Sunday, November 29, 2009

Barcelona VS Real Madrid




Senin, 30 November 2009

Tumben-tumbenan (bahasa Betawi yang artinya jarang sekali) saya begadang untuk menonton pertandingan sepakbola. Padahal esoknya hari Senin, hari yang lalu lintasnya bikin mules. Akibat termakan iklan dan pemberitaan tentang bagaimana hebatnya pertandingan nanti malam, akhirnya dibela-belain ikut nonton juga.

Saya tidak termasuk dalam katagori orang yang senang sepakbola. Moment yang saya senangi hanya piala dunia dan Liga Champion. Selebihnya dengar saja dari teman-teman. Oleh karena itu tidak ada kapasitas saya untuk ikut-ikutan menilai sebuah pertandingan sepakbola. Apalagi sekelas El Real dan Barca ! Nggak berani ah....

Tapi setelah menonton sekitar tiga perempat pertandingan semalam (sepertiganya saya tertidur), saya jadi kecewa dengan nama besar Real Madrid. Melihat pertandingan semalam, tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap nama besar Real Madrid, Christiano Ronaldo, dan Kaka, komentar saya hanya satu; Menyedihkan !!!

Bagaimana bisa dua orang pemain sepak bola (sekalipun yang paling jago dan paling mahal) bermain melawan sebelas pemain lawan !

Sebaliknya, salut untuk Barcelona yang menyajika permainan bagus. Inilah yang harus dilihat oleh pemilik klub Real Madrid. Mungkin si Pelatih Real Madrid belom tahu kalau permainan bola adalah permainan sebuah tim yang pemainnya berjumlah 11 orang.

27 November 2009

Cibinong, 27 November 2009

Hari ini tepat ulang tahun istriku yang ke-36, bersamaan dengan hari raya Idul Adha. Rencana awalnya kami akan merayakannya di rumah nenek di Jakarta. Namun acara mendadak berubah karena satu dan lain hal. Tiba-tiba saja Teteh di Curug ingin datang ke rumah kami. Kakak-kakak saya juga ingin datang berkunjung. Akhirnya diputuskan mendadak untuk menjamu mereka di ruma saja.

Kabar gembira datang ketika nenek Bandung telepon akan datang hari itu ke rumah kami, begitu juga nenek dan kakek Jakarta. Istriku senang sekali, saat istimewanya dihadiri semua orang-orang tercintanya. jadilah kemarin rumah kami penuh dengan semua anggota keluarga. Aki Kemal dan Ninda juga ikut datang. Wuih... rame deh. Rumah kami penuh, untungnya ada taman belakang yang dapat difungsikan sebagai tempat berkumpul.

Selamat ulang tahun ya Ma...
Semua doa dan harapan yang terbaik untukmu...

Inilah bahagianya menjadi orang yang dicintai,
Inilah indahnya mencintai dan dicintai...

We love You

Kebahagiaan di Hari Raya

Cibinong, Jumat 27 November 2009

Allahu Akbar....
Allahu Akbar....
Allahu Akbar....

Suara takbir bergema bersahut-sahutan. Hari ini merupakan hari bahagia buat kaum muslimin di seluruh penjuru dunia. Hari di mana sebagian umat yang mampu diuji keimanannya dengan menyerahkan simbol berupa hewan kurban. Semuanya bergembira, terutama kaum dhuafa yang menerima jatah daging kurban. Masjid-masjid penuh sesak, orang berdesakan mengantri pembagian jatah dari panitia. Ada yang kesal karena kepanasan, ada yang senang sambil merencanakan membuat sate nanti malam, dan ada yang pasrah saja karena belum kebagian kupon. Demikian potret umat Islam di Indonesia.

Ada teman yang mengkritik fenomena ini dengan mengatakan keserakahan kaum miskin untuk berlomba-lomba mengumpulkan jatah daging hewan kurban. Para calo daging diberitakan sedang menawar jatah daging kurban dari seorang anak yang terlihat menenteng kantong keresek. Sementara ada puluhan tukang becak yang memuati becaknya dengan kantong daging dari beberapa masjid. Macam-macam kejadian yang membuat kita terharu sedih, tertawa, marah, dan mungkin sedikit kesal dengan adegan tersebut.

Bagaimanapun mereka adalah saudara kita sesama muslim. Kemiskinan membuat mereka menjadi seperti itu. Antri di terik panas matahari dan berteriak-teriak. Jangan dimarahi, jangan dihina, dan jangan diacuhkan. Seharusnya kita yang mampu berkewajiban memuliakan mereka. Kalau tidak bisa setiap hari, yah... paling tidak satu hari ini saja.

Yang terbaik seharusnya mengantar jatah daging ke rumah-rumah mereka. Menyapa mereka di balik pintu rumahnya dengan senyum. Wah, mana sempat seperti itu mas ! kata temanku. Ini saja sudah repot !. Setahun sekali saja kenapa tidak. Toh hari ini kita semua libur bekerja. Kalau mau mendengarkan Gus Dur, Gitu aja kok Repot !

Mas Thukul telepon saya, ketika saya tanyakan apakah ditempatnya ada yang kurban. Dia bilang tidak ada sama sekali. Korban perasaan katanya sedih. Nggak enak juga mendengarnya. Sementara di Jakarta semua mendapat jatah daging kurban. Saking berlebihnya, orang mampu juga kebagian bahkan panitia tampak sibuk dengan kantong-kantong daging pilihannya. Aduh... nasibmu Khulll...!

Bagaimanapun juga, melihat kebahagiaan mereka membuat saya ikut bahagia. Tahun lalu saya dan istri memiliki kesempatan langka, sholat Idul Adha di Masjidil Haram. Inilah yang membuat kami sangat terharu. Semoga Allah SWT selalu mencurahkan rahmat Nya kepada semua umat muslim di muka bumi ini. Amin.

Sunday, November 1, 2009

Thukul

Yang satu ini bukannya Thukul Arwana atau Reynaldi yang di acara talkshow Bukan Empat Mata. Bukan juga Wiji Thukul yang seniman. Thukul yang ini adalah seorang petani yang tinggalnya di gunung. Jauh dari hiruk pikuk dunia selebritis dan gemerlapnya Jakarta. Hanya seorang petani.

Entah bagaimana ceritanya dipanggil Thukul kita semua juga tidak tahu. Nama sebenarnya sangat bagus, Khoiri. Khoir dalam bahasa Arab artinya baik. Mudah-mudahan seperti harapan kedua orangtuanya, selalu berbuat baik.

Masa kecilnya dilaluinya di sebuah desa di Jawa Tengah. Walaupun namanya berarti baik ternyata Thukul alias Khoiri pernah menjadi momok bagi anak-anak di desanya karena kenakalannya. Nakalnya memang hanya sebatas nakalnya anak desa yang sering berkelahi. Namun kenakalannya disebabkan karena hidupnya yang pas-pasan. Menurutnya, hanya untuk dapat jajan. Tetapi itupun tidak dengan mencuri. Biasanya ia meminta uang dari teman-temannya yang berlebihan uang jajan. Jika tidak diberi maka akan terjadi perkelahian.
Kenakalannya inipun hanya terjadi di luar rumahnya. Jika berada di rumah, Thukul adalah anak yang patuh dan rajin membantu kedua orangtuanya. Setiap hari selalu membantu kedua orangtuanya bertani. Bapaknya adalah seorang petani yang bekerja keras demi keluarganya. Temperamen bapaknya yang keras membuatnya menjadi orang yang tangguh dalam bekerja. Hingga pada suatu hari kenakalan Thukul di luar terdengar ke telinga bapaknya. Akibatnya dalam usia yang masih muda Thukul diusir oleh Bapaknya. Sementara ibunya tidak dapat berbuat apa-apa. Akhirnya Thukul remaja pergi meninggalkan keluarganya.

Pengembaraan Thukul meninggalkan keluarganya ketika usianya masih 12 tahun. Untuk mencukupi kebutuhan hidupnya ia bekerja menjadi buruh di sebuah pabrik kerupuk di kotanya. Awalnya hanya membantu pekerjaan ringan. Setelah beberapa bulan bekerja akhirnya ia mulai ditugaskan menggoreng kerupuk. Pekerjaan yang berat dan penuh resiko untuk anak seusianya. Namun baginya tidak ada pilihan lain demi sesuap nasi. Tanpa terasa sudah dua tahun Thukul pergi meninggalkan keluarganya. Kepergiannya menjalani hidup menjadi buruh pabrik kerupuk tanpa sepengetahuan keluarganya. Kakak-kakaknya sudah menikah dan tinggal di Jakarta. Ketika mereka pulang kampung dan tidak mendapatkan adiknya mereka sibuk mencari keberadaanya. Sementara Bapaknya tetap keras pada pendiriannya.

Akhir petualangan Thukul muda berakhir dengan pertemuan tidak sengaja dengan salah seorang tetangga kampungnya. Informasi keberadaan Thukul akhirnya diketahui pihak keluarga. Atas permintaan ibunda tercinta akhirnya Thukul luluh dan mau kembali pulang.

Kepulangan Thukul ke rumah tidak bertahan lama. Mungkin karena sudah terbiasa mandiri akhirnya Thukul kembali pergi meninggalkan rumah. Bedanya kali ini kepergiannya atas izin kedua orangtua. Ia pergi bersama kakaknya bertransmigrasi ke Sumatra. Sebagai seorang transmigran mereka mendapatkan rumah dan lahan untuk dikelola. Kehidupan sebagai transmigran menurutnya sangat menyedihkan. Apalagi untuk pemula seperti ia dan kakaknya. Pekerjaan awalnya adalah membuka lahan seluas 3 hektar miliknya. Komoditas yang ditanampun sudah ditentukan yaitu kelapa sawit. Untuk dapat menikmati hasil panennya mereka harus menunggu selama kurang lebih lima tahun. Sementara untuk menutupi kebutuhan sehari-hari mereka harus berkebun sayuran. Kebutuhan hidup hanya pas untuk makan saja. Selebihnya mereka harus berusaha keluar masuk hutan untuk mencari sesuatu yang dapat dijualnya. Mencari rotan dan mencari pohon sagu salah satunya. Jika sudah mencari rotan mereka harus pergi ke dalam hutan selama sebulan. Selama mencari rotan keluar masuk hutan mereka hanya berbekal garam dan sekarung beras. Untuk lauknya mereka mengandalkannya dengan cara berburu binatang hutan. Menjerat binatang seperti kelinci dan burung adalah cara yang paling mudah. Bahkan mereka pernah beruntung menemukan kijang sisa buruan harimau. Untungnya masih segar dan layak dimakan. Banyak pengalaman menarik yang dijumpainya selama pergi ke hutan mencari rotan. Bertemu harimau sumatra, dikejar beruang, atau dikeroyok sekawanan beruk. Untungnya selama ini mereka selamat dan tak pernah terluka. Karena menurut cerita penduduk setempat, serangan harimau gajah beruang bahkan lebah hutan bisa sangat membahayakan.

Kehidupan yang keras di hutan membuatnya tegar. Kegiatannya bertani membuat pengetahuannya bertambah. Menanam kelapa sawit, kopi, dan sayur-sayuran pernah dijalaninya. Cara menjerat rusa, babi hutan, burung juga pernah dilakukannya. Cara menghadapi serangan beruk, beruang, dan hewan buas ia tahu. Benar-benar menarik jika dia bercerita pengalamanny selama menjadi transmigran.

Karena suatu hal Thukul kembali ke Jawa. Atas ajakan saudaranya akhirnya ia bisa masuk bekerja di kantor. Pekerjaanya adalah menjadi cleaning service merangkap office boy. Sebagai karyawan kantoran di Jakarta sempat membuatnya nyaman. Uang mudah diperolehnya tanpa resiko diterkam harimau.

Namun rasa nyaman dengan penghasilan yang lumayan tidak membuatnya betah. Mungkin karena biaya hidup yang tinggi dan lika-liku kehidupan Jakarta yang keras membuatnya berubah fikiran. Ternyata hutan Sumatra masih lebih menarik daripada belantara Jakarta.

Ketika kami menawarinya untuk mengelola lahan milik bersama serta merta dia langsung menyanggupinya. Padahal penghasilannya jauh lebih rendah. Di lokasi lahan kami juga masih sepi. Tetangga terdekatnya berjarak 3 km. Rumahnya pun hanya dari kayu dan bambu tanpa listrik. Namun jiwa petualangan dan jiwa petani yang bebas membuatnya menerima tawaran kami. Akhirnya jadilah Thukul sekarang tinggal bersama keluarganya di atas sebuah di Jonggol.

Kemarin dia berkunjung ke kantor karena suatu urusan. Badannya hitam legam terbakar matahari. Lebih sehat dari kami semuanya. Tampak sangat menikmati perannya kembali menjadi petani. Sederhana namun memiliki kebebasan.

National Geographic POD