Wednesday, June 25, 2008

Cerita Radja







Ada Maling !

Waktu kami sekeluarga tinggal di Cikarang Baru, ada kejadian dimana salah seorang tetangga kami kecurian. Semua warga bersiaga, berkerumun di tempat kejadian sambil membawa peralatan perang. Cerita pemilik rumah, si pencuri masih berada di atas loteng rumahnya. Warga yang gemas dengan pencuri tersebut siap-siap menghajarnya. Keramaian di lingkungan tersebut sampai juga ke rumah kami. Saya yang sedang menonton acara televisi segera keluar untuk melihat kejadian tersebut. Berita pencurian tersebut dan ramainya warga terdengar juga ke telinga anak-anak kami. Sasha, putri sulung saya, terlihat cemas dan panik. Saya mencoba menenangkannya, agar dia tidak terlalu takut. Tapi namanya juga anak perempuan akhirnya dia menangis. Sementara adiknya Radja, usianya masih sekitar 4 tahun waktu itu, terlihat bersemangat. Sambil menenangkan Tetehnya, dia mencoba ikut dengan saya menuju lokasi. Saya melarangnya karena harisudah larut. Tapi dia tetap semangat. “Pah... cepet Pah... ambil pistolnya... kita tembak aja malingnya...!!” katanya berulang kali dengan semangat. “Nggak usah... sudah banyak warga” kata saya tenang. “Aku ikut Pah...” katanya lagi. “Jangan dik... kamu disini jagain teteh sama mama aja ya...” aku mencoba membujuknya agar jangan ikut. “Iya deh, aku di rumah aja jagain teteh” akhirnya Radja mengalah. Segera saya berangkat menuju lokasi kejadian untuk melihat-lihat. Kejadian tersebut memancing kedatangan warga dari beberapa blok kompleks perumahan. Hingga larut malam akhirnya pencuri berhasil diringkus warga dan aparat keamanan kompleks. Satu persatu warga akhirnya pulang ke rumah masing-masing. Setelah merasa masalah tersebut sudah selesai, akhirnya saya pamit kepada warga yang ada untuk segera pulang. Setelah sampai di rumah saya kaget, rupanya Radja masih berada di depan rumah sambil bersiap-siap dengan memegang tongkat pemukul bisbol yang terlihat sangat panjang di tangannya yang masih kecil. “Adik sedang apa ? kok belum bobo ? ” tanya saya heran. “Kan, adik disuruh jagain teteh sama papah...” katanya polos. Saya jadi tersenyum, bangga dengan anak laki-laki saya ini.

Jam 10 siang !

Radja duduk dikelas 1, SDIT AL FATH, usianya (katanya) enam tahun panjaaang. Mungkin karena Papanya yang suka iseng, anaknya juga ternyata hampir mirip kelakuannya.

Sejak play group ada saja ulahnya yang bikin kami semua senyum-senyum. Misalnya, kebiasaanya bernyanyi saat berangkat pergi dan pulang sekolah. Ketika kami tinggal di Cikarang, pulang sekolah, sebelum dijemput Bibi, kadangkala Radja sudah pulang duluan sambil bernyanyi di jalan menuju rumah. Kebiasaanya bernyanyi berlanjut sampai TK di Cibinong. Setiap pergi dan pulang sekolah ada saja lagu yang dinyanyikan. Seringnya lagu-lagu milik Group Band Radja (sama dengan namanya). Walaupun syairnya nggak jelas (kadang sudah digubah sendiri), kalau bernyanyi suaranya keras. Ibu-Ibu dan Pembantu di kompleks menjadikannya penunjuk waktu. Kalau mereka mendengar suara Radja bernyanyi, pasti sudah jam 10 siang.

Main kartu

Pernah waktu di TK (saya sedang libur kerja), iseng-iseng saya main ke sekolahnya ingin melihat sedang belajar apa di sekolahnya. Ketika saya masuk ke sekolahnya rupanya sedang istirahat. Dicari di tempat bermain saya tidak menemukannya, iseng-iseng saya tengok ke dalam ruangan kelasnya. Kosong. Tidak terlihat tanda-tandannya. Kemana nih anak ini? Pikir saya. Ketika saya perhatikan dengan teliti, oh... ternyata Radja ada di kolong meja, sedang bermain kartu (kartu Naruto) dengan teman-temannya yang laki-laki.

Aku bisa Mahh...

Suatu ketika, pulang sekolah TK dia masuk ke rumah sambil memberi salam. “Assalamu ‘alaikuuummm...!!!” teriaknya. Dengan semangat Radja langsung cerita, bahwa tadi dia dapat hukuman dari gurunya. Belum sempat kami tanya kenapa di hukum, dia sudah bilang. “Tapi aku bisa Mah...!” katanya semangat. Karuan saja Mamanya tanya, “Bisa apanya..?”. “Hukumannya...” katanya polos. “Gampang Mah... Cuma disuruh begini doang” katanya sambil mencontohkan dengan mengangkat sebelah kakinya sementara tangannya memegang telinga. Tadinya mau marah malah jadi senyum melihat tingkahnya. Adeeee..... adee.... bisa aja kamu, baguslah kalau bisa sih!

Hari pertama di sekolah

Ketika hari pertama masuk SDIT AL FATH, sengaja saya cuti kantor untuk buat film hari pertanya Radja masuk sekolah. Ketika mobil sudah sampai di parkiran sekolah, Radja langsung saja membuka pintu. Tanpa ragu-ragu lagi dia melesat meninggalkan kami, dan masuk ke ruang kelas dan berkenalan dengan teman-temannya. Gampang sekali. Besoknya ketika diantar ke sekolah, melihat mobil kami masuk, teman-teman Radja sudah menyambutnya sambil teriak-teriak “Radja... Radja... Radja...!!!”. Radja keluar mobil dengan gagahnya disambut oleh teman-temannya.

Sudah hampir setahun Radja di kelas 1. Sabtu besok tanggal 28 ada pembagian raport. Hasil ujian kemarin lumayan, karena tidak ada yang di ulang. Selama sekolah di kelas 1, banyak sekali cerita yang membuat kami tersenyum karena tingkahnya.

Makanan di loker

Suatu ketika kami dapat laporan kalau Radja memasukkan bekal makanannya ke loker anak perempuan. Radja sulit sekali makan, di rumah kalau di suruh makan selalu ada penawaran dengan mamanya, berapa suap makan kali ini. Laporan Radja memasukkan bekal makanannya ke dalam loker anak perempuan jelas ketahuan. Sebabnya, cuma bekal Radja yang nasinya dibuat bulat-bulat kecil berjumlah sepuluh bulatan.

Malas makan siang

Masih soal bekal makanan. Akhirnya kami menitipkan pesan kepada Wali Kelasnya, Ibu Neneng, untuk mengingatkan Radja agar menghabiskan bekal makan siangnya. Tetapi, namanya Radja, ada saja akalnya. Suatu ketika setibanya di rumah sehabis pulang sekolah, Radja masuk ke dalam rumah lewat pintu samping. Jalannya mengendap-endap sambil memegang kotak bekal makan siangnya. Rupanya, supaya tidak ketahuan mamanya, Radja mau memasukan kotak bekalnya langsung ke tempat cuci. Usahanya gagal, mamanya memergokinya sedang mengendap-endap sambil memegang kotak bekalnya. Akhirnya, Radja dipaksa menghabiskan bekalnya, makan siang langsung di bawah pengawasan mama. Dasar Radja, dia cuma mesem-mesem saja, malah bercandain mamanya.

Ada PR Mah....

Bulan Mei (Mei 2008) kemarin, suatu hari Radja pulang ke rumah, sambil laporan ke mama kalau dia ada PR membuat tulisan Arab, Bismillah, sebanyak 50 kali. Mama curiga, masak sih PR bikin tulisan Bismillah. Akhirnya, ketika Tetehnya masuk baru jelas kalau Radja dihukum oleh gurunya karena pada waktu Sholat Dzuhur, Radja dan Alif sibuk main sepak bola berdua. Akhirnya mereka disuruh sholat di ruang guru dan dihukum menulis Arab, Bismillah.

Ketua geng ...

Seperti Papanya, kalau Radja ditanya mengenai teman di sekolahnya, dia akan bilang bahwa dia sudah punya anak buah di sekolah. Radja mengatakan kalau di sekolah dia menjadi ketua geng, anak buahnya ada banyak. Kalau mendengar ceritanya kami biasanya cuma senyum saja. Dasar anak-anak!. Suatu hari 2 orang teman sekolahnya main ke rumah. Saya mendapat cerita obrolan Radja dan teman-temannya tersebut dari Pak Heri, tetangga depan rumah kami, yang kebetulan mendengar percakapannya.

Ketika ngobrol dengan temannya, Radja mengatakan kalau dirinya adalah ketua geng di kompleks kami. Karuan saja kedua temannya tidak percaya begitu saja omongannya. Mereka berdua bilang, bohong... bohong... Tapi Radja tetap cuek saja. Kebetulan ada anak tetangga yang lebih besar, namanya Ajie, lewat dengan sepedanya. Kemudian kedua teman Radja menyetopnya,

“eehh... sebentarrr....”

Sambil mengerem sepedanya Aji berhenti, “ Ada apaan...?”

“eh... emang Radja di sini jadi ketua geng...???” tanya mereka

“Nggak....” jawab Ajie polos

“Tuh kan ... Ja, katanya nggak....” protes mereka

“Emang nggak....” kata Radja malah tersenyum dengan gigi depannya yang ompong, sementara Ajie sudah pergi lagi dengan sepeda.

“Kata kamu tadi...?” mereka protes lagi

“Uh... tapi anak buahku disini ada seratusss...!!” kata Radja lagi

“Bo’ong... “ temannya berkata

“Beneran... di RT 01, RT02 “ kata Radja mencoba menyebutkan nama RT sekenanya.

Kebetulan Ajie lewat lagi dengan sepedanya. Kedua teman Radja kembali menyetopnya.

“Eehh... emang bener anak buah Radja di sini ada seratuss ???” kata mereka mencari tahu

“Nggak ada tuh... nggak ada seratus...” jawab Ajie lempeeeng

“Tuh kaaannn.... Nggak ada...” protes temannya lagi

“Emang nggak” jawab Radja tenang sambil cengengesan.

Ibu Neneng Wali Kelas IB

Wali kelas I B, Ibu Neneng, sedang bersiap untuk makan siang. Semangkuk mie yang lezat siap disantap. Tiba-tiba datang serombongan murid laki-laki, Radja dan teman-temannya, mengejarnya dan berteriak memanggilnya. “Bu Neneng... Bu Neneng... Bu Neneng...!” teriak muridnya riuh rendah. “Ada apa anak-anak?” tanya Ibu Guru mereka dengan sabar. “Bu Neneng bawa apaan...?” kata mereka serempak. “Ooh.. ini makan siang Ibu” katanya menjelaskan. “Apaan tuh..?” yang lain menimpali. “Ini Mie... Ibu mau makan dulu yaa...” dengan sabar menjawab pertanyaan murid-muridnya. Sementara murid-muridnya mulai mengerubungi sambil mencoba melihat isi mangkuk yang dibawa guru mereka. “Awas anak-anak nanti jatuh” Bu Neneng mencoba menghindari anak-anak yang mengerumuninya. “Bu, minta mienya dooong...” pinta salah seorang muridnya. “Loh... kalian kalian kan sudah bawa bekal dari rumah. Lebih enak dari mie Ibu kan” Bu Neneng mulai membujuk murid-murid kesayangannya. Sementara yang lain ikut-ikutan meminta makan siang Ibu Guru mereka. “Sudah-sudah yaa... Ibu mau makan siang dulu” jelas guru mereka sambil mencoba menghindari kerusuhan dan kekacauan yang terjadi. Bu Neneng membatalkan niatnya untuk makan di ruang guru karena anak-anak muridnya terus membuntuti. Akhirnya dengan langkah cepat Ibu Neneng bergegas pergi ke ruang Tata Usaha. Lebih aman pikirnya, segera setelah masuk ruangan, Ibu Neneng cepat-cepat mengunci pintu ruangan Tata Usaha. Dasar anak-anak... mereka bukannya pergi dan meninggalkan Ibu Gurunya untuk makan, malah mereka beramai-ramai menuju jendela ruangan tersebut. Sambil melongok ke dalam ruangan, mereka ramai-ramai berteriak-teriak “Bu Neneng peeliit... Bu Neneng peeliiitt... Bu Neneng Peeliitt.....”. Sementara Ibu Guru yang sudah lapar tersebut tak kuasa menahan senyumnya sambil menikmati mie kesukaannya yang hampir dingin. [seperti yang diceritakan Ibu Neneng kepada kami]. Sabar ya Bu.... semoga Ibu Ikhlas mendidik anak-anak kami yang nakal-nakal.

Papa teman aku...

Suatu ketika, entah bagaimana awalnya Radja pernah berkomentar, “Kalau Mama itu guru aku, karena setiap hari ngajarin aku” katanya. “Kalau Papa itu teman aku, soalnya Papa sering main dengan Papa” katanya polos. Mendengar pernyataan seperti itu ada rasa senang dihati ini. Rupanya keakraban kami dengan anak-anak membuat mereka tambah dekat dengan kami.

Lain lagi dengan Sasha, komentarnya, “Teteh seneng punya papa, kayak papa, soalnya kalau Teteh bangun malem-malem mimpi buruk, papah selalu dateng nemenin di kamar teteh”. Mudah-mudahan ya teh, papa dan mama janji akan selalu ada dan menjadi teman buat teteh dan adik.

Ninja

Saya sering membuat mainan untuk Radja. Dibandingkan dengan koleksi hotwheel dan robotnya, sepertinya Radja lebih senang mainan buatan sendiri. Entah itu pedang-pedangan, pistol kayu, pesawat kayu, dan mainan dari batang pisang atau batang pepaya. Karena sering membuat mainan untuknya, Radja kadangkala juga membuat mainannya sendiri. Dua batang lidi akan menjadi pedang buat Radja. Pesawat dari kertas akan disimpannya berhari-hari. Pernah suatu hari Radja ingin menjadi ninja. Akhirnya saya mendandaninya dengan kain sarung sebagai jubah, sapu tangan berubah menjadi topeng, asesories sepeda teteh menjadi tameng, sepasang kaus kaki menjadi sepatu ninja dan pedang kayu berbungkus koran menjadi pedangnya. Melihatnya saja saya ingin tertawa, tetapi sebaliknya buat Radja, dia sangat menikmatinya menjadi ninja. Lari kesana kemari sambil mengeluarkan jurus-jurusnya. Ciiaaaatt.........

Kami diamkan saja anak-anak dengan kesibukannya sendiri. Beberapa waktu kemudian terdengar suara Radja menangis dari dalam kamar tetehnya. Sementara Sasha teriak minta tolong. Nah... apalagi nih? Pikir kami. Saya segera berlari menuju kamar, khawatir terjadi kecelakaan parah. Tiba di kamar, saya kaget tapi juga ingin tertawa melihat ninja sedang tercekik saputangan yang ditarik tetehnya ingin dibuka. Rupanya topeng dari sapu tangan mengganggunya. Radja minta tolong tetehnya untuk membuka topeng tersebut. Tetapi cara membuka simpul saputangan dilakukan tetehnya dengan cara menariknya kebelakang sehingga sang ninja tercekik dan menangis.

Panah buatan Radja

Suatu hari, saat saya sedang baca koran datang Radja membawa beberapa batang lidi dan sebuah sedotan. “Pah, gini cara adik buat panahan” katanya sambil duduk menggelar peralatannya. Saya perhatikan dia menunjukan keahliannya membuat panahan. “Pertama- tama potong lidinya kecil-kecil” sambil tangannya mematahkan sebatang lidi menjadi potongan-potongan kecil. “Hitung pah, sampai sepuluh” katanya membuat potongan lidi menjadi sepuluh buah. “Terus lidinya dimasukin ke sedotan” katanya kemudian sambil memasukkan potongan lidi tadi kedalam ujung sedotan. Saya perhatikan tangannya dengan cekatan memasukan potongan lidi tersebut sehingga menyumbat ujung sedotan. “Nah, jadi deh...” katanya, “Terus mainnya begini nih pah...” katanya sambil merentangkan karet gelang ditelapak tangannya. Karet itu direntangkan sehingga kedua ujungnya masuk ke jari kelingking dan ibu jarinya. Kemudian lidi yang panjang digunakan sebagai media pelontar dengan melintangkan di telapak tangannya dan dimasukanlah sedotan tadi kedalam lidi. Setelah itu dia menarik sedotan hingga karet gelang merentang kebelakang. Setelah dilepaskan sedotan yang ujungnya penuh dengan potongan lidi akan meluncur cepat, sementara lidi panjang tetap tertinggal di tangannya. Jadilah panah buatan Radja. Saya memperhatikan panah buatannya, bukannya lidi yang terlontar seperti mainan kami ketika masih kecil, tetapi justru sedotannya yang terlontar lurus karena tertahan dengan lidi panjang ditangannya. Lumayan juga nih idenya.....

Mah... punya gope nggak ?

Radja berlari ke rumah dan langsung menghampiri mamanya yang sedang merajut. “Mah... punya gope nggak?” katanya. “Gopek ? berapa tuh mama nggak tahu?” mamanya menggodanya. “Itu loh mah... lima ratus, lima ratus maahh...” jawab Radja mencoba menjelaskan. “Oh... lima ratus, buat apa sih dik ?” tanya mamanya. Soalnya anak-anak tidak dibolehkan jajan sembarangan. “Buat ganti bola mah...” jawab Radja. Mamanya bingung, ganti bola, apaaa lagi nih pikirnya. “Loh, ganti bola apa ?” mama heran. “Itu loh Mah, aku tadi sama Mas Aji nendang bola sampai keluar tembok komplek” katanya, “Lalu aku disuruh gantiin sama temen-temen aku” lanjutnya lagi. “Kan harga bolanya go ceng, jadi aku dan Mas Aji patungan dua ribu lima ratus...” mencoba menjelaskan. “Aku sudah punya uang dua ribu dari Oom Aban, tinggal lima ratus lagi” akhirnya selesai informasinya. “Ooh.... ambil sana di mobil” kata mamanya sambil tersenyum.

Kadang kami perlu memahami dunia pergaulan anak-anak, suatu ketika mereka harus menerima sanksi karena kesalahannya. Kami tidak pernah memaksakan agar anak kami diterima di lingkungannya. Sebagai orang tua kami membiarkan anak-anak memahami pergaulan mereka melalui sebuah proses. Walaupun berupa hukuman diantara mereka, tetapi akan menjadikan mereka menjadi sportif dan toleran terhadap teman-temannya.

Nemenin Teteh

Radja dan Sasha punya kamar masing-masing. Kami tidak mau menyatukan mereka dalam satu kamar, sebabnya kami khawatir akan berdampak buruk bagi mereka. Bagi Radja tidak masalah tidur sendiri, tetapi Sasha tidak bisa. Jika ingin tidur, saya selalu menemaninya dahulu, setelah terlelap baru saya pindah kamar. Sasha sering bangun tengah malam, mimpi buruk alasannya. Jadi kalau terbangun selalu memanggil papanya, minta ditemani. Kalau malam Minggu saya sering kumpul dengan tetangga ngobrol. Suatu ketika saya masuk rumah agak larut. Ketika sampai di ruang keluarga, saya melihat Radja sedang tiduran-tiduran di lantai. Tampangnya kesel dan bete. “Loh... adik kok belum bobo, lagi ngapain sendirian di sini ?” tanya saya heran. “Abis, Teteh berisik banget pa... minta ditemenin, aku kan jadi nggak bisa tidur...” katanya sambil cemberut. “Ya... udah sana kamu tidur lagi, biar papa yang nemenin teteh...” saya tidak tega melihatnya.

Saya melihat rasa tanggung jawab dari Radja terhadap kakaknya, entah mungkin kesal karena berisik atau takut dimarahin tetehnya, tapi Radja sudah membuktikan loyalitasnya.

Mandi Hujan

Waktu kecil dulu, hujan merupakan hiburan yang menarik buat saya dan teman-teman. Walaupun kadang dilarang orangtua, namun kami tetap bandel untuk berhujan-hujanan. Main bola, bikin bendungan di got, atau sekedar lari-larian ketika hujan.

Lain lagi ketika saya memiliki anak, khawatir takut mereka sakit. Mungkin orangtua kami juga berpikir yang sama dengan saya sekarang. Suatu ketika hujan turun sangat lebat. Saya melihat anak-anak memandangi hujan dari dalam rumah. Sepengetahuan saya, mereka belum pernah sekalipun mandi hujan. Kasihan juga nih, mereka belum pernah menikmati asyiknya mandi hujan. Akhirnya saya menawari Radja, “Dik, mau main hujan-hujanan nggak sama papa ?” ajak saya. “Emang boleh pah...?” katanya polos. Ya ampun, dalam hatiku, kasihan sekali anakku ini. “Boleh deh, yuk kita main di taman belakang, sekalian ajak teh Sasha” ajak saya lagi. Akhirnya kami bertiga main hujan-hujanan dibelakang rumah. Saya perhatikan kegembiraan mereka berdua ketika air hujan membasahi tubuh mereka berdua. Mirip kegembiraan saya waktu kecil dulu.

Belajar dan Mengaji

Setiap hari, selesai sholat maghrib sampai Isya’, Radja dan Sasha belajar mengaji dengan mama. Biasanya, sebelum belajar iqro’ Radja diwajibkan menghapalkan surah Alqur’an. Sementara Sasha sehabis menghapalkan hapalan Qur’annya langsung mengaji menyelesaikan proyek khatamnya. Setelah rutinitas selesai baru anak-anak belajar buat sekolah esok harinya. Kadang kalau sudah bete, Radja harus menangis sambil mengaji atau mengerjakan PR. Makanya agar mereka tidak stress saya selalu datang menggoda mereka sampai mereka tertawa senang. Sebenarnya, untuk urusan belajar saya dan istri tidak terlalu memaksa anak-anak. Kalau mereka tidak ada tugas sekolah mereka boleh nonton televisi. Soal tontonan juga kita berdua selalu kontrol, apalagi saat ini kondisi tayangan televisi sangat memprihatinkan. Kalau acara televisi tidak ditonton biasanya teteh baca buku. Sementara adiknya minta di ceritakan. Tema cerita dipilih sendiri, apa saja yang ingin dia ketahui selalu minta diceritakan. Pernah hampir setiap hari Radja minta di cerita tentang dinosaurus. Cerita tentang papanya ketika kecil juga jadi favorit anak-anak. Umumnya cerita lucu sangat digemari mereka berdua.

Permainan Radja

Kalau siang hari ketika saya sibuk berkebun, Radja selalu ikut, entah menanam pohon, main bola, main layang-layang, main bulutangkis, atau bikin alat permainannya sendiri. Soal yang satu ini Radja cukup kreatif, pernah saya diajari cara membuat panah dengan sedotan dan lidi. Bentuknya tidak seperti yang biasa saya buat ketika kecil, tetapi memiliki fungsi yang sama sebagai panah. Pernah saya membelikannya pedang mainan, tetapi hanya sebentar dimainkannya. Sebagai gantinya saya buatkan dari kayu atau ranting pohon, justru mainan seperti ini yang sering awet dimainkannya.

Main Bola

Kegiatan bersama anak-anak ini sangat saya nikmati. Rupanya Radja dan Sasha juga demikian, pernah suatu kali saya menyuruh Radja bermain dengan teman-temannya. Tidak lama Radja sudah kembali menghampiri saya. Ketika di tanya kenapa tidak main dengan temannya dia jawab bahwa temannya tidak mau bermain bola dengannya karena Radja paling kecil. Teman-temannya kalau menendang bola keras sekali, sehingga mereka takut kalau Radja ikutan akan membahayakannya. Akhirnya saya Cuma bilang kalau kamu mau di ajak main bola, kamu harus jago dulu main bolanya. Akhirnya saya mengajarinya bermain bola.

Berenang

Radja menderita alergi yang dampaknya mengganggu kesehatannya. Dokter mendiagnosa Radja menderita ashmatis. Setelah terapi obat, dokter menyarankan agar proses penyembuhannya dengan berlatih renang. Akhirnya kami berdua mendaftarkannya masuk klub renang tempat tetehnya. Radja senang sekali main air, jadi ketika di ajak latihan renang dia antusias sekali. Setiap minggu 3 kali latihan. Setiap pulang sekolah, selesai makan siang, Mama selalu mengantarnya ke kolam renang. Pulang kerja saya selalu menanyakan bagaimana perkembangannya, kebetulan Mama mantan perenang. Masalah awalnya sama seperti Radja, sampai akhirnya jadi atlit renang. Mama paling semangat mengantar Radja, bahkan ikut-ikutan nyebur ke kolam. Mama lapor kalau saat latihan adik bercanda terus. Biarlah, masih kecil belum ngerti, begitu alasan saya. Mama cerita kalau disuruh belajar ambil napas oleh pelatihnya, Pak Romdhon, awalnya benar. Tetapi kalau ditinggal pelatihnya menangani murid yang lain. Radja mulai bikin ulah, tiba-tiba dia malah jungkir balik di dalam air atau kakinya muncul dipermukaan sementara kepalanya di dalam air. Ketika ditegur mama atau pelatihnya, dia cuma cengar-cengir saja. Dasar...!!!!

Pilih Wasitnya

Ketika kami sekeluarga menonton pertandingan bola di televisi, Radja tanya ke saya,

“Papah jagoin yang merah [tim dengan baju warna merah] atau yang kuning ?” tanya Radja

“Papah pilih tim merah” jawab saya

“Teteh yang kuning” sela teteh ikutan menjagokan tim yang bertanding

Setelah bertanya Radja diam kembali. [mungkin merasa nggak kebagian karena tim satunya dipilih teteh]

“Kalau adik pilih yang merah atau yang kuning ?” tanya saya kemudian

“Hmmm...... [bingung] “

“Kalau aku pilih yang baju hitam !” katanya semangat

Kami bertiga tertawa, sementara Radja masih belum mengerti maksudnya.

“Dik, kalau yang hitam itu sih wasit....!” kata teteh sambil tertawa

Radja tetap cuek bebek nggak ngerti.

Aku ditipu Mah...

Gigi depan Radja yang bawah tanggal. Ketika gigi barunnya tumbuh, posisinya tidak rata. Kami khawatir kalau gigi serinya tanggal, nantinya tumbuhnya tidak rata seperti yang bawahnya. Akhirnya kami membujuknya untuk pergi ke dokter gigi untuk mencabut gigi serinya itu. Kondisi kedua gigi seri Radja masih bagus, karena Radja rajin gosok gigi dan pantangan makan permen oleh kami. Awalnya Radja keberatan karena pernah melihat tetehnya menangis ketika dicabut giginya. Setelah dibujuk dengan sebuah hot wheel untuk masing-masing gigi yang dicabut, akhirnya mau juga dia. Proses pencabutan gigi selesai dengan selamat dan sukses. Dua buah hot wheel menjadi saksi transaksi tersebut. Setelah beberapa bulan Radja mengalami ke-ompongannya. Teteh sering menggodanya, katanya kalau adiknya banyak omong teteh musti bawa payung. [seperti aksi Tukul di acara empat mata]. Karena sudah lama, giginya belum tumbuh, suatu ketika adik bilang ke mama,

“Wah.... Mah, aku ketipu nih” katanya

“Ketipu...? Ketipu sama siapa ?” tanya mama heran mendengarnya

“Sama dokter...” katanya polos

“Dokter ...? dokter siapa dik ?” tanya mama masih belum mengerti

“Itu loh mah... sama dokter gigi aku...” katanya kemudian

“Loh kenapa dengan dokter gigi ?” mamanya masih bingung

“Ini loh Mah... “ katanya sambil nyengir memperlihatkan kedua giginya yang masih ompong

“Katanya gigiku tumbuh lagi, kok udah lama masih ompong juga” Radja protes

“Oh, iya.... bener juga ya...”

“Duh ..... jangan-jangan sampai tua kamu tetap ompong seperti itu” canda mamanya sambil tertawa.

No comments: