Monday, October 6, 2008

Kumpulan Cerita Tentang Teman



Temen = Dodol
Cibinong, Ramadhan 26/09/2008


Kemarin (25/09), dapat email dari Wawan, memberitahu kalau dia baru dapet dodol Betawi dari temennya. Sambil meledek saya dia kirim email tersebut. Intinya sih protes ke saya. Katanya, Bon, bertahun-tahun gue bertemen sama elo, gue cuma dengerin cerita soal dodol aja. Nggak pernah ngerasain gimana rasanya dodol Betawi.
Setelah itu saya balas kirim email ke dia. Saya hanya bilang; Wan, ente kan sudah dewasa seharusnya bisa dong membedakan mana teman, mana dodol.
Kalau teman, ya, teman, kalau dodol ya dodol. [Bingung kan?]
Kalau teman jangan disamakan dengan dodol. [Tambah bingung lagi kan ?].
Masak teman mau di samakan dengan dodol. [Beginilah kalau lagi iseng, ngawur-ngawuran].
Dasar Wawan, kalau diajak ngawur tambah nyambung.
Dia balas lagi; O, iya ya Bon, beda ya..... [Tuh kan ! ngerti juga akhirnya].
Aku, kira kamu dodol... [halahh!!].



Trik nya Wawan
Cibinong, Ramadhan 26/09/2008


Wawan, temen yang satu ini antik. Pernah kasih trik agar nggak di palakin (dikompas=diperas=bullying, pen.). Kalau kita jalan di tempat yang banyak premannya.
Wah, menarik nih ? pake ilmu apa nih ? atau ente berguru ke Mbah Siapa ? atau ikutan Beladiri apa gitu ?
Nggak Bon, elo Cuma berlagak jadi orang bego’ aja. [Nah, lu !!]
Maksudnya gimana Wan ?
Ya... kalo’ gue lewat di tempat yang banyak premannya, baju gue langsung dikeluarin [biar nggak terlihat rapih, pen], trus kalo’ gue pake topi, topinya itu gue balikin, [Nah, lu !] Iya, beneran, terakhir kalo’ lu bisa ngiler, sengaja lu ngilerin, biar nge’ces [Waaaaa !!!].
Jadi Wan ???
Iya, jadi kayak orang idiot !!!!
Puantessss !!!


Tulisan di Truk !!!
Cibinong, Ramadhan 26/09/2008


Beberpa temen kantor ada yang iseng memperhatikan tulisan-tulisan aneh di body mobil [Biasanya truk atau bus]. Mas Ardi, Mas Arifin dan Wawan. Sampai sekarang pun kalau mereka sedang di jalan trus menjumpai tulisan aneh yang belum pernah dibahas, selalu mengirimkan SMS ke saya.
Pernah Wawan bingung seharian mencari arti dari tulisan “UTAMAKAN SARAPAN PAGI”. Kenapa ? itu pertanyaan yang muncul dibenak kami. Kebetulan saya juga pernah melihat tulisan ini ketika mau ke Bandung, tepatnya di daerah Cianjur. Ketika saya akhirnya menemukan filosofi dari tulisan tersebut, buru-buru deh saya kirim ke teman-teman. Rupanya, makna tulisan tersbut sangat dalam dan bijaksana sekali. Coba deh, di pikir, bagaimana kita dapat menjalani rutinitas kerja dengan baik kalau kita tidak sarapan. Rupanya, supir tersebut sangat concern sama kaum eksekutif yang workaholic sehingga melupakan pentingnya sarapan. Sekarang setiap pagi saya selalu menyempatkan diri untuk sarapan. Ternyata pola makan akan menjadi lebih teratur kalau kita sarapan pagi. [Try it !]
Waktu melewati tol Cikampek, saya dan istri tertawa-tawa melihat tulisan di body truk. Mobil truknya besar dengan karoseri bak kayu dan tertutup terpal biru. Kondisi saat itu hujan. Tulisan di body truk “PENCULIK JANDA”. Saya dan istri membahasnya sambil tertawa. Jangan-jangan di bail terpal itu banyak janda yang sudah mereka culik. Sambil terbayang wajah Dessy Ratnasari, Ulfa Dwiyanti, Tamara Blezinsky, dan janda-janda lainnya yang kondisinya menggigil kedinginan. [Hehehehe...]
Yang saya belum kasih tahu ke Wawan [kalau sekarang, ketika sudah menikah mungkin akhirnya mengerti juga kali ya...], dia masih bingung ada tulisan di truk “PAPAH PULANG MAMAH KERAMAS”. [.......?????].


Awas Pri.....!!! Blebegblebegblebeg.........
Cibinong, Ramadhan 28/09/2008, Pukul 12.23 WIB


Pernah suatu hari kantor kami wisata ke Anyer. Kami menginap di cottage yang lumayan bagus di tepi pantai, lengkap pula dengan kolam renangnya. Pagi harinya beberapa teman sudah duluan nyemplung di kolam. Mas Benny, Wawan, Supri, Agus dan saya. Dari semuanya tadi hanya Supri yang tidak dapat berenang. Katanya sih pernah trauma masa kecil saat Pramuka. Ketika melintasi balong (mungkin semacam rawa) yang berlumpur dia terjebak dan akhirnya tenggelam. Beruntung sempat tertolong dan selamat, mungkin kalau tidak sempat riwayatnya sama dengan Supriyadi komandan PETA yang hilang itu.
Di kolam renang, kami yang pandai berenang asyik di tempat yang dalam. Sementara Supri asyik di ujung kolam sana bersama anak-anak main air. Entah karena tidak diajak bermain dengan anak-anak karena ketuaan, ia nekat berenang ke arah kami. Awalnya saya tidak memperhatikan kalu ia berenang dengan hebohnya kecipak-kecipuk dari ujung kolam yang dangkal. Tanpa terasa tiba-tiba ia sudah bergerak ke arah kolam yang lebih dalam. Saya sedang duduk di pinggir kolam ketika melihat Supri berenang ke arah kami. Melihat Supri yang tengah sekuat tenaga berenang, spontan saya teriak (jujur tidak ada maksud buruk loh Mas Pri). “Awas Priii !! itu kan dalam !!”. Lalu sekonyong-konyong tubuh Supri terlihat panik dan blebegblebegblebeg..... Karam... seperti kapal TITANIC. Melihat Supri tengah asyik tenggelam seperti itu, (anehnya kok lucu) saya malah tertawa-tawa (sekali lagi maaf loh Mas Pri !!). Beruntungnya ada yang waras, seperti anggota Laskar Baywatch, Mas Benny yang berdiri dibelakang saya langsung terjun. Byuurrrrr..... Masuk ke dasar kolam dan mendorongnya dari bawah. Terinjak injak dan sempat minum air kolam juga rupanya mas Benny (Maaf juga loh Mas Beny !). Akhirnya Supri berhasil saya pegang ditarik ke atas. Memang jaraknya sudah sedikit lagi sampai ujung kolam. Mungkin kalau tidak saya teriaki, Supri berenang dengan indahnya dari ujung ke ujung. Kalau saya tidak teriaki, Supri mungkin berhasil sekali dalam hidupnya berenang. Dan Mungkiiin, kalau saya tidak saya teriaki, Supri bisa dengan bangganya bilang ke anaknya (Khrisna), Ayah (dulu) juga jago berenang. Tapi mau bagaimana lagi. Setelah di teriaki Supri kandas, karam dan tenggelam dengan indahnya, meluncur ke bawah kolam.
Komentar Supri setelah selamat. Dengan muka pucat dia bilang “Sialan luh Bon, aku tenggelam kamu ketawain” dengan logat Jawa-nya yang kental (persisnya dari Trucuk, Srebeggede, Klaten, Jawa Tengah). Sekali lagi saya mohon maaf loh Mas. Besok kan lebaran 1429 H, dalam kesempatan yang suci ini, dari lubuk hati yang paling dalam saya mengucapkan Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.


Kamu sih Bon ...
Cibinong, Ramadhan 29/09/2008, Pukul 01.32 WIB

Suatu ketika ada tugas mendadak dari Kanwil VII DJP di Bandung, menyerahkan laporan untuk bahan Rakorda. Pesannya penting dan besok pagi mau dipakai sebagai bahan rapat. Sementara kabarnya baru kami terima melalui faks sore hari.
Pak Yanuarsyah, Kepala Seksi PPh Badan KPP Cibinong, langsung memerintahkan kami agar menyiapkan bahan rapat tersebut. Karena bahannya banyak dan memerlukan waktu, terpaksa kami semua lembur. Rupanya, dengan setia istri Pak Yanuar beserta anaknya datang ke kantor, agar pulangnya bisa diantar. Sementara Pak Uke juga didatangi istrinya ke kantor (kalau yang ini nggak tahu deh, mau jemput atau apaa... gitu). Jadilah di ruangan kami ramai. Ada Ibu-ibunya dan kami yang asyik dengan riangnya bekerja lembur (maklum logistik jadi terjamin). Rencananya besok pagi jam 04.30 WIB, Pak Uke akan langsung mengantarnya sendiri ke Bandung.
Pukul 11 malam, kami baru sadar kalau ada salah seorang pegawai yang tidak kelihatan batang hidungnya sejak tadi. Orang ini padahal masih bujangan, vitalitasnya juga seharusnya masih kuat dan sedang ganteng-gantengnya. Sebut saja nama orang ini Supriyadi (Inisialnya SPRYD). Pemuda ganteng dengan julukan yang kami berikan “Pendekar Pemetik Bunga”. Loh kok tidak kelihatan ???. Akhirnya saya ditugaskan untuk menjemputnya di kontrakan milik Haji To’ing.
Assalamu ‘alaikum........
Priii.... toktoktok.... priiiii.... toktoktoktok... priiiiiii... toktoktoktoktoktok !!!
Tiba-tiba terlihat sesosok bayangan bergerak dari dalam kamar kontrakannya. Kemudian dari jendela muncul seraut wajah.... SUPRIYADI !!!!
Krekeeekkk.... [bunyi suara pintu terbuka]
“Oh... kamu tokh... Bond...” dengan santainya balik arah menuju kamar.
Sekilas saya melihat di tangan kanannya tergenggam sebuah martil. Ya... sebuah martil yang siap terhunus.
“Kok kamu bawa-bawa martil segala” kata saya kalem.
“Nggak... takutnya ada orang jahat” katanya sambil mencoba merebahkan dirinya kembali dalam peraduannya.
“Eeeeeiitttt..... bentar dulu.... elo jangan tidur dulu....” cegah saya
“Jangan enak-enakan ridur lu ! Noh ... di kantor temen-temen pada lembur !” jelas saya kepadanya.
“Pak Yanuar saja ikutan lembur, Istri sama anaknya juga dateng ...”
“Pak Uke sama istrinya juga ada “ kata saya lagi
“Kamu enak-enakan tidur.... !” saya protes. Sementara Supri sudah rebahan lagi di kasurnya yang penuh dengan pulau layaknya miniatur pulau-pulau di TMII.
“Ah... Masa Bodo’ !!!” jawabnya cuek
“Ayo Pri !!” ajak saya sambil menariknya dari tempat tidur
“Nggak Mau ! Aku ngantuk !!” jawabnya lagi tanpa beban.
Saya tarik-tarik masih juga tidur. Saya seret juga masih tidur. Wahh... payah juga nih kawan. Dengan hati dongkol dengan berjuta-juta pikiran nakal bergelayut dalam benak saya ketika itu. Sudahlah.
Akhirnya saya kembali ke kantor dan melaporkan segala kejadian yang saya alami kepada Pak Uke, selaku atasan langsung. Kacau juga nih Supri. Kami kembali mengerjakan tugas hingga selesai hampir pukul 3 dini hari. Setelah siap semua. Tugas berikutnya adalah Pak Uke yang langsung berangkat ke Bandung. Sementara saya dengan terhuyung-huyung pulang ke kontrakan dengan langkah gontai.
Besoknya masuk kantor jadi kesiangan. Melihat saya datang dan langsung duduk dengan mata yang masih merah dan kurang tidur. Supriyadi datang menghampiri sambil bilang “Bon, Maaf ya semalam. Habisnya yang ngasih tahu kamu sih. Kamu kan sering bercanda. Aku pikir kamu bohong, mau ngerjain aku” katanya menghiba. Huhhh... !!! Supri... !!!
[Sekarang] Iya deh Pri, yang waktu itu sudah saya maafin kok. Besok kan lebaran 1429 H, dalam kesempatan yang suci ini, dari lubuk hati yang paling dalam saya mengucapkan Minal Aidin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.


Mbak Wied
Cibinong, 30 September 2008

Nama lengkapnya Herru Widiatmanti, kami biasa memanggilnya Mbak Wied. Orangnya ramah dan ngemong sekali. Kami semua adalah adiknya. Indah sekali suasana dan hubungan yang tercipta dengan kehadirannya. Bagaikan satu keluarga. Terdiri dari berbagai daerah, asal usul, latar belakang, masalah dan bermacam perbedaan tetapi bersatu karena kehadirannya.
Cantik, keibuan, halus tutur katanya dan sayang kepada kami semua. Luar biasa ! itu yang pantas diberikan untuk caranya memperlakukan kami semua. Kami adik-adiknya sangat sayang dan hormat pada beliau dan keluarganya. Selalu memanggil kami yang lebih muda dengan panggilan ‘dik’ atau ‘le’.
Sekarangpun saat kami sudah tersebar ke berbagai penjuru, masih dapat disatukannya, bukan hanya secara fisik tapi hati.
Saya yang suka iseng, sering menggodanya. Karena nama depannya Herru, sering saya pelesetkan dengan guyonan Timbul Srimulat yang sering memperkenalkan dirinya dengan nama ‘Heru’ juga, tapi ada kelanjutannya yaitu ‘Heru Sutimbul’. Biasanya saya dan Wawan cekakak cekikik denger guyonan ini. Tapi Mbak ku ini nggak pernah marah.
Saya dan Wawan punya rahasia tentang Mbak Wied, mau tahu ? Ternyata Mbak Wied koleksi kipas angin yang sudah agak rusak, sehingga suaranya berisik. (Wan..... keep secret ya!).


Win.... ambil piring ....!
Cibinong, 30 September 2008

Pagi-pagi saya datang ke kantor dengan membawa kantong plastik besar berwarna hitam. Ketika masuk ruangan, eh... ada yang tanya “Apaan tuh Bon ?”. Nah... lu ! Muncul deh ide iseng saya. Dengan cuek saya bilang “Kue... nih” sambil saya letakkan di atas meja. “Win, ambil piring sama pisau. Dipotong-potong dulu biar kebagian” lanjut saya minta bantuan Windy untuk mengaturnya. Karuan saja teman-teman yang mendengar langsung berkumpul. Dengan sigap dan semangat ’45, Windy segera siap dengan piring dan pisaunya. Ketika, bungkusan dibuka...... Eng ... ing .... eeeng.... “Sialaaannn lu Boonnn.....!” Windy teriak. Keruan yang lain heran dan membuka bungkusan plastik yang isinya ordner dan berkas pemeriksaan.
Hehehe.....


To’ing Melrose Place
Cibinong, 30 September 2008

Waktu pertama nikah, saya tinggal di kontrakkan dekat kantor. Kebetulan dari enam petak kontrakkan sebagian di isi sama teman kantor. Paling ujung ditempati Mbak Supartinah dan keluarganya, petak kedua Budiman dan istrinya Teh Iim, petak ketiga di isi oleh Pak Dedi dan Bu Dedi karyawan Pemda, petak ke empat di isi saya dan istri yang masih kuliah di Bandung, petak ke lima di isi oleh Mas Supri dan Yusuf, dan terakhir di isi oleh Teguh, Acep dan Heriman, bujangan yang berprofesi jadi polisi di Polres Bogor.
Hubungan antara penghuni sangat kompak dan akur. Mbak Tinah sibuk sama seorang anaknya yang masih kecil dan lucu. Sementara Budiman dan Iim masih pengantin baru. Pak dan Bu Dedi juga sibuk dengan warung kecilnya yang menjadi sumber asupan gizi kami. Lalu saya yang masih sendirian karena istri saya sedang sibuk kuliah di Bandung. Supri dan Yusuf sama-sama masih bujangan. Kegiatannya nggak nyambung, kalau Mas Supri sibuk tebar pesona sedangkan Yusuf asyik dengan aktifitas keagamaannya. Sementara para Polisi juga sibuk dengan tugasnya.
Malamnya kami kumpul main remi atau gaple sambil mendengar Supri belajar main gitar. Pagi harinya, nasi uduk yang nikmat dengan bakwan serta pisang goreng menjadi menu favorit kami. Begitu setiap hari, walaupun Haji To’ing sebagai pemilik kontrakan selalu memantau kami, terutama saat pembayaran uang kontrak. Sigap sekali.
Gemericik air dari irigasi persis di belakang kontrakan menambah syahdu suasana. Terutama malam hari menjelang tidur. Suara jangkrik dan kodok di sawah bagaikan symphoni yang indah.


Supri Sakit Gigi
Cibinong, 30 September 2008

Suatu malam, keheningan sebagian anggota kontrakan terganggu dengan sebuah suara rintihan. Hhhhh ..... hhhhh.... hhhhh ....hhhhhhh ....
Yang jelas terganggu terutama adalah saya sendiri, bagaimana tidak, lha wong asal suara berasal dari kamarnya Supri. Suaranya sangat pilu sekali bagaikan jejaka yang ditinggalkan kekasihnya pergi merantau ke Malaysia. Kontan saya keluar untuk mencari tahu penyebab rintihan tersebut. Setelah pintu di ketuk, “Apaan sih Suf ?” tanya saya kepada Yusuf yang tampak prihatin dengan kacamata tebalnya a la Gus Dur. “Nganu Mas, Supri sedang sakit gigi” katanya prihatiin sekali. Tampak jelas wajah kebingungan Yusuf menghadapi rekan sekamarnya yang sedang merasakan giginya senut-senut. “Ya udah, cepet bawa ke dokter 24 jam. Tuh ... di jalan Raya Bogor ada “ saran saya. “Habis, Supri nya ndak mau toh mas...” jawab Yusuf putus asa. Akhirnya saya masuk dan membujuknya. “Sudah mas Supri, ke dokter aja, nanti dikasih obat sebentar juga hilang” kata saya yang prihatin melihat tubuhnya yang meringkuk seperti udang. Dengan bujuk rayuan yang berulang kali akhirnya tergerak juga hatinya. Akhirnya dengan menggunakan motor bebek kesayangannya mereka berdua meluncur ke dokter 24 jam.
Sementara saya menunggu dengan cemas keadaan sahabat saya ini. Namun, tidak berapa lama kemudian keduanya terlihat kembali pulang. Mas Supri yang pada saat berangkat tadi tampak kesakitan kini terlihat segar. Anehnya terdengar teriakan dari mulutnya “Aku sehaatt... Aku sehaatt.... !!”. Sementara Yusuf yang membocengnya tersenyum (atau menajan tawa). Segera saja saya hampiri “Bagaimana ? sudah di kasih obat ? sudah baikan ?” cecar saya dengan pertanyaan. “Boro-boro dikasih obat mas, lha wong pas dengar mau disuntik giginya, Mas Supri langsung kabur ...!” kata Yusuf. Oalaaa.... rupanya sakit giginya sembuh karena takut disuntik. Dasar Supri !
[Sampai sekarangpun kalau sakit gigi, Supri tidak pernah berobat ke dokter, tetapi pergi ke rumah dukun sakti yang bisa menyembuhkan sakit giginya dengan hanya menyentuh sebuah paku. Aneh ???]



Sahabat Terbaik !
Cibinong, 30 September 2008


Mencari teman memang mudah
Apabila itu teman suka

Mencari teman tidak mudah

Apabila itu teman duka

(Rhoma Irama)

Itulah gambaran teman di kantor Cibinong. Ketika awal berumah tangga, terasa sekali beratnya hidup di pinggiran Jakarta. Beras jatah kantor yang tidak pernah diambil ketika masih bujangan terpaksa sekarang diambil. Biar tidak malu, alasan saya adalah, kalau dulu tidak ada jatah istri, kalau sekarang ada jatah istri saya. Ada haknya dalam beras itu, Bagaimana kalau istri saya tidak ridho berasnya dikasih orang. Saya jadi berbuat zalim kepada istri. Hehehe... Padahal sih ......
Buat bayar kontrakan, buat mengunjungi istri di Bandung, buat makan sehari-hari dan keperluan lain. Belum lagi potongan koperasi. Habis deh gaji sebulan hanya dalam hitungan hari. Tetapi anehnya, saya masih enjoy aja tuh. Punya uang atau nggak punya uang tetap tersenyum gembira. Jadi beban hidup terasa sangat mudah.
Saat-saat kritis itulah banyak teman kantor yang berperan membantu. Misalnya Uki, ketika sama-sama mengambil gaji. Uki melihat uang gaji saya cuma sedikti karena dipotong pinjaman koperasi. Karena masih bujangan dan belum banyak keperluan atau merasa iba dengan saya yang masih kecil sudah berani kawin. Akhirnya gajinya di kasih setengahnya ke saya. Buat lu ke Bandung nengok istri katanya. Alhamdulillah. Baik banget sih Uki. Mudah-mudahan Allah SWT menngantinya berkali lipat [biar saya di bagi lagi... hehehe].
Ada lagi Wawan, yang menyerahkan seluruh tabungannya buat DP rumah yang saya tinggali sekarang. Nih, pake aja tabungan gue, terserah lu kapan mau dibayarnya. Luar biasa, mana ada teman yang bisa sebaik itu memberikan uang simpanannya buat temannya. Makanya sampai saat ini saya masih merasa kalau Wawan punya peranan dalam upaya saya memiliki rumah. Kehangatan rumah saya terbuka 24 jam untuk sahabat saya ini. Semoga Allah SWT memberikan rumah untuknya di surga kelak. Amin.
Ada Supri dan Jati yang suka melihat apa dompet saya ada isinya atau tidak. Kalau dilihatnya dompet saya kosong, segera sebagian isi dompetnya di berikan ke saya. Bahkan sempat-sempatnya Jati sering tanya, Mas, anakmu Sasha masih punya susu nggak ? Luar biasa pula mereka berdua ini. Biarlah anaku tahu kalau mereka ini Oom terbaik mereka.
Thanks ya friends........

No comments:

National Geographic POD