Friday, February 9, 2007

BANGKIT DARI KUBUR

Cerita ini terjadi di daerah Sumedang, Jawa Barat. Hari itu sekitar pukul 4 pagi seperti biasanya Nyi Imas berniat untuk pergi ke pasar untuk berbelanja sayuran. Cuaca pagi hari itu memang sedikit mendung. (saat itu sudah masuk musim hujan). Tetapi karena sudah menjadi rutinitasnya sebagai penjual sayuran di desanya akhirnya ia berangkta juga menuju pasar. Hujan rintik-rintik pagi hari itu membuat tukang ojek yang biasanya mangkal di gang desanya tidak ada satupun yang bekerja. Mungkin karena cuaca dingin mereka lebih suka untuk bertahan di ranjangnya. Karena dilihatnya tidak ada satupun tukang ojek, akhirnya Nyi Imas terpaksa berjalan kaki menuju pasar. Padahal jarak yang harus ditempuh cukup jauh (sekitar 3 km). Rute yang harus dilewati juga berkelok-kelok sehingga untuk usianya yang sudah 59 tahun akan terasa sangat berat. Satu-satunya jalan pintas adalah melewati sebuah hutan jati yang lumayan gelap. Setelah di perjalanan akhirnya Nyi Imas memutuskan untuk melewati hutan jati tersebut. Dia berpikir karena sudah tua mana mungkin ada orang yang tega berbuat jahat padanya. Lagipula ia sudah mengenal seluk beluk hutan tersebut sejak kecil. Setelah beberapa waktu sampailah ia di hutan jati yang kondisinya sangat gelap dan lembab. Hujan rintik-rintik membuat tubuhnya menggigil kedinginan. Tiba-tiba setelah berada ditengah hutan, hujan bertambah lebat, terpaksa Nyi Imas mempercepat langkahnya untuk mencari tempat berteduh. Ketika hujan masih terus bertambah lebat mengguyur hutan jati dilihatnya sebuah lubang yang merupakan kuburan yang baru saja digali oleh penduduk untuk memakamkan salah saorang penduduk yang kebetulan meninggal kemarin sore. Areal pekuburan itu terletak di tengah-tengah hutan jati. Karena sudah basah disana-sini akhirnya terpaksa Nyi Imas turun ke dalam pekuburan untuk berteduh. Bagian atas pekuburan ditutupinya dengan daun jati yang lebar-lebar sehingga air tidak masuk ke dalam. Sementara dia berteduh di dalam lubang kuburan rupanya karena lelah akhirnya tertidur. Ketika sedang lelapnya tidur tiba-tiba terdengar suara menggelegar seperti halilintar. Ctttaaaaarrrrr......!!!!!!! Buummmmmm...!!! Kaget mendengar bunyi seperti itu Nyi Imas akhirnya terbangun. Di depannya dilihatnya dua orang tinggi besar berjubah hitam dengan rambut gondrong dan berewokan. Orang tersebut memegang sebuah pecutan yang bentuknya aneh dan besar sekali. Sedangkan seorang lagi memegang gada yang luar biasa besarnya. Ctttaaarrrrrr....!!!! Duummmm ....!!! rupanya suara menggelegar tersebut berasal dari bunyi pecutan dan pukulan gada orang tersebut. Nyi Imas langsung lemas ketakutan melihatnya. Orang yang tinggi besar memegang gada menghampirinya. Tiba-tiba orang tersebut membentaknya. "MARABBUKA.....!!!!" Nyi Imas tambah ciut hatinya. Badannya semakin lunglai seperti tidak ada tulangnya. "MARABBUKA.....!!!!" kembali orang tersebut membentaknya. Dengan ketakutan Nyi Imas mencoba menjawabnya dengan ketakutan "Ehhh.... Malaikat abdi teh nuju ngiuhan" jawab Nyi Imas ketakutan. Rupanya Nyi Imas tahu kalau kedua orang tersebut adalah malaikat Munkar dan Nakir yang bertugas menginterview kita di dalam kubur setelah meninggal. Setelah dijawab Nyi Imas bahwa ia 'nuju ngiuhan' (sedang berteduh,red.) malaikat itu saling pandang... sebentar kemudian mereka berdua menghilang. Tiiinggg...... Setelah keduanya hilang Nyi Imas lega juga hatinya. Dengan ketakutan akhirnya Nyi Imas lari tunggang langgang kembali pulang ke desanya. Sudah hampir dua minggu setelah kejadian yang menyeramkan tersebut berlalu. Suatu hari setelah pulang dari berbelanja di pasar Nyi Imas menumpang angkot untuk pulang ke rumahnya. Rupanya di jalan angkot tersebut kecelakaan karena mengindari kambing yang menyeberang. Mobil angkot tersebut masuk ke dalam jurang ditengah hutan jati. Enam orang dari delapan penumpang angkot meninggal. Semua korban adalah warga desa setempat. Kejadian tersebut membuat sedih seluruh warga desa. Setelah dilakukan diurus dengan baik oleh keluarga dan masyarakat, akhirnya dengan dipimpin kepala desa akhirnya keenam jenazah tersebut di makamkan sore harinya. Nyi Imas yang ikut dalam penumpang angkot yang meninggal tersebut juga ikut dimakamkan di lokasi pemakaman yang berada di tengah hutan jati. Ketika di alam kubur, Nyi Imas melihat tetangganya yang sama-sama menumpang angkot saling berbaris. Sementara itu ia melihat kedua orang tinggi besar yang pernah ditemuinya sedang menanyai satu-persatu tetangganya. Suaranya menggelegar membuat yang ditanya ketakutan. Bagi yang tidak bisa menjawab Gada yang besar menghantamnya. Nyi Imas sangat ketakutan. Anehnya tetangga yang lain di 'interview' satu-persatu tetapi Nyi Imas tidak ditanya apa-apa. Akhirnya Nyi Imas penasaran, ia mengangkat tangan "Maap... Jang Malaikat, naha atuh... abdi teh teu ditaros....??". Malaikat langsung manatapnya dengan tampang sebel lalu katanya "EEEhhhh.... maneh teh kamari ge' tos ditaros pan nuju ngiuhan..... !!!" Akhirnya, karena nggak di 'interview' Nyi Imas nggak lulus ujian meninggalnya. Besoknya warga desa menemukan Nyi Imas sudah berada di atas kuburannya. Sampai saat ini Nyi Imas masih dagang sayuran di desanya.

No comments:

National Geographic POD