Monday, February 23, 2009

Ke Jonggol 21-02-2009

Anak ini harus berjalan kaki sejauh 4 km setiap harinya untuk sekolah;



Ada kampung dekat sini :



Lokasi yang 25 hektar di Desa Sukajaya Kecamatan Jonggol :





Pak Adim yang siap menjaga kebun;


Sudah banyak pohon kayunya tinggal merawat saja ;






Ada mata air pegunungan;



Lokasi yang berbukit;



Pemandangan dari atas ke arah Kec. Jonggol;


Lokasi 60 hektar yang sudah dibangun buat perkebunan pala dan peternakan kambing :


Tuesday, February 17, 2009

Investasi Kayu Sengon

Biaya Perawatan
Biaya Perawatan meliputi biaya pembersihan lahan dan pemberian pupuk serta pengendalian hama setiap 6 bulan sekali. Pekerjaan akan melibatkan tenaga kerja sebanyak 5 orang. Terdiri 1 (satu orang) pengawas dan 4 (empat) orang pekerja. Diperkirakan akan memakan waktu 7 hari kerja untuk setiap 1 hektar lahan. Proyeksi biaya perawatan selama 5 tahun adalah sebesar Rp. 9.000.000,-.
Perhitungan Biaya Perawatan :
Upah Tenaga Kerja per orang : Rp. 20.000 / hari
Jumlah Tenaga Kerja : 5 orang
Jumlah hari kerja : 7 hari
Jumlah Biaya per 6 bulan : Rp. 700.000,-
Jumlah By 5 Tahun : Rp. 7.000.000,-
Kebutuhan Pupuk : Rp. 2.000.000,-
Jumlah Biaya Perawatan : Rp. 9.000.000,-


Biaya Penyulaman
Biaya penyulaman adalah estimasi atas kemungkinan tanaman yang kurang sehat atau mati. Apabila perkiraan tanaman yang mati sebesar 25% dari total 4.000 tanaman. Maka jumlah penyulaman sebanyak 1.000 tanaman. Apabila biaya perawatan dan biaya bibit per batang adalah sebesar Rp. 5.250,-, [(Rp. 12.000.000 + Rp. 9.000.000) : 4.000 batang)] maka biaya penyulaman diperkirakan akan menyerap dana sekitar Rp. 5.250.000,-
Kebutuhan Dana Investasi Kayu Sengon
Perhitungan Biaya :
Pembelian Bibit Rp. 8.000.000,-
Ongkos Tanam Rp. 4.000.000,-
Biaya Perawaran Rp. 9.000.000,-
Biaya Penyulaman 20% est Rp. 5.250.000,-
Lain-lain Rp. 2.000.000,-
Total Biaya Rp. 28.250.000,-

Pemasaran
Pemasaran kayu sengon relatif lebih mudah, karena kayu sengon merupakan jenis kayu yang tingkat konsumsinya tinggi. Kebutuhan kayu sengon disamping untuk dijual sebagai kayu papan dapat pula digunakan sebagai kayu kaso, palet, bahan pembuat peti dan lain sebagainya. Ranting kayu sengon dapat pula dijual sebagai kayu bakar dan bahan baku pembuatan kertas (pulp). Pemasaran sengon di wilayah Jonggol biasanya dilakukan oleh tengkulak atau langsung dijual ke pabrik pemotongan kayu (sawmill). Harga pasar kayu beragam, saat ini harga satu batang pohon sengon usia tanam 5 tahun dapat dijual seharga Rp. 300.000 - Rp. 500.000,-. Sedangkan jika sudah dibuat papan atau balok dapat dijual seharga Rp. 1.000.000 - 1.200.000,- per m3.


Perhitungan Hasil Investasi
Jumlah tanaman per hektar lahan adalah sebanyak 4.000 batang dan prediksi susut sebesar 25% atau sejumlah 1.000 batang, maka setiap hektar lahan akan menghasilkan kayu yang dapat dipanen sebanyak 3.000 batang.
Apabila dijual kepada tengkulak (tebang ditempat) tanpa mengeluarkan ongkos tebang dan ongkos angkut sebatang pohon dapat dijual seharga Rp. 500.000,- (harga saat ini), sehingga perhitungannya menjadi sebagai berikut :
3.000 batang x Rp. 300.000,- = Rp. 900.000.000
Jadi selama 5 tahun masa tanam akan menghasilkan 3.000 batang kayu sengon per hektar lahan. Apabila diambil harga jual termurah yaitu sebesar Rp. 300.000,- per m3, maka hasil investasi kayu sengon selama 5 tahun adalah sebesar Rp. 900.000.000,- .
Hasil perhitungan tersebut berdasarkan estimasi terendah. Sebagai informasi, harga pasaran kayu sengon saat ini per batang dengan usia tanam 4 tahun adalah sebesar Rp. 500.000,-.

Disamping itu investor dapat memilih untuk menjual kayu dengan cara jual di tempat, yaitu dijual gelondongan tanpa biaya angkut dengan harga jual sebesar Rp. 300.000,- atau menjual kayu olahan dengan tambahan biaya angkut dan biaya pengolahan. Kayu sengon olahan dapat dipasarkan dengan harga Rp. 1.000.000,- sampai dengan Rp. 1.200.000,- per m3. Biaya pengolahan kayu (menurut informasi penduduk setempat) adalah setiap 3 m3 kayu gelondongan akan menjadi 2 m3 kayu olahan. Jumlah ini bersih yang akan diterima untuk pemilik kayu.

Thursday, February 12, 2009

CALEG PDIP



Bung Karno pernah dikasih tongkat komando dari Raja Siam. Tongkat itu sangat bagus sehingga Bung Karno suka sekali. Kemana-mana tongkat komando tersebut selalu dibawanya. Sampai orang-orang mengira kalau tongkat tersebut sakti dan memiliki kekuatan magis. Ketika berita tersebut ditanyakan oleh seorang pengawal pribadinya, beliau hanya bilang, bahwa tongkat tersebut hanya tongkat komando biasa. Pembuatnya manusia yang makannya nasi dan tidak ada khasiatnya apapun. (Dari buku karya Mangil tentang Bung Karno)

Jadi, berita tentang kekuatan supranatural Bung Karno beserta benda-benda peninggalannya hanyalah kabar yang dilebih-lebihkan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Bung Karno adalah tokoh yang luar biasa. Pantas dikagumi dan menjadi idola, namun demikian Bung Karno adalah manusia biasa. Kecerdasannya yang membuat beliau menjadi tokoh besar dunia.

Nah, bagaimana dengan penjelasan logis dari foto di atas ?

Monday, February 9, 2009

Hujan

Hampir setiap hari hujan
Hujan terus nih...
Ya, memang sudah musimnya sih
Para penduduk di daerah Jonggol
Mereka yang berada di daerah perbukitan
Sibuk menggarap sawah
Tanah yang biasanya kering kerontang
Serta merta diusahakan
Mudah-mudahan ada hasilnya untuk makan

Berapa upah seharinya Mang?
Murah Pak, hanya 15.000 rupiah
Anaknya berapa ?
Ada lima Pak, masih kecil-kecil
Istri Mang mana ?
Ada tuh, di sana itu
Oh... yang sedang mencabuti rumput
Iya...
Ikutan kerja juga ?
Iya, habis nggak cukup sih Pak
Memangnya Mang ini maunya bagaimana ?
Yah, saya sih yang penting nggak bingung makan
Anak-anak bisa sekolah

[diam.....]
[diam...............]
[diam...................]

Sementara gerimis semakin besar
Si Mang tetap sibuk dengan kerjanya
Sementara di sebatang pokok kelapa
Terpampang wajah caleg yang berjas dan berdasi
Menjanjikan sembako murah
Dan kehidupan yang sejahtera

Si Mang tidak melihatnya
Si Mang tetap sibuk dengan kerjanya

Jonggol, 7 Februari 2009

Radja dan Sasha Berantem

Minggu, 8 Februari 2009

Gara-gara nonton Idola Cilik hari Minggu kemarin, Radja dan Teteh berantem. Padahal maksud adiknya baik, mau ngajak tetehnya ikutan nonton. Tapi saat tetehnya ikutan nonton mulailah komentar tetehnya yang iseng. Radja yang kesal langsung memukul tetehnya. Jadilah berduanya berantem.

Mama yang sedang asyik baca tabloid jadi terganggu dan menghukum Radja di belakang rumah. Karena hujan, saya jadi kasihan dengan Radja. Akhirnya saya ikutan ke belakang nemenin adik dan membujuknya agar jangan sedih. Kemudian Sasha datang mengajak kami berdua masuk.

Ketika saya mulai nasihati mereka berdua, "Kenapa sih Teteh sama Ade berantem terus? kan kasihan Mama". "Habis ade tuh suka mukul duluan!" kata Sasha kesal. "Habis Teteh nyebelin!" kata Radja ikutan. "Sudah... sudah... Teteh sebagai kakak harusnya mengalah" saya memberi nasihat. "Masak Teteh terus sih yang harus ngalah, Ade juga dong" protesnya. "Iyaa... tapi Teteh jangan jadi bikin berantem" kata saya lagi. "Papa juga masih kecil sering berantem sama Om Iwan" katanya. "Iya, tapi kan nggak sering" kata saya membela diri. "Biarin aja berantem, namanya juga anak-anak, masih kecil" kata Teteh kembali nggak mau ngalah. "Tapi kalau berantemnya main pukul-pukulan kan jadi sakit. Kalau dipukul sakit makanya jangan suka main pukul" kata saya lagi. "Mending, daripada Papa... berantem bikin Mama Iyos pingsan" Teteh nya masih ngomel sambil cemberut.

Mendengar argumentasi anak-anak tersebut saya yang tadinya mau marah jadi senyum sendiri. Teteh memang ada saja jawabannya.

Sunday, February 8, 2009

KUNJUNGAN KE JONGGOL

Sabtu, 06-02-2009

Kemarin pergi ke Jonggol sama temen-temen untuk melihat lokasi tanah yang akan ditanami sengon. Ternyata ada lokasi baru yang mau dipasarkan lagi seluas 25 hektar dengan harga Rp. 7.000 /m2. Harga sudah termasuk akta jual beli notaris. Melihat lokasi yang baru ternyata cukup menarik juga nih. Disamping lebih dekat dengan jalan raya, jarak ke jalan raya 2 km, sedangkan tanah kami sebelumnya berjarak 4 km, tanah tersebut sebagian sudah ditanami sengon oleh Pak Haji. Wah, jadi makelar lagi nih...!

Hujan rintik-rintik tidak menghalangi perjalanan kami yang medannya cukup berat. Tanah yang becek dan jalan yang berbatu membuat mobil Pak Haji, Suzuki Jimny, diuji ketahanannya. Bener-bener Offroader sejati nih Pak Haji. Sementara perut dan badan kami sudah kenceng menahan goyangan mobil. Pak Haji tenang-tenang saja.

Setahun yang lalu rute ini kami tempuh dengan motor. Lumayan juga sih, sampai teman kami cedera tangannya karena keseleo akibat terpeleset di lumpur.

Perjalanan ke Jonggol nggak asyik kalau tidak mencicipi ayam bakar dan belut goreng lengkap dengan sambel dan lalapan. Ayamnya asli ayam kampung yang kalau digigit dagingnya 'ngelawan'. Sambelnya dadakan di lengkapi dengan lalapan dan pete bakar. Apalagi belutnnya..... Wuiiiihhhh....... Maknyusssss........

Di lokasi tanah kami sudah dibangun peternakan kambing dan tanaman sengon serta pohon pala. Lokasi tanah tersebut bersebelahan dengan tanah kami. Luas tanah yang diusahakan tersebut seluas 60 hektar. Ternyata kalau sudah dibersihin lokasi ini cukup menarik terutama view perbukitan di sekitarnya.

Foto-foto lokasi tanah di Kecamatan Jonggol

Lokasi 25 hektar yang dipasarkan :



Foto di depan jalan masuk :




Lokasi tanah kami sekarang :



Lokasi lain yang juga dipasarkan, sudah aad rumah Pak Haji :



Lihat pemandangan dari atas bukit :

National Geographic POD