Monday, December 11, 2006

BANG TATANG

Bang Tatang adalah seorang supir oplet jurusan Pasarminggu-Kampung Melayu. Oplet adalah kendaraan umum seperti angkot atau mikrolet sekarang. Waktu itu sekitar tahun 70-an, jumlah kendaraan umum dan kendaraan pribadi tidak sebanyak sekarang. Jadi kalau orang mau naik oplet ia harus menunggu cukup lama. Disamping jarang juga penumpang yang naik masih sedikit, maklum waktu itu penduduk Jakarta tidak seramai saat ini, dan orang yang bekerja kantoran juga masih jarang.

Ceritanya setiap pagi hari Bang Tatang rutin menarik opletnya dari Pasarminggu ke Kampung Melayu dan sebaliknya. Pagi itu dari Gg. H. Samali naik seorang Bapak yang akan berangkat kerja. Dilihat dari pakaiannya pastilah orang ini pekerja kantoran pikir Bang Tatang. Setelah perjalanan sudah sampai di terminal Kampung Melayu si bapak turun. Ketika akan membayar ongkos, dia mengeluarkan uang Rp. 10.000 an yang masih jarang dipunyai (jumlahnya lupa, antara Rp. 5000-10.000). Uang pecahan paling besar saat itu. Sedangkan ongkos oplet ke Kampung Melayu yang merupakan jarak terjauh hanya Rp. 10,-. Karena masih pagi sekali dan belum mendapatkan banyak penumpang, Bang Tatang kebingungan mencari uang kembaliannya yang memang tidak dimilikinya. Akhirnya dengan pasrah Bang Tatang bilang tidak usah bayar dengan alasan tidak ada kembaliannya. Bapak tersebut mengucapkan terima kasih dan pergi berlalu.

Besok harinya, pagi-pagi sekali ketika akan menuju Kampung Melayu di Gg. H. Samali, kembali si Bapak kemarin naik opletnya. Bang Tatang tidak terpikir apa-apa saat itu. Ketika sampai di Kampung Melayu si Bapak kembali mengeluarkan uang Rp. 10.000,- yang membuat kejadian kemarin terulang kembali. Namun kali ini Bang Tatang agak dongkol sedikit.

Anehnya kejadian ini terus berulang hingga beberapa kali. Setiap turun di tujuannya si bapak selalu mengeluarkan uang Rp. 10.000,- untuk membayar ongkos dan berkali-kali pula Bang Tatang menyerah dengan membiarkan si Bapak tidak membayar. Akhirnya Bang Tatang punya akal. Hari berikutnya dia menyiapkan uang kembalian berupa uang receh pecahan Rp. 5,- dan Rp. 10,- sekaleng penuh sebanyak Rp. 9.990,-. Waktu itu kaleng mentega yang disiapkan Bang Tatang sudah penuh oleh uang receh tersebut.

Hari yang ditunggu tiba, ketika opletnya melewati Gg. H. Samali, kembali distop oleh si bapak. Bang Tatang tenang-tenang saja, pikirnya kena lu gantian gua kerjain. Nah, setelah melalui perjalanan keliling akhirnya sampai juga si bapak di tujuan seperti biasanya. Seperti sebelumnya, si bapak kembali mengeluarkan uang Rp. 10.000,-. Mungkin dia pikir akan gratis lagi, karena hari masih pagi dan penumpang cuma satu dua orang. Tapi dengan sigap Bang Tatang mengambil uang yang disodorkan si bapak. Bang Tatang segera mengambil uang receh dalam jumlah yang cukup banyak di dalam kaleng yang dibawanya. Si Bapak reflek menerima uang kembalian receh dengan kedua tangannya. Karena kebanyakan si Bapak kebingungan sambil memasukan sebagian ke dalam kantong celananya hingga penuh. Bang Tatang cuma nyengir kuda ngeliat si Bapak kaget, dan Bang Tatang bilang " Nih.... kembaliannya udah pas 9.990 perak .... " sambil menuangkan isi kalengnya. hehehehe.... kena luh....

No comments:

National Geographic POD