saya pun merana, karena istri saya tetap keukeuh tidak mau tidur sama RT. [Sedih banget, coba kalo jadi Presiden !]
Lain saya, lain lagi dengan Pak Boy. Ketika pemilihan untuk perwakilan calon RT/RW kemarin, beliau mendapat nominasi. Merupakan suatu kehormatan mewakili warga untuk bersaing bersama kandidat lain di ajang pemilihan RW. Namun Pak Boy malah protes dan menolaknya mentah-mentah. “Pokoknya kalau saya jadi RT/RW, saya akan pindah ke rumah saya di Kalimalang !” katanya berapi-api. Rupanya niat Pak Boy untuk menolak dicalonkan menjadi pejabat RT/RW tersebut mendapat dukungan kuat dari istri serta keluarga besarnya, marga Manurung dan marga Siregar di seluruh Jabotabek.
[Soalnya di Kalimalang Pak Boy sudah dicalonkan jadi Lurah ! Jelas aja Booo…]
Ketika mendengar namanya akan dicalonkan menjadi RT/RW oleh warga, Pak Sugeng menghampiri kami satu persatu. Maklum kami ini panitia inti pemilihan RT/RW. Pak Sugeng hingga dua kali datang ke rumah saya melobi agar jangan dicalonkan menjadi RT/RW. Kepada saya dia bercerita, “Pak, saya jangan dipilih jadi RT/RW ya, soalnya saya sedang repot. Itu rumah saya [yang sedang dalam proses renovasi] masih berantakan sekali. Kalau saya jadi RT nanti, kalau ada rapat bagaimana ?“ katanya khawatir tidak bisa menjamu warga. „Lagian Pak, saya sudah membeli rumah lagi di PTC [Pseona Telaga Cibinong]. Kalau di sini renovasi nggak beres-beres, rencananya kami sekeluarga akan tinggal di PTC” jelasnya. “Oooh…. Gitu ya Pak “
[Padahal di PTC belom ada pengurus RT/RW nya, nanti malah jadi RW di sana Pak ?]


Insinyur Liwet

Ngeliwet merupakan tradisi outdoor bapak-bapak pada malam hari di kompleks. Untuk urusan ngeliwet inilah kami menyerahkannya kepada Pak Acep yang berasal dari Garut. Asli !. Walaupun pekerjaannya berhubungan dengan konstruksi, namun untuk masalah kuliner beliau tidak kalah. Oleh karena itu beliau diberi julukan Insinyur Liwet. Menu liwetannya selalu ditunggu-tunggu. „Maknyusss !!!“ kata Pak Gunawan dan Pak Iwan yang selalu paling akhir manikmati sambal dan ikan asin. „Ajibb !!!” komentar pak Heri sambil membongkar kepala ikan mas hasil pancingan Pak Boy dan Pak Dadi. “Mantabh !!” kata Kakak Andika yang ikutan bergadang hanya untuk mendapat jatah liwetan Pak Acep. Menu terakhir yang diperkenalkan kepada kami adalah ikan mas goreng. Ikan mas hasil tangkapan Pak Boy dan Pak Dedi atau hasil sumbangan juragan Bambang [pengusaha kolam pemancingan] akan diolah dengan bumbu khusus. Kemudian digoreng sedemikian rupa sehingga siap disajikan dalam bentuk crispy. Bener-bener Ajibbb !! kata saya akhirnya, sambil menggerogoti kepala ikan sampai licin tandas.


Perda Main Gaple


Olahraga favorit teman-teman di kompleks adalah permainan gaple. Biasanya kami main RT-an. Yaitu permainan individual dengan peraturan internasional yang poin kemenangannya akan di hitung hingga menjadi tulisan R-T- [tulisannya kotak-kotak, kesannya maksa banget !]. Entah bagaimana ceritanya hingga permainan terebut hanya sampai dengan tulisan R-T- terbentuk. Mengapa tidak main ‘lurahan’ aja agar lebih lama. L-U-R-A-H-.
Sistem pertandingan yang tidak baku dan memang belum dibukukan atau dipublikasikan bahkan sepertinya belum diundangkan, membuat permasalahan sendiri dalam memperoleh kesepakatan-kesepakatan dalam aturan pertandingan ini. Misalnya boleh tidak balak kosong atau balak enam jalan duluan, Gaple ngadu kemana dan bagaimana jika kalah gaple dan seterusnya.
Kebekuan dalam membahas hal tersebut akhirnya bisa dipecahkan oleh Pak Dedi yang selalu membuat peraturan dengan caranya sendiri. Kami menyebutkannya dengan ‘Perda’ . Walaupun perda tersebut dibuat tidak adil [cenderung menguntungkan pihak legislatif] namun kami tidak bisa berbuat banyak. Peraturan setingkat perda menurut tata urutan perundang-undangan seharusnya masih harus diatur dengan surat keputusan, surat edaran, surat instruksi dan seterusnya. Jika tidak diatur dengan jelas dikhawatirkan akan menimbulkan kebingungan dalam masyarakat. Padahal dalam setiap perundangan apabila sudah diumumkan dalam Lembaran Negara, maka setiap warga negara dianggap tahu dan wajib mematuhinya. Nah inilah repotnya perda dalam permainan gaple kami. Tidak ada kejelasan dan tidak dimungkinkan untuk mengajukan upaya hukum ke Mahkamah Agung atau Mahkamah Konstitusi.
Perda yang tidak jelas ini kemudian dipaksakan sehingga menimbulkan berbagai komentar namun tidak sampai menimbulkan gejolak diantara warga CGA. Ujung-ujungnya kemampuannya yang selalu membuat perda tersebut membuat Pak Dedi sering diledek dan dicurangi oleh teman-teman. Namun semuanya dalam konteks bercanda sehingga tidak pernah ada yang marah karena kelakuannya.



Jantung di Kanan


Perumahan kami seharusnya beruntung sekali memiliki warga seperti Pak Bambang. Karena beliau ini termasuk manusia yang langka [bukan aneh loh pak...]. Keunikan ini sebabnya adalah karena beliau ini memiliki kelainan jantung unik. Kelainan jantung unik tersebut adalah dimana posisi organ jantung yang biasanya ada di rongga dada sebelah kiri, dalam kasus beliau posisi jantungnya ada di sebelah kanan. Menurut keterangan dari dokter menyebutkan bahwa kelainan ini merupakan kasus yang langka. Perbandingan penderita kelainan ini adalah 1: 10.000. Menurutnya lagi, biasanya mereka yang memiliki kelainan ini memiliki kemampuan untuk menjadi seorang atlit. Hal tersebut karena biasanya penderita akan memiliki kemampuan fisik yang lebih kuat. Jadi sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan oleh Pak Bambang. Hanya sayangnya informasi seperti ini diperolehnya setelah usianya 40 tahun. Lah, dari kamaren kemana aja pak ? nggak tau punya jantung di kanan. Komentar Pak Bambang „Coba dari dulu tahunya, mungkin sekarang saya sudah menjadi pemain sepakbola terkenal“.
[Jieeee..... kalah deh Ronaldo dan Messi !]



Mangga Asem dan Mangga Manis

Kebetulan di kompleks perumahan kami banyak lahan fasum untuk taman. Nah, oleh para tetangga, fasum tersebut di tanami pohon buah. Kebetulan yang paling mudah dan paling favorit adalah pohon mangga. Jadilah di depan rumah kami berjejer lima batang pohon mangga dengan jenis yang berbeda. Nah kebetulan di depan rumahnya, Pak Bambang menanam mangga jenis gedong gincu. Mangga jenis ini terkenal dengan rasanya yang manis bagaikan gula. [bukan yang punya yang manis, tapi memang mangganya manis, pen].
Musim mangga kali ini mangga gedong gincu milik Pak Bambang sudah mulai belajar berbuah. Melihat buah mangga bergelantungan di batangnya membuat Pak Bambang sumringah. „Jadi nih, pergi haji kalo’ panen“ fikir Pak Bambang. Saya ikut-ikutan memuji pohon mangganya yang terlihat lebat. Pak Bambang semakin bangga. Ketika saya sarankan agar mangganya dibungkus biar tidak dimakan ulat atau kelelawar Pak Bambang terlihat agak malas. „Nggak ada waktunya“, kata beliau. Kemudian saya bilang lagi, „Loh, Ente nggak khawatir kalo’ mangganya rasanya jadi asem“. „Loh, kok bisa ?“ jawab Pak Bambang heran. „Ya, lihat saja sendiri pohon di sebelahnya“ kata saya sambil menunjuk cabang pohon mangga gedong gincu yang rasanya manis saling bertautan dengan mangga apel milik Pak Dadi yang rasanya asem luar biasa. „Nanti kalo mangga ente kawin sama mangga apel Pak Dadi, bisa-bisa rasanya berubah jadi asem“ kata saya memprovokasinya. „Oh iya.. ya... ?“ jawab Pak Bambang yang bingung.
[Nggak apa-apa deh Pak Bambang besanan dengan Pak Dadi, orangnya baik kok !]


to be continued

Sunday, October 18, 2009

Bang Didi; Contoh Untuk Kebaikan dan Keikhlasan

Cibinong, Sabtu 17 Oktober 2009


Badannya tidak tinggi dan tidak terlalu kurus. Urat dan otot-otot tangannya terlihat keras tanda tak pernah henti bergerak. Wajahnya sangat bersahaja dan murah dengan senyum. Walaupun usianya belum terlalu tua (41 tahun), namun sebagian rambutnya sudah mulai rontok. Terlihat tua, karena serius sekali mengutak-ngutik benda yang ada di depannya. Itu semua dikerjakan dari hatinya. Prinsip yang pernah saya dengar darinya adalah, semua pekerjaan yang kelihatan pasti dapat dilakukan. Jadi jangan pernah bilang 'tidak bisa'. Katakan saja 'saya akan coba'.

Kalau jalan selalu cepat. Selalu ingin segera sampai. Tampak seperti terburu-buru, namun akan berhenti sebentar untuk selalu menyapa tiap orang yang dikenalnya. Peduli orang tersebut menjawab sapanya atau tidak. Senyumnya selalu ada di bibirnya. Sifatnya yang selalu riang membuat orang suka.

Semua saudara dan teman sering dikunjunginya. Ada saja yang dibawa walaupun sekedarnya. Menjalin tali silaturahmu, katanya, dapat membuka pintu rizki. Sepertinya nasehat dari orangtua yang dipegangnya dengan kukuh. Subhanallah.

Ketika kami kecil, ia adalah panutan saya. Serba tahu, serba bisa, dan tidak pernah marah. Kepada yang tua dia hormat, kepada yang kecil ia sayang. Dalam bergaul semua orang suka padanya. Senang sekali membantu orang. Selalu tanpa pamrih. Kadang saya gemas jika kemampuannya dimanfaatkan untuk kepentingan orang lain. Tapi ia bersikap biasa saja, acuh. Biar saja katanya.

Kesabaran dari orang tua menurun kepadanya. Terkesan pasrah dan menerima apa adanya, tapi selalu beruntung. Mungkin Allah SWT melihat ketulusan dan keikhlasan dalam dirinya. Inilah yang menambah rasa kagum dan hormat kepadanya. Jika ada perlombaan orang baik yang ikhlas, saya akan menominasikan dirinya. Ia merupakan orang kedua setelah Ayah yang paling saya hormati di muka bumi ini. Dia adalah abang saya, Abu Solehudin Mahdi. Nama yang merepresentasikan nilai kebaikan dari silsilah keluarga kami. Semoga Allah SWT selalu melindungi dan meridhoi diri dan keluarganya. Amin.

Thursday, October 15, 2009

Tole Masuk Universitas Indonesia

Jakarta, 16 Oktober 2009


"Punya kamus bahasa Inggris, atau bahasa Jepang nggak ?" tanya ibu melalui HP-nya
"Kalo' bahasa Inggris sih ada, tapi kamus bahasa Jepang nggak ada" jawab saya, heran juga nih, ibuku nanya kamus segala. Jadi curiga, jangan-jangan ibuku jadi ikutan S2-nya. Hehehe...
"Ada apa bu, nanya kamus bahasa Inggris dan Jepang segala ?" tanyaku heran
"Emang nggak tau ya ?" ibuku malah balik bertanya. Gimana sih ibuku ini, diberitahu saja belum malah ditanya seperti itu.
"Ya, nggak tau lah, kan belom dibilangin" jawab saya sekenanya, tapi penasaran juga sih. "Emangnya ada apa ? Ibu mau melanjutkan sekolah lagi ?" tanya saya.
"Bukan Ibu, tapi Tole" katanya sambil tertawa. Ibu memang senang sekali bercanda dengan saya dan anak-anaknya yang lain.
"Lah, si Tole kenapa ?" tanya saya tambah heran. Jangan-jangan bikin masalah lagi nih.
"Iya, sekarang si Tole di UI" kata ibu sambil senyum-senyum [saya hapal betul senyumnya].
"HAH...! Tole di UI, ngambil jurusan apaan ?" jawab saya sambil tidak bisa menahan tawa.
"Nggak tau tuh, kayaknya bahasa Inggris atau akuntansi kali' ya" jawab ibu. Ini pasti jawaban asal-asalan.
"Ya, gimana dia aja deh. Yang penting belajarnya bener" jawab saya menimpali.
"Emangnya siapa yang suruh ke sana ?" tanya saya kemudian.
"Ayah, yang nyuruh ke UI ayah. Tadi Iwan dan Tila disuruhnya. Sekalian mereka berdua pergi mancing" jelas ibu sambil senyum.
"Tapi sih, ayah nge-bekalin juga sedikit. Pake ikan tongkol sama duitnya lima ribu" katanya kemudian. Sepertinya ayah sudah nggak kuat lagi merawat si Tole yang ingusan dan malesnya minta ampun, akhirnya dimasukin UI juga biar nggak ngerepotin lagi.

[Saya udah ngakak mendengarnya membayangkan drama perpisahan antara ayah dengan Tole. Bagaimanapun juga ayah dan Tole punya hubungan unik. Disisi lain sering dimarahi, dipukul, bahkan dikejar-kejar dengan sapu lidi jika si Tole bandel. Tapi setiap hari pula beliau selalu memberi makannya. Kadangkala bisa-bisanya pesen ikan tongkol jika ibu sedang berbelanja ke Pasarminggu. Aban, adik saya yang di rumah pun sempat protes, "Enak banget si Tole, di kasih ikan tongkol! anaknya aja nggak makan ikan!" begitulah jika dia protes soal perlakuan ayah kepada si Tole]

"Biarin dah, biar dia mandiri" jawab saya menimpali ibu.
"Iya, habisnya di sini males banget. Kerjanya cuma tidur mulu" ibu mulai ngomel jika bicara soal malasnya si Tole.
"Ya, kita doakan saja agar dia berhasil. Nanti kalau sudah sarjana, yang bangga kan kita juga" jawab saya tambah ngaco.
"Iya, kita doain aja ya" kata Ibu pasrah, seolah-olah inilah keputusan yang terbaik untuk si Tole kucing kami yang pemalas.

Macet

Dalam Kemacetan Kota Jakarta

Bis Jemputan, 05 Okt 2009

Alangkah indahnya jika setiap hari jalan di Jakarta lancar tidak ada macet. Kalau setiap hari kita terjebak macet selama 2 jam, 1 jam pergi dan 1 jam lagi pulang, berarti jika dalam seminggu ada 5 hari kerja maka kita akan rugi 10 jam.

Dalam sebulan kita akan merelakan waktu kita 40 jam dalam kemacetan. Selama setahun menjadi 480 jam atau 20 hari.

Jadi untuk para pegawai di Jakarta dalam setahun hidupnya minimal akan terjebak macet selama 20 hari. Ini masih minimal karena jika waktu-waktu tertentu kemacetan akan lebih lama lagi.

Artinya negara kita akan mengalami kerugian karena 20 hari yang tidak produktif tersebut. Bayangkan saja misalnya upah minimal 1 hari dihitung Rp. 50.000,- maka berkurangnya nilai produktfitas per orang dalam satu tahun akan berpotensi merugikan negara sebesar Rp. 1.000.000,-. Nah,angka ini tinggal dikalikan saja dengan jumlah pekerja di Jakarta. Jika jumlah pekerja di Jakarta berjumlah 2 juta orang maka potensi kerugian akan mencapai 2 triliun rupiah pertahunnya. Lumayan besar untuk meningkatkan penerimaan negara.

Padahal aspek kemacetan bukan hanya berpengaruh pada produktifitas saja. Bahan bakar misalnya, berapa banyak bahan bakar yang terbuang percuma. Pemborosan bahan bakar akan berpotensi meningkatkan polusi yang pada akhirnya akan berpengaruh kepada kesehatan dan kualitas hidup.

Sebagai pekerja dan warga Jakarta kita harus prihatin terhadap masalah kemacetan. Karena itu kita harus mendukung upaya pemerintah dalam mengatasi hal ini.

Friday, October 9, 2009

Si Tasim Gaya [mode on]

Jakarta, Oktober 2009

Kalau soal urusan bergaya ternyata itu bukan hanya milik selebritis saja. Orang biasa seperti si Tasim pun tidak ketinggalan mengikuti gaya terbaru. Eh, ngomong-ngomong masih inget dengan si Tasim kan ? Itu loh, pembantu teman saya yang sedikit agak nyeleneh dan unik. Keunikan si Tasim pun bukan hanya masalah cara berfikirnya saja yang berbeda dari orang kebanyakan. Gaya berbusananya pun ikut berbeda.


Topi

Kebiasaan Tasim yang paling unik adalah masalah penutup kepalanya. Ada kebiasaan unik si Tasim yang bikin jengkel namun bisa juga buat tersenyum. Penutup kepala atau topi atau juga kopiah merupakan atribut wajib bagi si Tasim. Setelah subuh biasanya si Tasim akan menggunakan topi. Nah, topi yang digunakan juga mesti topi yang itu-itu saja. Sudah dua tahun belakangan ini si Tasim mengenakan topi warna hitam. Sebelumnya hampir 10 tahun lebih topinya berwarna merah dan cuma itu satu-satunya. Karena sudah terlalu lama, topi itu sudah sobek sana-sini sehingga penuh tambalan salonpas dan lakban. Tapi karena rasa cintanya kepada topi merah tersebut walaupun sudah rombeng tetap saja dipakainya. Setelah mngemban tugas selama 10 tahun lebih melindungi kepala majikannya akhirnya topi itu terpaksa dipurnatugaskan karena sudah tidak layak lagi disebut sebagai topi. Nah, akhirnya tugas sebagai penutup kepala diberikan kepada penggantinya si hitam.

Pernah lihat orang menggunakan topi ? pasti pernah. Kalau orang menggunakan topi dengan lidah topi berada di depan muka itu sudah wajar. Jika orang menggunakan topi dengan lidah topinya berada dibelakang juga wajar. Nah, kalau si Tasim ini berbeda dengan kewajaran dan prinsip umum orang menggunakan topi. Jika mengenakan topi, si Tasim akan dipengaruhi oleh arah matahari. Jika setelah subuh, ia akan mengenakan topi dengan lidah topi berada di sebelah kanan. Karena matahari berada di sebelah kanan rumah majikannya. Kemudian sekitar jam 9 pagi lidah topi agak digeser sedikit ke arah kiri. Pada jam 12 siang barulah si Tasim akan memutar topinya ke arah kiri lagi sehingga berada tepat di depannya. Terus begitu sehingga posisi lidah topi akan memutar sehingga nanti sore posisinya akan berada di sebelah kirinya. Jadi selama 12 jam menggunakan topi, si Tasim akan memutar arah topinya ke arah 180 derajat. Begitulah cara pemakaian topi menurut si Tasim. Keluarga teman saya akhirnya sudah hapal dengan kebiasaannya ini. Jadi sepertinya teman ini tidak perlu lagi beli jam mahal-mahal, karena cukup melihat arah topinya si Tasim.


Kopiah/Peci

Kopiah atau peci adalah penutup kepala untuk orang Islam. Biasanya digunakan apabila akan mendirikan sholat. Sementara bagi si Tasim, kopiah atawa peci merupakan busana wajib untuk kegiatan malam hari. Jadi jika sudah malam, dresscode untuk si Tasim adalah wajib mengenakan peci atau kopiah. Setelah jam 6 menjelang waktu maghrib, Si Tasim biasanya akan mencopot topinya dan menggantinya dengan kopiah. Kopiah tersebut akan dipakainya sejak sholat maghrib hingga sholat subuh esok paginya. Menurut teman saya, sampai tidurnya pun si Tasim tetap mengenakan kopiah.


Baju Oleh-oleh dari Belanda

Suatu ketika ada saudara teman saya yang memberikan baju kemeja kotak-kotak lengan pendek berwarna merah yang dibawanya dari negeri Belanda kepada si Tasim. Bukan main girangnya si Tasim menerima hadiah tersebut. Mungkin si Tasim berpikir baju kemeja tersebut adalah baju impor mahal yang dibuat oleh negara yang pernah menjajah negerinya ini selama 360 tahun. Bayangkan... hebat kan ! Mana ada teman-temannya mendapatkan hadiah yang spesial sepertinya. Jadi sangat wajar jika si Tasim merasa senang menerima hadiah tersebut.

Saking senangnya hampir setiap hari baju kemeja kotak-kotak lengan pendek berwarna merah dari Belanda itu dikenakannya. Biasanya untuk baju dalamnya si Tasim akan mengenakan kaos oblong dan untuk bagian luarnya barulah si Tasim mengenakan baju kemeja kotak-kotak lengan pendek berwarna merah dari Belanda tersebut. Di dalam rumah, di luar rumah, mau belanja ke pasar, mengantar anak sekolah, hingga berkunjung ke rumah kekasih hatinya. Sungguh baju kemeja kotak-kotak lengan pendek berwarna merah dari Belanda yang sangat menarik. Mungkin secara psikologis dan psikomotoris mengenakan baju kemeja kotak-kotak lengan pendek berwarna merah dari Belanda tersebut akan menambah percaya diri dan kekuatannya. Jadi jangan heran jika para seluruh anggota keluarga, saudara-sauadra, tetangga kiri kanan, tetangga kampung, teman sekolah, pengunjung pasar dan teman wanita si Tasim pasti akan melihatnya selalu mengenakan baju kemeja kotak-kotak lengan pendek berwarna merah dari Belanda.

Sehari, dua hari, tiga hari si Tasim selalu mengenakan baju kemeja kotak-kotak lengan pendek berwarna merah dari Belanda. Hingga akhirnya mulai kita berhitung, seminggu, dua minggu, tiga minggu si Tasim masih mengenakan baju kemeja kotak-kotak lengan pendek berwarna merah dari Belanda. Hitungan berikutnya adalah sebulan, dua bulan, tiga bulan si Tasim tetap mengenakan baju kemeja kotak-kotak lengan pendek berwarna merah dari Belanda. Hingga akhirnya setahun, dua tahun, tiga tahun, hingga tujuh tahun si Tasim tetap juga keukeuh mengenakan baju kemeja kotak-kotak lengan pendek berwarna merah dari Belanda.

Sebagian dari kita mungkin akan bertanya-tanya bagaimana bisa baju kemeja kotak-kotak lengan pendek berwarna merah dari Belanda tersebut bisa bertahan sekian lama. Atau mungkin sebagian dari kita juga akan bertanya bagaimana pendapat orang-orang sekitarnya dengan kebiasaan si Tasim mengenakan baju kemeja kotak-kotak lengan pendek berwarna merah dari Belanda itu?

Saya saja yang mendengar cerita teman tentang kebiasaan berbusana si Tasim dengan baju kemeja kotak-kotak lengan pendek berwarna merah dari Belanda tersebut jadi ikut penasaran. Kata teman saya, sebenarnya banyak orang-orang yang bertanya dan protes dengan kebiasaan si Tasim yang selalu mengenakan baju kemeja kotak-kotak lengan pendek berwarna merah dari Belanda tersebut. Namun setiap kali diberitahukan kepada si Tasim agar menggantinya dengan baju yang lain, si Tasim dengan tegas menolaknya. Ini kan hak asasi saya sebagai manusia ! mungkin begitu pendapat pribadi si Tasim. Akhirnya teman saya menyerah dan membiarkan kepada si Tasim untuk tetap dengan kebiasaannya mengenakan baju kemeja kotak-kotak lengan pendek berwarna merah dari Belanda tersebut. Kepada orang-orang yang bertanya dan memprotesnya ia hanya bilang, namanya juga Tasiiimmm....

Bagaimanapun juga kebiasaan si Tasim mengenakan baju kemeja kotak-kotak lengan pendek berwarna merah dari Belanda tersebut suatu saat pasti akan berakhir. Bagaimanapun juga baju kemeja kotak-kotak lengan pendek berwarna merah dari Belanda tersebut akan berkurang kualitasnya. Herannya si Tasim begitu sayangnya kepada baju kemeja kotak-kotak lengan pendek berwarna merah dari Belanda itu sampai melebihi Jamilah yang punya kios ikan dan Solehah yang montok pembantu tetangga. Apabila baju itu sobek si Tasim akan menambalnya dengan tensoplast. Jika robeknya bertambah besar akan ditambalnya dengan koyo. Jika robeknya semakin besar si Tasim akan menambalnya dengan lakban. Bisa dibayangkan betapa menderitanya baju kemeja kotak-kotak lengan pendek berwarna merah dari Belanda yang dipakai oleh si Tasim. Kalau dalam ilmu akuntansi seharusnya baju kemeja kotak-kotak lengan pendek berwarna merah dari Belanda tersebut sudah habis masa manfaat dan umur ekonomisnya. Sehingga jika dilakukan revaluasi aktiva tetap pasti nilainya sudah minus. Tapi si Tasim bukan lulusan STAN jadi dia tidak mengerti apa itu umur ekonomis, masa manfaat apalagi revaluasi aktiva. Jadilah baju kemeja kotak-kotak lengan pendek berwarna merah dari Belanda tersebut penuh tensoplast, koyo dan lakban di sana-sini sehingga bentuknya tidak lagi seperti baju kemeja kotak-kotak lengan pendek berwarna merah dari Belanda. Saya sampai berpikir, jangan-jangan pencetus ide mode tabrak motif awalnya dari si Tasim ini.

Hingga pada suatu hari setelah tujuh tahun berlalu temen saya sudah mulai dongkol melihat si Tasim dengan baju kemeja kotak-kotak lengan pendek berwarna merah dari Belanda itu. Disamping bentuknya yang sudah tidak karuan juga sudah enek karena ia yang melihatnya hampir setiap hari. Dipanggilnya si Tasim dengan baju kemeja kotak-kotak lengan pendek berwarna merah dari Belandanya, kemudian di suruhnya agar segera mengganti baju kemeja kotak-kotak lengan pendek berwarna merah dari Belanda itu dengan pakaian yang pantas. Karena ia sudah malu sebagai majikan dan orang yang selalu melihat baju kemeja kotak-kotak lengan pendek berwarna merah dari Belanda setiap hari bersliweran di depan matanya. Akhirnya hati si Tasim luluh juga mendengar jeritan hati majikannya itu. Hingga pada suatu hari si Tasim sudah tidak lagi mengenakan baju kemeja kotak-kotak lengan pendek berwarna merah dari Belanda tersebut. Si Tasim telah menggantinya dengan baju kemeja garis-garis lengan pendek berwarna hijau dari Jepara. [Huhh... selesai juga akhirnya mengetik baju kemeja kotak-kotak lengan pendek berwarna merah dari Belanda].


Junkies

Kalau kita jalan-jalan ke mall atau ke tempat kumpul anak-anak remaja pasti kita sering melihat mereka mengenakan baju model junkies. Baju model junkies biasanya lebih ke arah press bodi atau slim fit. Istilah lainnya adalah baju yang jika dipakai pas (ngepres) dengan badan sehingga bentuk badan orang yang mengenakannya akan terlihat.

Jika dulu si Tasim senang dengan ctrl+v [ket : saya aja udah enek banget nulis baju kemeja kotak-kotak lengan pendek berwarna merah dari Belanda], sekarang gaya berpakaiannya lain lagi. Mungkin karena tuntutan jaman atau mungkin karena gaya hidup yang setiap hari dilihatnya di layar kaca. Model baju yang sering dikenakannya adalah model junkies. Katanya biar mirip artis sinetron Dude Herlino atau Rafi Ahmad. [Ah... masa' sih...???]

Masalahnya baju junkies yang dipakai si Tasim ini bukan yang dibelinya di toko Ramayana atau Matahari, tapi baju yang dikenakannya memang baju yang sudah kesempitan. Loh, kok bisa ?? rupanya si Tasim sekarang-sekarang ini senang meminjam baju milik Noval, anak majikan saya yang masih duduk di SMP. Halah...!!!!


Udah ah... lanjutin lagi di episode berikutnya.

Tuesday, October 6, 2009

Pendidikan Mental Anak

Jakarta, Oktober 2009

Untuk menjadi tegar dan bermental baja memang perlu pendidikan yang lama. Hasil pendidikan mental tersebut juga harus teruji di lapangan. Jadi setelah mendapatkan teori bisa langsung dipraktekkan di lapangan.

Mendidik anak agar bermental baja dan tidak cengeng juga perlu proses pematangan di lapangan. Nah, untuk yang satu ini menjadi prioritas kami sebagai orang tua untuk mendidik anak-anak agar dapat survive dalam lingkungannya. Pendidikan mental ini diutamakan untuk anak laki-laki kami, Radja. Harapan kami adalah agar ia memiliki prinsip dalam bergaul. Tidak ikut-ikutan teman-temannya dengan alasan tidak enak dengan teman. Saya sendiri sejak kecil sudah punya prinsip ini dalam bergaul dengan lingkungan. Ketika teman-teman asyik menikmati ganja atau minuman keras, saya tetap tidak terpengaruh. Kalau tidak diterima dalam suatu lingkungan atau pergaulan biasanya saya akan membikin kelompok sendiri.


Pengakuan dalam Pergaulan

Pengalaman seperti ini saya terapkan kepada anak-anak. Misalnya, pernah suatu hari Radja asyik main sendiri di kamarnya. Padahal kami ingin agar anak-anak dapat menikmati masa kecilnya dengan bermain dengan teman-temannya. Ketika saya tanyakan kenapa dia tidak main bola dengan teman-temannya. Radja menjawab kalau dia tidak diajak ikut karena menurut teman-temannya Radja masih kecil dan belum bisa main bola. Mendengar hal tersebut saya segera memberinya nasihat. Kalau kamu mau diajak bermain bola, kamu harus jago main bola. Walaupun badannya lebih kecil dari teman-temannya, tetapi kalau jago pasti diajak. Akhirnya Radja dapat mengerti kondisi tersebut. Jadi, hampir setiap waktu senggang saya melatihnya bermain bola di halaman belakang. Mulai dari cara menendang, mengoper bola hingga membawa bola melewati lawan. Walaupun saya sendiri tidak jago bermain bola, minimal teknik dasarnya saya beritahukan kepadanya.

Beberapa minggu proses saya melatih Radja bermain bola. Hingga akhirnya dia mengerti cara bermain bola. Ketika sudah siap Radja langsung menuju lapangan. Hasilnya, hampir setiap sore Radja selalu diajak bermain bola bareng dengan teman-temannya yang lebih besar. Kami memang tidak pernah memaksa agar anak-anak kami diterima dalam pergaulan karena pengaruh orangtuanya. Biarkan anak-anak mengalami masalahnya agar mereka dapat tegar dan memiliki solusi mengatasi masalah tersebut.


Tidak Cengeng

Pernah suatu hari ketika saya memandikan Radja, saya melihat tulang kering kakinya lebam kebiruan. Saat ditanya kenapa sampai biru-biru begitu, dia tanya hanya menjawab kalau terjadi kontak fisik saat bermain bola dengan temannya. Hal pertama yang saya tanyakan adalah apakah ia menangis. Radja menjawab kalau ia tidak menangis bahkan malah tertawa-tawa dengan temannya. Bagus ! jawab saya. Kemudian baru saya periksa kondisinya apakah berbahaya atau tidak sambil menanyakan apakah di bagian tersebut masih sakit. Anak saya malah menjawab tidak apa-apa, nanti juga hilang sendiri. Bagus ! jawab saya kembali.

Kadangkala kita harus memuji anak-anak untuk menambah kepercayaan dirinya. Kami tidak pernah khawatir secara berlebihan apabila ada masalah dengan anak-anak. Biasanya kepanikan orangtua akan membuat anak menjadi cemas dan akhirnya malah membuatnya takut dan menangis.


Resistensi Terhadap Ancaman

Pernah ketika Radja dan teman-temannya pergi bermain futsal di lapangan futsal yang ada di daerah kami. Dalam perjalan pulang bermain futsal tersebut, rombongan Radja dan teman-temannya diganggu oleh orang dewasa. Kemudian Radja menyebutnya dengan istilah preman kampung. Mungkin preman kampung tersebut ingin memalaknya. Tapi Radja segera saja menggertak, "Awas kamu kalo' berani sama aku ! nanti aku bilangin sama Bapakku ! Bapakku polisi, nanti ditembak kamu !". Mendengar gertakan anak sekecil Radja akhirnya preman tersebut pergi. Setelah dirumah dan mendengar ceritanya saya jadi tertawa-tawa, bisa aja anak ini.

Ketika Radja pindah sekolah di kelas II, ada anak yang lebih besar sering meminta uang kepadanya. Namun Radja tidak pernah memberikannya dengan alasan tidak punya uang. Setiap pulang ia selalu cerita kepada mamanya mengenai hal tersebut. Awalnya kami merasa khawatir karena aksi bullying tersebut dan sekolah ini merupakan lingkungan baru buatnya. Hingga pada suatu hari ia cerita kembali, kalau ia tadi dimintain uang lagi oleh temannya. Kemudian Radja mengatakan kalau ia tidak punya uang. Nah ketika pulang sekolah, Radja membeli ikan cupang kepada seorang pedagang ikan yang biasa mangkal di depan sekolah. Ketika Radja membeli ikan tersebut temannya tadi melihatnya. terjadilah percakapan, "Ja...! katanya lu nggak punya uang. Itu kok lu beli ikan !" kata temannya marah. Dengan santai Radja menjawab, "Yee.. orang gua aja ngutang. Kalo' nggak percaya tanya aja sendiri sama abangnya". Sambil berkata begitu Radja menunjuk ke arah pedagang ikan yang tidak mengerti masalahnya. Mendengar alasan tersebut akhirnya temannya pergi. Memang ada saja akalnya Radja, masak anak kecil beli ikan ngutang ? Aneh ?. Tapi dalam kondisi tersebut saya melihat solusi cepat dari Radja dalam menghadapi masalahnya. Walaupun sedikit nggak masuk akal. Kami berdua yang mendengar ceritanya jadi tersenyum. Untunglah... ternyata Radja tidak mempan di bullying.


Berani

Berani karena benar. Merupakan kata-kata yang sering kami tanamkan kepada anak-anak. Jangan takut kalau kamu benar, hadapi saja. Dalam pergaulan anak-anak pasti sering terjadi konflik yang akhirnya menimbulkan pertengkaran. Selama pertengkaran terjadi antara anak-anak, kami selalu membiarkannya. Paling besok juga sudah baikan lagi. Jangan sekali-kali orang tua ikut campur apalagi sampai membela anaknya yang kadangkala belum tentu benar. Orang tua hanya melerai dan menasihati kedua pihak agar saling akur dan jangan berkelahi.

Walaupun usianya lebih muda dan tubuhnya lebih kecil dari teman-temannya, saya selalu memberitahukan kepada Radja, jika kamu benar dan dipukul oleh temanmu yang lebih besar, kamu harus melawannya. Jika kamu kalah berkelahi, pulang saja tapi jangan menangis. Kalau kamu sudah siap untuk berkelahi baru kamu tantang lagi. Tapi jangan pernah jahat apalagi berkelahi dengan anak perempuan, malu !. Begitulah pesan saya kepada Radja apabila ada yang jahat kepadanya.

Memang sedikit agak ngawur ngajarinya, namun saya punya alasan sendiri. Bagi saya anak laki harus berani selama ia berada dipihak yang benar. Namun harus mengukur diri, jika tidak bisa dilawan, sebaiknya hindari. Perlawanan kita terhadap dominasi seseorang dalam pergaulan biasanya akan menimbulkan rasa simpati atau respect dari orang lain. Dalam bergaul jangan menjadi pecundang, anak bawang yang suka diperintah dan jadi bulan-bulanan. Dalam pergaulan semua harus sejajar sehingga hubungan akan menjadi harmonis dan kuat.

Ajaran ini pernah dialami oleh Radja. Suatu hari ia pulang dari bermain dengan baju yang kotor dan wajah cemberut. Ketika ditanya ada apa, ia menjawab habis berkelahi dengan temannya. Ketika saya tanyakan, apakah ia yang nakal atau bukan? kemudian dia menjawabnya bukan. Kamu berani ? tanya saya lagi. Jawabnya, Berani !. Terus di lawan ?. Iya aku lawan, jawabnya. Terus ? tanya saya lagi. Aku kalah, habis badannya lebih besar, alasannya [memang anak tersebut lebih tua dan lebih besar]. Kamu nangis tidak?. Nggak, aku nggak nangis, katanya sambil tetap cemberut. Bagus ! Papa bangga sama kamu, jawab saya memujinya. Akhirnya Radja bisa tersenyum senang. Yang penting ia sudah mencoba melawannya. Kalau saja ia membiarkan dirinya menjadi bulan-bulanan, maka dalam pergaulan ia akan jadi bahan cemoohan dan bulan-bulanan teman-temannya. Efek dari perlawanan Radja terhadap temannya yang lebih besar bukan soal gaya-gayan, tapi membela prinsip kebenaran. Insya Allah teman-temannya akan lebih menghargai keberaniannya.

Saya jadi ingat ketika kami tinggal di Cikarang dahulu. Usia Radja waktu itu baru 3 tahun. Suatu ketika ada rumah tetangga kami yang kemalingan. Nah, ceritanya ada seorang maling yang terperangkap di dalam loteng. Semua warga berkumpul, ramai sekali waktu itu. Ada yang membawa pentungan, golok, dan senjata aneh lainnya. Saya ikut pergi untuk menonton kejadian itu. Ketika mau pergi itulah Radja memaksa mau ikut. Gayanya dan bicaranya rada aneh, "Sudah Pah, tembak aja malingnya ! Papa kan punya pistol ! " teriaknya ramai sekali dengan suasana di sana. Sementara di rumah, Sasha menangis ketakutan karena mendengar ada maling dan ramainya orang di luar sana. Akhirnya saya melarangnya untuk ikut dengan alasan, agar ia di rumah saja menjaga Mama dan Kakaknya. Setelah beberapa jam, akhirnya maling yang sedang apes tersebut tertangkap dan dibawanya ke kantor polisi. Ketika mau masuk pagar saya melihat Radja kecil sedang berdiri did epan pintu rumah kami dalam posisi siap dengan sebuah pemukul bisbol yang bahkan lebih tinggi dari tubuhnya. "Ngapain de, kamu sendirian di sini ? Bawa tongkat bisbol lagi" tanya saya. "Aku lagi jagain Mama dan Teteh !" katanya mantap. Hebat kamu de !.



Jodoh Buat Tasim

Jakarta, Oktober 2009

Sampai sekarang Tasim belum dapat jodoh alias belum menikah. Bahasa ABG nya si Tasim masih ngejomblo. Kasihan Tasim. Padahal usianya sudah hampir setengah abad. Teman-teman kecilnya di kampung mungkin sudah memiliki cucu atau anak remaja. Sementara Tasim masih mlungker tidur sendiri kedinginan. Ah, memang dasar si Tasim yang sok. Padahal bukan sedikit wanita yang ingin menikah dengannya. Namun si Tasim ini 'pilih-pilih tebu' ketika sudah dipilih malah dapat yang nggak ada gulanya.

Pernah si Tasim di jodohkan dengan wanita bernama Jamilah. Jamilah ini cukup cantik untuk ukuran kota kecil tempat Tasim tinggal. Profesinyapun seorang wiraswastawati. Jamilah memiliki kios ikan di pasar. Penghasilannya pun sudah lumayan. Cukuplah untuk hidup berkeluarga. Sudah cantik, pintar cari uang dan masih gadis lagi. Apanya yang kurang. Akhirnya orangtua Tasim meminta bantuan teman saya untuk membantu proses perkenalan Tasim dengan Jamilah. Awalnya Tasim disuruh untuk membeli ikan di pasar. Lokasinya harus di kios ini dan di jalan itu. Pokoknya spesifik lah. Berangkatlah Tasim menuju pasar untuk bertemu ikan dan membeli Jamilah... ups salah... maksudnya untuk membeli ikan dan bertemu dengan Jamilah.

Tasim akhirnya curiga karena dia tahu kalau majikannya tidak suka ikan tetapi kenapa hampir setiap saat minta di belikan ikan di warung Jamilah. Suatu saat dia bertanya kepada teman saya tersebut kenapa selalu disuruh membeli ikan di kios Jamilah. Akhirnya teman saya menceritakan maksudnya yaitu agar Tasim bisa kenal dengan Jamilah. Ketika ditanyakan mau tidak dijodohkan dengan Jamilah. Tasim malah menjawab, Iya sih orangnya manis tapi sayang bau amis. Halahhh.... Tasiimmmm....

Kisah Si Tasim

Cibinong, 06 Oktober 2009

Namanya Tasim, orang Jawa tulen, saya sendiri tidak menanyakan arti dari nama Tasim. Mungkin artinya sangat bagus, makanya orangtuanya memberikan nama Tasim kepadanya. Tasim sejak kecil sudah berperilaku aneh, salah satunya adalah sebelum berusia 9 tahun Tasim kecil suka menyendiri dan tidur di pinggir sungai. Mungkin Tasim sering mendengar cerita tentang Sunan Kalijaga sehingga memberi inspirasi kepadanya. Tidur di sungai, bahkan orang kampungnya menganggap sesuatu yang aneh. Apalagi saat hal tersebut diceritakan kepada saya. [Tasimmm.....]

Untunglah kebiasaan Tasim kecil ini akhirnya dapat berhenti menginjak usia 9 tahun. Akhirnya Tasim mau juga tidur di rumah, tetapi itupun bukan dirumahnya sendiri, melainkan di rumah milik tetangganya. Untungnya tetangga Tasim ini berbaik hati memberikan Tasim tempat tinggal. Bukan hanya itu saja, Tasim kecil dapat dengan nyaman makan minum bahkan akhirnya disekolahkan. [Beruntungnya Tasim.]

Tasim sekarang usianya sudah 45 tahun dan belum menikah. Sekarang ia bekerja sebagai pembantu rumah tangga di rumah anak dari tetangganya dahulu. Karena sempat menginjak pendidikan hingga madrasah tsanawiyah makanya Tasim sangat pandai dalam urusan mengaji. Bahkan tulisan arab gundulpun dapat dipahaminya. Teman saya bilang orangnya pintar bahkan jenius. Seperti kebiasaan orang jenius seperti Einstein dan Thomas Alfa Edison, Tasim juga unik. Semua yang dilakukannya hanya menurut keinginannya sendiri. Jika menurutnya suatu hal baik pasti orang lain harus menilainya baik. Jika menurutnya benar, orang lain juga harus mengatakan hal tersebut benar. Jadilah Tasim orang egois yang hidup dalam dunianya sendiri. [Hehehe... Tasim... Tasim...]

Setiap orang akan dipanggilnya dengan sebutan “Heh..”, sekalipun kepada teman saya yang jadi majikannya. Pak Ustadz, Pak RW bahkan Pak Kades akan disapanya dengan panggilan “Heh...”. Awalnya mereka semua komplain kepada teman saya. Biasanya mereka bilang, si Tasim songong, tidak sopan dan kurang ajar. Komentar teman saya paling hanya bilang, “maklumlah pak orangnya kurang segenggam...”. Akhirnya lama kelamaan mereka semua dapat memakluminya. [Dasar Tasimmmm...]

Pekerjaan Tasim hanya sebagai pembantu rumah tangga, namun sepertinya dia tidak menyadarinya kalau pekerjaannya adalah pembantu rumah tangga. Tasim selalu mengatakan bahwa ia adalah anggota keluarga dari teman saya ini. Bahkan dia menganggap dirinya adalah kakak dari isteri teman tersebut. Namun Tasim orang yang baik hatinya. Tasim sangat membela keluarga ‘majikannya’ ini. [Siapa dulu... Tasiimmm ...]

Pernah suatu kali ketika isteri teman sedang hamil ingin melahirkan, sementara teman saya sedang tugas di luar kota. Tasim bergegas memanggil mobil sewaan untuk membawa isteri teman tersebut ke rumah sakit. Tetapi mobil yang dibawanya adalah mobil pickup untuk mengangkut sampah dan material. Setelah sampai di rumahnya akhirnya si sopir yang malah jadi malu dan tidak mau mengangkut sewaannya. Setelah di tolak oleh sopir tersebut Tasim tiba-tiba langsung menyetop kendaraan pribadi yang kebetulan lewat. Kepada pemilik kendaraan tersebut, Tasim langsung meminta tolong agar membantunya mengantarkan istri teman yang akan melahirkan. Untungnya pemilik kendaraan yang distop berbaik hati dan mengantarkannya ke rumah sakit. Uniknya, si pemilik kendaraan tersebut akhirnya menikah dengan adik dari istri teman saya ini. [Ternyata jodoh itu di tangan si Tasim.]



To be Continued

Jalan Hidup Yang Tak Sama

Cibinong, 06 Oktober 2009


Kehidupan setiap manusia, menurut saya, adalah misteri bagi yang lainnya. Itu menurut saya. Bagaimana tidak ? setiap jalan hidup yang ditempuh masing-masing orang akan berbeda satu dengan lainnya. Mungkin inilah mengapa Allah SWT melengkapi ciptaan Nya dengan akal dan nafsu. Disatu sisi kita memiliki ukuran dan disisi lain kita dapat dibutakan. Saya sendiri masih penasaran tentang jalan cerita kehidupan diri ini. Akan seperti apa nantinya. Pastinya saya selalu berdoa agar diberikan akhir yang baik.

Seorang teman malam ini datang menceritakan kisah yang menurut saya hanya ada di sinetron. Bahkan jika dibuat sinetron pun akan mengundang kontrovesial. Saya tidak dapat menceritakan detailnya namun saya masih terus memikirkan bagaimana sampai hal tersebut bisa terjadi.

Kehidupan kami dalam berkeluarga Alhamdulillah lancar-lancar saja. Jika ada masalah yang besar saya selalu yakin bahwa masalah tersebut suatu saat akan selesai dan pasti ada hikmah yang terkandung di dalamnya. Biasanya selalu seperti itu. Allah Yang Maha Agung pasti akan memberikan jalan keluar kepada setiap hamba Nya. Hanya jalan keluar itu yang kadang tak dapat kita temukan. Oleh karenanya kita perlu nasihat atau pendapat orang lain.

Jalan keluar ini saya menyebutnya rumus. Kita pernah mendengar kata-kata, bahwa semua penyelesaian masalah harus menggunakan rumus yang tepat. Hasilnya adalah pengetahuan dan pengalaman, itu yang saya bilang sebagai hikmah atas suatu kejadian. Masalahnya sebagian dari kita awam masalah ini, termasuk juga saya.

Sebagai seorang muslim yang masih awam dan bodoh saya jadi diingatkan kembali tentang definisi dari kata Islam. Karena asal kata Islam berarti selamat, maksudnya adalah jika kita masuk dalam agama ini kita dijamin akan selamat. Selamat di dunia dan di akhirat tentunya. Ketika Rasulullah Muhammad SAW menyelesaikan tugas kerasulannya beliau berpesan kepada umatnya untuk kembali kepada Alquran dan Sunahnya. Itu jika kita mau selamat. Kalau tidak mau ? terserah masing-masing. Karena kekuasaan Allah SWT tidak akan berkurang sedikitpun walau sebagian besar dari kita ingkar kepada Nya.

Itulah perlunya akal yang diberikan Allah SWT kepada kita. Sebagai alat untuk berpikir dan mengukur segala perbuatan kita. Sebagai alat saja tentunya, karena pedoman atau rumusnya ada dalam Alquran dan hadist. Luar biasa pelajaran malam ini. Karena jalan hidup kita yang tak sama, Alquran akan memandu kita memecahkan segala permasalahan yang terjadi. Memang saya sendiripun hanya bisa membacanya saja tapi belum bisa mengkaji lebih dalam bahkan mengamalkannya secara sempurna. Oleh karena itu kita perlu bantuan guru, ustadz dan ulama untuk membantunya. Yakinlah bahwa Allah SWT tidak akan melimpahkan beban yang berat diluar kemampuan hamba Nya. Namun jangan khawatir rumus dan jawaban dari setiap masalah kita sudah tersedia.

Allahumma Laa shla illa maa ja’altahu sahlan wa anta taj’alul hazna idzaa syi’ta sahlan

[Ya Allah, tiada yang mudah selain yang Kau mudahkan dan Engkau jadikan kesusahan itu mudah jika Engkau menghendakinya jadi mudah –HR Ibnu Hibban]

Monday, October 5, 2009

Panen Perdana Pohon Jengkol

Cibinong, 02 Oktober 2009



Siapa sih yang nggak kenal dengan jengkol ? saya rasa semua orang pasti kenal. Masalahnya adalah like and dislike, bener nggak ? Kalau orang yang nggak suka janganlah mendiskreditkan orang yang suka. Kata D’masiv tiada manusia yang terlahir sempurna. So don’t give up ! Halah... apalagi hubungan antara jengkol dan D’masiv.

Sebenarnya saya ingin berbagi cerita tentang panen perdana pohon jengkol di belakang rumah. Atas petunjuk orang tua saya yang mengatakan bahwa sample jengkol yang saya berikan untuk lalapan ternyata sudah tua dan siap untuk di panen. Akhirnya pada hari Kamis kemarin (01-10-2009) sekitar pukul 10.00 WIB dibawah supervisi langsung istri saya akhirnya panen perdana dimulai. Panen perdana yang tadinya saya rencanakan akan dilakukan oleh Presiden SBY ternyata batal. Hal tersebut disebabkan adanya musibah gempa bumi di Sumatra Barat. Pak SBY tidak jadi datang karena beliau langsung mengunjungi korban gempa. Kecewa memang namun, show must go on ! Akhirnya panen dilakukan dengan menggunakan tenaga Alam. (Kebetulan si Alam, tukang kebun saya, baru masuk setelah menjalani cuti lebaran selama beberapa hari).

Karena ini panen perdana, kami tidak berniat mengkomersilkannya. Semua hasil panen kami dedikasikan untuk keluarga dan tetangga terdekat. Kebetulan keluarga masuk dalam Komunitas Penggemar Jengkol (KPJ) dalam sebuah jejaring sosial Facebook. Tetangga juga perlu mendapatkan haknya atas hasil panen tersebut. Ini merupakan bentuk tanggung jawab kami sebagai owner atau istilah kerennya Social Responsibility. Mengapa ? karena ketika sedang lebat-lebatnya berbunga dibarengi oleh musim hujan. Hampir setiap hari hujan. Nah, bunga jengkol yang cantik dan lebat tersebut akan menyebarkan bau harum khas jengkol dalam radius 50 m dari posisinya. Dapat dibayangkan bagaimana tersiksanya tetangga kami harus menerima kenyataan tersebut.

Si Alam sebenarnya sudah menyampaikan niatnya untuk memborong hasil panen jengkol tersebut. Namun kami merasa belum pantas untuk melepas hasil panen kami di pasaran. Hasil panen kami hanya memperoleh 15 kg jengkol segar, memang jauh dari memuaskan. Bayangkan ketika berbunga dahulu, dari setiap ranting keluar bunga jengkol berseri-seri. Sayangnya alam tak bersahabat. Mungkin Ebiet G Ade ada benarnya. Mungkin alam murka dengan kesombongan dan keserakahan manusia. Hujan lebat memupuskan harapan kami semuanya. Cita-cita kami membuat ruko dari panen jengkol luluh lantak seketika bersama dengan gugurnya bunga-bunga tersebut. Ditambah lagi dengan serangan ulat dan tupai. Kami baru tahu kalau tupai ternyata juga senang jengkol. Soalnya Kiki dan Koko dalam serial Donald Duck senangnya makan kenari. Mungkin ini tupai dari Betawi jadi senang jengkol.

Bagaimanapun juga kami sangat mensyukuri hasil panen tersebut. Karena ini merupakan hasil panen tanaman di kebun milik sendiri. Mungkin tahun depan di musim jengkol berikutnya akan lebih baik lagi. Motto kami adalah We will be better !

Jengkol dalam bahasa latin Pithecollobium Jiringa atau Pithecollobium Labatum.

National Geographic POD