Thursday, December 30, 2010

Firman: Beckham Pun Bisa Gagal Penalti

Whooila!
Firman sempat memberikan kesmepatan kepada Gonzales.
Kapten timnas Indonesia, Firman Utina merasa terpukul karena gagal melakukan tugasnya dengan baik dalam mengeksekusi hadiah penalti ke gawang Malaysia.

Tendangan pemain Sriwijaya FC ini pada menit ke-15 melaju pelan dan dengan mudah ditangkap kiper Malaysia, Khairul Fahmi Che Mat. Padahal, peluang itu dipastikan menjadi momentum timnas untuk mendulang gol ke gawang Malaysia.

"Saya rasa semua kecewa. Saya pribadi pun sangat kecewa. Saya rasa ini sangat memukul hati saya," ujar Firman saat ditemui di hotel Sultan, Jakarta, Kamis siang 30 Desember 2010.

Namun, perasaan kecewa seusai gagal mengeksekusi penalti diyakini bukan hanya dialaminya sendiri sebagai pesepakbola profesional. Firman menuturkan, pemain kelas dunia sekalipun akan merasakan kekecewaan mendalam jika gagal dalam menjalankan tugasnya menendang penalti. Terlebih dalam pertandingan penting.

"Saya rasa semua pemain akan merasakan seperti itu. Sekalipun pemain sekelas Beckham, Ronaldinho maupun Cristiano Ronaldo. Bila dia mendapatkan hal seperti itu, saya rasa memang agak sulit dan harus dipertanggungjawabkan," tuturnya.

Sebenarnya, saat itu, Firman tidak dalam 'mood' yang baik untuk menendang penalti. Dia pun mengaku sudah menawarkan kepada pemain lainnya untuk mengeksekusi penalti. Firman menegaskan sempat memberi kesempatan kepada Cristian Gonzales untuk mengeksekusi penalti, namun ditolak oleh El Loco.

"Saya memberi kesempatan kepada dia, tapi semua kembali lagi ke saya. Otomatis saya harus mengambil itu, kalau saya tidak mengambil siapa lagi yang akan menendang. Kalau Gonzales minta pasti saya kasih," kata Firman seusai pertandingan.

Timnas Indonesia berhasil menaklukkan Malaysia 2-1 pada final leg 2 tadi malam. Namun, Firman Utina cs gagal meraih Piala AFF 2010 karena kalah agregat 2-4 dalam dua laga final.

sumber :
Firman: Beckham Pun Bisa Gagal Penalti - www.Whooila.com |

Menengok Sejarah Stadion Gelora Bung Karno

Whooila!
Bola dan orang Indonesia. Keduanya begitu dekat belakangan ini. Semenjak sejumlah anak muda seperti Irfan Bachdim, Okto Maniani, Christian Gonzales, Arif Suyono dan kawan-kawan, menyedot rasa nasionalisme seantero negeri, lalu menyeretnya ke lapangan bola.

Begitu banyak tokoh politik, bisnis, bahkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang mengakui bahwa bola sudah mempersatukan bangsa. Bahkan jauh lebih ampuh dari kata-kata politisi di atas panggung. Sepanjang Piala AFF ini, sejumlah sengketa politik memang tenggelam, paling tidak dari permukaan.

Mungkin karena rasa nasionalisme itu, dunia bola kita belakangan ini jadi ramah. Hampir tak ada lagi suporter beringas, yang berarak keliling kota dan bikin kita meriang. Bahkan, meletupkan mercon di lapangan, kini sudah merasa bersalah, sebab itu akan membuat malu kesebelasan, juga bangsa.

Bola yang ramah itu mengundang berpuluh ribu orang ke Senayan. Menjejali Gelora Bung Karno. Memberi semangat kepada mereka yang berlaga. Pada semifinal Indonesia versus Filipina, sekitar 80 ribu orang meriuh di sana.

Seiring dengan itu, Stadion Utama Gelora Bung Karno kemudian kian terkenal. Stadion itu berada di kawasan Senayan, yang terletak di pusat kota Jakarta. Bagaimana riwayat stadion dan kawasan itu, belum banyak diketahui publik.

Dari sejumlah literatur dan peta yang diterbitkan oleh Topographisch Bureau Batavia pada tahun 1902, kawasan Senayan itu semula bernama Wangsanajan, atau Wangsanayan menurut Ejaan Yang diperbaharui.

Konon Wangsanayan adalah pemilik tanah yang kini menjadi salah satu tempat elit di Jakarta itu. Mungkin penyebutannya agak sulit, lambat laun nama kawasan itu berubah jadi Senayan.

Informasi lainnya adalah bahwa kata Senayan dalam bahasa Betawi berarti Senenan atau jenis permainan berkuda. Nama itu diperkirakan muncul sejak masa penjajahan. Thomas Raffles (1808-1811). Saat itu, kawasan Senayan, dijadikan sebagai tempat warga Inggris bermain Polo.

Kawasan Senayan mulai banyak dikenal sejak didirikan gelanggang olahraga bertaraf internasional di lokasi ini. Pembangunan gelanggang olahraga ini dimulai awal 1958 atas bantuan Uni Soviet pada masa Perdana Menteri Nikita Kruschev. Biayanya ketika itu sebesar US$ 12,5 juta atau Rp 117,6 miliar.

Namun peletakan tiang pancang pertama dilakukan oleh Soekarno pada 8 Februari 1960 dan disaksikan langsung Wakil PM Uni Sovyet Anastas Mikoyan.

Gelanggang olah raga ini dibangun karena Indonesia tengah mengadakan gawai olahraga sekelas Olimpiade yang dikenal dengan nama Ganefo.

Ganefo adalah sebuah proyek mercusuar Bung Karno yang melombakan berbagai olah raga yang pesertanya berasal dari gerakan Negara Non Blok. Seiring dengan itu, nama stadion di kawasan Senayan dikenal sebagai Stadion Ganefo. Di situlah Soekarno beberapa kali berpidato membangkitkan nasionalisme rakyat.

Muncul gosip ketika itu PM Uni Soviet kecewa karena tidak ada tanda-tanda prasasti yang menyebutkan Uni Soviet-lah yang membangunnya.

Stadion yang awalnya mampu menampung 100.000 penonton ini kini susut menjadi 88.000 penonton pasca renovasi tahun 2007.

Belakangan nama Stadion Ganefo berubah penyebutan menjadi Stadion Gelora Senayan, seiring jatuhnya masa kepemimpinan Soekarno. Namun pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid, nama Stadion Senayan diubah menjadi Stadion Gelora Bung Karno.

Sumber :
Menengok Sejarah Stadion Gelora Bung Karno - www.Whooila.com |

Hipotesis Mahasiswa Misterius yang Berhasil Mematahkan Jawaban Profesor

Whooila!
Seorang Profesor dari sebuah universitas terkenal menantang mahasiswa-mahasiswa nya dengan pertanyaan ini, "Apakah Tuhan menciptakan segala yang ada?".

Seorang mahasiswa dengan berani menjawab, "Betul, Dia yang menciptakan semuanya".

"Tuhan menciptakan semuanya?" Tanya professor sekali lagi. "Ya, Pak, semuanya" kata mahasiswa tersebut.

Profesor itu menjawab, "Jika Tuhan menciptakan segalanya, berarti Tuhan menciptakan Kejahatan. Karena kejahatan itu ada, dan menurut prinsip kita bahwa pekerjaan kita menjelaskan siapa kita, jadi kita bisa berasumsi bahwa Tuhan itu adalah kejahatan".

Mahasiswa itu terdiam dan tidak bisa menjawab hipotesis professor tersebut. Profesor itu merasa menang dan menyombongkan diri bahwa sekali lagi dia telah membuktikan kalau Agama itu adalah sebuah mitos.

Mahasiswa lain mengangkat tangan dan berkata, "Profesor, boleh saya bertanya sesuatu?".

"Tentu saja," jawab si Profesor,

Mahasiswa itu berdiri dan bertanya, "Profesor, apakah dingin itu ada?"

"Pertanyaan macam apa itu? Tentu saja dingin itu ada. Kamu tidak pernah sakit flu?" Tanya si professor diiringi tawa mahasiswa lainnya.

Mahasiswa itu menjawab, "Kenyataannya, Pak, dingin itu tidak ada. Menurut hukum fisika, yang kita anggap dingin itu adalah ketiadaan panas. Suhu -460F adalah ketiadaan panas sama sekali. Dan semua partikel menjadi diam dan tidak bisa bereaksi pada suhu tersebut. Kita menciptakan kata dingin untuk mendeskripsikan ketiadaan panas."

Mahasiswa itu melanjutkan, "Profesor, apakah gelap itu ada?"

Profesor itu menjawab, "Tentu saja itu ada."

Mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi anda salah, Pak. Gelap itu juga tidak ada. Gelap adalah keadaan dimana tidak ada cahaya. Cahaya bisa kita pelajari, gelap tidak. Kita bisa menggunakan prisma Newton untuk memecahkan cahaya menjadi beberapa warna dan mempelajari berbagai panjang gelombang setiap warna. Tapi Anda tidak bisa mengukur gelap. Seberapa gelap suatu ruangan diukur dengan berapa intensitas cahaya di ruangan tersebut. Kata gelap dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan cahaya."

Akhirnya mahasiswa itu bertanya, "Profesor, apakah kejahatan itu ada?"

Dengan bimbang professor itu menjawab, "Tentu saja, seperti yang telah kukatakan sebelumnya.
Kita melihat setiap hari di Koran dan TV. Banyak perkara kriminal dan kekerasan di antara manusia. Perkara-perkara tersebut adalah manifestasi dari kejahatan."

Terhadap pernyataan ini mahasiswa itu menjawab, "Sekali lagi Anda salah, Pak. Kajahatan itu tidak ada. Kejahatan adalah ketiadaan Tuhan. Seperti dingin atau gelap, kajahatan adalah kata yang dipakai manusia untuk mendeskripsikan ketiadaan Tuhan. Tuhan tidak menciptakan kajahatan. Kajahatan adalah hasil dari tidak adanya kasih Tuhan dihati manusia. Seperti dingin yang timbul dari ketiadaan panas dan gelap yang timbul dari ketiadaan cahaya." Profesor itu terdiam.

Nama mahasiswa itu adalah Albert Einstein .

Hipotesis Mahasiswa Misterius yang Berhasil Mematahkan Jawaban Profesor - www.Whooila.com |

Wednesday, December 29, 2010

Siapakah Rajagopal Sebenarnya ?


Jakarta, 30 Desember 2010

Kemenangan Tim sepakbola Malaysia tidak lepas dari peran tangan dingin sang pelatih K. Rajagobal. Dibawah asuhannya tim kesebelasan Malaysia berhasil menyabet gelar bergengsi tim sepakbola negara-negara ASEAN.

Pria berambut putih dan keturunan 'keling' India tersebut merupakan pelatih otodidak. sebelum melatih Tim Nasional Malaysia Rajagobal mengawali karirnya sebagai penarik becak di Medan. Profesi penarik becak sudah dijalaninya sejak dia berusia 16 tahun. Karena himpitan ekonomi Rajagobal kecil memutuskan untuk membantu perekonomian kedua orangtuanya. Bapaknya berprofesi sebagai tukang parkir di pusat pertokoan di kota Medan. Sedangkan Ibunya seorang ibu rumah tangga biasa yang sibuk mengurus adik-adiknya yang berjumlah 9 orang.

Profesi penarik becak Rajagobal pada akhirnya harus berakhir karena datangnya ancaman dari Pemda Kota Medan yang akhirnya menghapuskan becak untuk digantikan dengan sarana transportasi yang lebih canggih yaitu Bentor atau becak motor.


Keterangan Foto : Rajagobal ketika masih menarik becak di Medan

Selama beberapa hari Rajagobal sangat menderita karena tidak memiliki penghasilan. Untuk kebutuhan makan sehari-hari saja susah apalagi untuk membantu ibu dan kesembilan adik-adiknya.
Dibalik gelap terbitlah terang. Demikianlah sebuah pepatah mengatakan. Dalam mencari jati dirinya Rajagobal muda bertemu dengan rombongan topeng monyet. Awalnya Rajagobal acuh saja melihat rombongan tersebut. Namun, lama kelamaan hatinya tertarik ketika menyaksikan pertunjukan rombongan tersebut beraksi disaksikan oleh ratusan pengunjung di pasar Medan.
Ketertarikan Rajagobal kepada rombongan seniman tersebut berawal ketika dia memperhatikan bagaimana dia patuh atas perintah majikannya. Bagaimana mungkin hewa sekecil itu bisa memahami permintaan dari tuannya. Sambil berpikir itulah Rajagobal dikagetkan oleh salah seorang anggota rombongan sang menjulurkan sebuah topi meminta sumbangan kepadanya.
Karena tertarik maka Rajagobal menghampiri pimpinan rombongan topeng monyet tersebut untuk dilibatkan dalam tim rombongannya.
Posisi Rajagobal awalnya adalah sebagai asisten penabuh gendang. Karena masih keturunan India, maka sangat mudah baginya menciptakan irama pukulan gendang yang merdu. Bahkan saking merdunya monyet-monyet yang diiringinnya maunya menari dan bergoyang terus.



Berbulan-bulan Rajagobal menempati posisi sebagai pemukul gendang sehingga semakin membuatnya terkenal dikalangan juragan topeng monyet. Suatu ketika sebuah rombongan topeng monyet yang lebih besar dan maju tertarik akan pukulan gendang si Rajagopal sehingga memutuskan untuk membajaknya dan memintanya pindah bekerja kepadanya. Kesempatan emas seperti ini segera saja disambar oleh Rajagopal dengan catatan harus diberikan posisi yang lebih baik. Juragan topeng monyet akhirnya setuju dan mengangkatnya sebagai asisten pelatih.
Jabatan sebagai asisten pelatih dilakuinya dengan cepat, yaitu hanya dua bulan saja. Berikutnya Rajagopal dipercaya penuh untuk memimpindan melatih satu tim rombongan topeng monyet.

Rajagiobal dan tim rombongan topeng monyetnya memulai karir di negeri seberang, yaitu Malaysia. Di negeri Malaysia tersebut Rajagobal diterima oleh kerabat yang juga berasal dari India. Awal perantauannya terasa berat dan banyak hambatan. Kadangkala dalam sehari rajagobal tidak memperoleh penghasilan sama sekali. Namun itu semuanya dijalani dengan semnagta dan sukacita.

Sudah berbulan-bulan mengadu nasib di negeri orang akhirnya Rajagobal mendapatkan peruntungannya juga. Suatu ketika ada seorang anak yang menangis di jalan karena mau melihat atraksi topeng monyet. Rajagobal akhirnya tersentuh kepada anak tersebut. Dia pun segera bernyanyi dan beratraksi untuk menghibur gadis cilik tersebut. Ketulusan Rajagopal akhirnya mendapatkan balasan dari Yang Maha Kuasa. Anak kecil yang menangis tersebut adalah anak seorang Raja di kerajaan di Malaysia, yang terlepas dari pengawasan orang tuanya. Keluarga kerajaan sangat gembira dan berjanji akan memberikan hadiah bagi siapa saja yang menemukan anaknya. Rajagobal meminta agar dirinya diberi pekerjaan agar bisa membiayai keluarga. Raja tersebut adalah seorang yang sangat kaya dan baik hati. Dalam pemerintahan dia merupakan seorang pengurus dari Federasi Sepakbola Malaysia Jaya (FAM JAYA). Selain itu Raja tersebut dikenal sebagai seorang ketua partai politik besar di Malaysia dan salah satu donatur dari Tim Sepakbola Nasional Malaysia.

Karena tidak memiliki skill dan keterampilan lain, selain mengayuh becak dan melatih topeng monyet, maka akhirnya dia diangkat sebagai assisten dari pelatih. Karir dan keberuntungan sepertinya mengikuti arah Rajagopal melangkah. Karena biasa melatih topeng monyet, Rajagobal dapat menyerap ilmu kepelatihan dari pelatih utama Timans Malaysia saat itu. Hingga pada akhirnya Rajagobal menduduki tempatnya sekarang sebagai pelatih Tim Sepakbola Nasional Malaysia.

Status Face Book Christian Gonzales

Setelah usai pertandingan banyak pemain Timnas yang langsung mengupdate akun twitternya. Nah, pemain yang satu ini tidak mau ketinggalan oleh Irfan Bachdim dan Bepe, sehingga ikut-ikutan mengisi akun fesbuknya.


Silahkan mikir sendiri ...