Wednesday, January 6, 2010

Keyakinan dan Optimis

Dari dalam angkot saya melihat seorang bapak yang sudah tua berdiri di pinggir jalan sambil menunggui tiga buah karung besar berisi daun-daun pepaya. Bapak tua tersebut tampak lelah, dengan topi haji di kepalanya dan sebuah tas disampirkan dibahunya. Walau terlihat lelah namun tampak terlihat segurat senyum diwajah keriputnya. Ingi rasanya turun dari kendaraan angkutan umum yang saya tumpangi tersebut untuk sekedar cium tangan dan ngobrol dengannya.

Inilah gambaran sesungguhnya dari sebuah kehidupan. Bagaimana kehidupan harus tetap dijalani dengan keyakinan dan rasa optimis. Saya membayangkan raut wajah Ayah yang sudah senja namun masih tetap mau bekerja demi harga dirinya. Sudahlah Ayah dan Ibu jangan ngapa-ngapain, begitu sering saya mengucapkan agar mereka berdua bisa istirahat dan menikmati masa tuanya dengan tenang tanpa lelah bekerja. Namun Ayah tetap bandel, tidak mau dia menggantungkan seluruh hidupnya dari uang pemberian anak-anaknya. Ayah masih kuat, lagipula sekalian olahraga, nanti kalau diam tidak kerja apa-apa malahan badan Ayah tambah loyo dan sering sakit-sakitan. Itulah dalihnya untuk menjawab kekhawatiran kami anak-anaknya. Dari dalam bathin ini saya sangat tahu persis apa yang ada dibenak Ayah. Beliau adalah Ayah saya seumur hidup ini, jadi sudah tahu sekali kira-kira apa yang ada di fikirannya.

Ayah saya seorang lelaki yang penuh tanggung jawab. Selama istrinya, Ibu saya, masih setia mendampinginya di dunia ini beliau akan menunaikan tanggung jawabnya sebagai seorang suami memberikan nafkah. Sebuah pelajaran berharga bagi kami anaknya yang laki-laki untuk jangan gampang menyerah. Sesungguhnya rasa tanggung jawab yang dicontohkan menjadi pelita dan penerang jalan untuk kami selalu berusaha dan selalu optimis menjalani hidup. Pernah katanya, mengutip sebuah hadis, jika kamu tahu besok hari akan datang hari kiamat, sementara di tanganmu ada sebutir biji kurma untuk ditanam, maka tanamlah sebutir biji kurma tersebut. Pernah beliau bercerita, ketika kecil kakeknya menanam beberapa pohon sawo. Zaman dahulu di daerah kami pohon sawo merupakan tanaman yang banyak ditanam warga. Pohon sawo yang sekarang ditempat kami sudah jarang ditemui tersebut butuh waktu belasan tahun untuk dapat berbuah dan menghasilkan. Ketika Ayahku menanyakannya kepada Kakek, jawabannya sama, bahwa pohon ini bukan untuk dirinya tetapi untuk anak cucunya kelak. Inilah hidup yang harus dijalani dengan keyakinan dan optimisme. Demikianlah, Semoga menjadi pelajaran menghadapi tahun baru ini.


Cibinong, 05 Januari 2010

No comments:

There was an error in this gadget