Friday, October 2, 2009

Idul Fitri 1430 H

Lebarannya Anak-Anak

Dalam setiap Idul Fitri banyak hikmah yang dapat dipetik. Kekeluargaan, kebersamaan, silaturahmi, maaf memaafkan, dan banyak lagi lainnya. Idul Fitri atau lebaran tahun ini kami sekeluarga merayakannya di Bandung, di rumah kedua orang tua istri. Anak-anak sangat antusias dengan segala rencananya. Jalan-jalan, bertemu dengan sepupu dan berkunjung ke makam kakek buyutnya. Pertemuan seperti ini sangat dinantikan mereka, disamping dapat bermain mereka juga mengharapkan uang atas jerih payahnya berpuasa di bulan Ramadhan.

Mungkin sudah menjadi tradisi dari masyarakat kita untuk memberikan uang kepada anak-anak kecil, baik itu saudara maupun tetangga. Biasanya sebagai penghargaan atas prestasinya berpuasa atau dengan alasan untuk menggembirakan mereka.

Ketika kami kecil dahulu, biasanya saya dan teman-teman sudah hapal betul siapa diantara para tetangga yang sering memberikan uang lebaran kepada anak-anak. Setelah silaturahmi keluarga selesai kami akan berkumpul bersama untuk mengunjungi tetangga kami yang baik hati tersebut.

Pak Usman, Ibu Siradz, Bu Guru, Pak Ruslan, serta beberapa tetangga yang kadang namanya kami tidak kenal. Jangan heran jika anak-anak banyak yang mondar-mandir untuk berlebaran ke rumah tersebut.

Radja dan Sasha sibuk menghitung uang lebaran pemberian para dermawan. Kami memang sengaja menjanjikan hadiah uang untuk setiap hari mereka berpuasa. Sederhana saja, agar mereka mau berpuasa. Toh jika mereka besar kebiasaan memberi uang lebaran akan berhenti dengan sendirinya. Alhamdulillah tahun ini Sasha sudah bisa berpuasa sebulan penuh tanpa kalah (batal). Sementara adiknya, Radja, sebenarnya hanya kalah satu kali karena kehausan, tapi karena sempat batuk dan harus minum obat akhirnya ada empat hari yang bolong.

Kami berdua dibuat pusing juga dengan kegiatan hitung menghitung uang lebaran ini. Pasalnya kadang mereka membuat kami berdua malu karena menagih janji uang lebaran kepada Kakek dan Nenek juga kepada Om dan tantenya. Kalau dengan tetangga atau orang lain kami larang keras mereka untuk meminta uang lebaran. Tapi karena memang sudah tradisinya banyak juga yang memberikan uang lebaran kepada mereka berdua.

Istriku sampi geleng-geleng kepala melihat kelakuan mereka berdua yang sibuk dengan uang lebarannya. Sasha dengan uang lebarannya mentraktir saudaranya makan dan nonton film di Kalibata Mall. Radja dan sepupu laki-laki sibuk dengan pistol mainan. Rencana Radja lainnya adalah, JATINEGARA ! untuk membeli burung elang. Memang luar biasa sekali melihat kegembiraan anak-anak di hari Idul Fitri. Istriku bilang tahun ini lebaran untuk mereka berdua, lebarannya anak-anak.


Liku-liku Berpuasa

“De, cobain deh minum sedikit. Nggak batal kok!” bujuk Sasha kepada adiknya di Ramadhan hari ketiga. Radja yang baru dua tahun ini berpuasa akhirnya tergoda untuk minum sedikit dan .... “Maaaah.... adik batallll !!!” teriak tetehnya. Akhirnya Mama jadi menasehati Teteh yang iseng menggoda adiknya. Memang awal-awal puasa sangat berat sekali untuk mereka.

Aktifitas bermain Radja selama bulan Ramadhan hampir sama saja seperti bulan lainnya. Berlarian, main bola, main game, atau bercanda. Kami berdua yang melihatnya jadi ikutan lemas membayangkannya. Akhirnya Mama membuat jadwal tidur siang atau sore hari untuk anak-anak. Kalau soal makan tidak masalah bagi Radja, karena memang dia susah makannya. Tapi aktifitas di luar rumah dalam kondisi panas membuatnya tidak kuat menahan haus. Pernah satu hari dia lelah dan kehausan sehabis bermain. Akhirnya satu hari itu dia batal hanya dengan segelas air.

Peningkatan ibadah puasa tahun ini terasa untuk Sasha. Jika tahun-tahun sebelumnya sering kami dapati gelas dan botol minuman di kamarnya, tahun ini aman. Sasha terlihat lebih bertanggung jawab dengan puasanya. Awal puasa saja dia sempat bete’ karena lapar. Namun Mama menasihatinya dan menyuruhnya untuk tidur saja. Akhirnya Alhamdulillah puasa tahun ini dia dapat berhasil tanpa batal.


Sholat Tarawih dan Tadarus

Sejak awal puasa kami berdua mengingatkan anak-anak untuk selalu menjaga sholatnya. Disamping itu kami memasang target untuk anak-anak. Sasha diusahakan khatam Alquran dan menyelesaikan hafalan juz 30. Sementara Radja hanya menjaga ibdah shalat tarawihnya saja.

Setiap hari setelah berbuka puasa kami sempatkan sholat maghrib berjamaah. Selesai sholat dilanjutkan dengan membaca Alquran hingga masuk waktu Isya. Kegiatan harian ini ditutup dengan melaksanakan sholat tarawih berjamaah di rumah. Niat saya untuk shalat tarawih di masjid untuk sementara ditangguhkan dulu. Yang penting anak-anak terkontrol ibadah sholatnya. Terutama Radja yang masih banyak gerak dan kurang konsentrasi. Sasha masih sering mengeluh ngantuk dan capek sehingga banyak protesnya. Untuk melepas Radja sholat di masjid kadang masih sangsi, karena saya pernah melihatnya mengobrol sepanjang sholat. Daripada bikin malu dan menggangu jamaah lainnya akhirnya saya putuskan untuk membereskan sholatnya dulu di rumah.

Walaupun hasilnya tidak sesuai target , namun kegiatan ibadah Ramadhan bersama keluarga mudah-mudahan dapat memberikan pelajaran yang berharga untuk kami dan anak-anak. Semoga mereka berdua menjadi anak yang soleh dan solehah. Amin.

No comments:

There was an error in this gadget